alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Ada Sasana Dilanggar Bila Penari Rangda Tembus Tertusuk Keris

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kagama Bali bersama seniman tari menggelar diskusi terkait Sesana Tarian Rangda, Kamis (4/2) di Denpasar. Diskusi soal pakem atau aturan Tarian Rangda dilakukan dalam persiapan webinar yang akan diselenggarakan Sabtu mendatang, serta terkait adanya sejumlah penari Rangda tertusuk tembus hingga meninggal saat masolah (pementasan).

Dalam diskusi tersebut, hadir  Ketua Kagama Bali IGN Agung Diatmika, dan salah satu pembicara webinar, Mangku Nyoman Ardika alias Sengap.

Mangku Nyoman Ardika menjelaskan, zaman dahulu seorang penari Rangda harus melakukan Pawintenan khusus terlebih dulu, sebelum memulai menggeluti dunia tari tersebut. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang di luar dugaan, apalagi sampai memakan korban seperti tertusuk keris dan sebagainya. “Dahulu harus melakukan proses Pawintenan baru mau biasanya menarikan Rangda, sekarang kebanyakan lalai,” jelasnya. 

Pria asli Tabanan ini menjelaskan, Rangda sebagai hiburan berbeda konsepnya dengan Rangda yang digunakan sebagai Napak Pratiwi. Maka harus diketahui dimana sebaiknya boleh Ngunying, maupun nusuk Rangda. Sebab, masing-masing daerah memiliki tradisi, pantangan dan aturan tersendiri dalam pelaksanaan Ngunying atau nusuk rangda. 

“Rangda dibuat ada sebagai hiburan, itu ada konsep Nguying, dimana boleh nebek Rangda, dimana tidak boleh. Masing-masing daerah memiliki proses berbeda-beda, kalau mau matebek seperti di daerah Tabanan dibuka topengnya,” sambung pria yang akrab dikenal Sengap tersebut.

Ia menyampaikan, sebagai penari Rangda ada ritual yang harus dilakukan, baik yang memang ngiring atau kebutuhan lainnya. Semua dalam prosesnya ada aturannnya, salah satu yang mendasar disebutkan jika sebelum 17 tahun, sebaiknya jangan dulu menarikan Rangda. Hal itu mengantisipasi adanya seseorang penari Rangda yang asal saluk. 

“Pragina memiliki tiga konsep, yang pertama itu pas dan layak. Kedua memiliki sebuah aura atau yang disebut dengan taksu, dan yang ketiga penari Rangda itu memiliki wawasan. Ini akan mematangkan fungsi ritual, dalam hal ini Rangda konteks sakral. Sebab, semua simbol dalam Rangda ada maknanya. Seperti ludahnya menjulur lambang persidian,” tegasnya. 

Ditambahkannya, terdapat siapa saja yang boleh memelihara (koleksi) Rangda, siapa yang tidak. Jika Rangda sebagai barang seni sah-sah saja ditaruh atau dipajang. Namun jangan saja digunakan ritual, sebab Rangda yang sakral memiliki sasolahan sesuai sesana Tari Rangda. 

“Jika Rangda masolah terakhir pasti Napak Pratiwi, sesuhaan memargi di kalangan, setelah itu menuju ke Setra atau perempatan. Saya sangat mendukung generasi muda belajar menari, cuma diposisikan pada tempatnya yang pas, fungsikan, dan hindari untuk hal yang lain berujung kebablasan. Sebab,bada wilayah dimana boleh Ngurek diri, dan dimana Ngurek Rangda,” ungkap Sengap. 

Ia menyampaikan, biasanya Rangda yang bisa ditusuk saat pentas ada sebuah pawisik (petunjuk gaib). Sebelum ada pawisik, dengan cara sekarin (diisi bunga), kalau keesokan harinya layu, jangan dilakukan atau tidak kalugra (restu). Jika bunganya utuh, itu artinya bisa. “Rangda sejak zaman dahulu sebagai panyomia, tirtanya untuk ditunas, dan dilakukan panyamblehan,” ujarnya. 

Sementara Sekretaris DPP Peradah Bali, Putu Eka Mahardika menyebutkan, beberapa daerah sempat adanya musibah penari  Rangda tertusuk saat Ngurek. Bahka,  beberapa kali sempat sampai merenggut korban jiwa. 

“Yang anehnya para orang tua korban bangga. Saya kira kurang nyambung, dan perlu adanya pemahaman. Agar jangan sampai pentas kembali ke wilayah yang berisiko. Sebab, ada wilayah yang pantang dilakukannya pementasan Ngunying, Ngurek atau nusuk Rangda,” tutupnya. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Kagama Bali bersama seniman tari menggelar diskusi terkait Sesana Tarian Rangda, Kamis (4/2) di Denpasar. Diskusi soal pakem atau aturan Tarian Rangda dilakukan dalam persiapan webinar yang akan diselenggarakan Sabtu mendatang, serta terkait adanya sejumlah penari Rangda tertusuk tembus hingga meninggal saat masolah (pementasan).

Dalam diskusi tersebut, hadir  Ketua Kagama Bali IGN Agung Diatmika, dan salah satu pembicara webinar, Mangku Nyoman Ardika alias Sengap.

Mangku Nyoman Ardika menjelaskan, zaman dahulu seorang penari Rangda harus melakukan Pawintenan khusus terlebih dulu, sebelum memulai menggeluti dunia tari tersebut. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang di luar dugaan, apalagi sampai memakan korban seperti tertusuk keris dan sebagainya. “Dahulu harus melakukan proses Pawintenan baru mau biasanya menarikan Rangda, sekarang kebanyakan lalai,” jelasnya. 

Pria asli Tabanan ini menjelaskan, Rangda sebagai hiburan berbeda konsepnya dengan Rangda yang digunakan sebagai Napak Pratiwi. Maka harus diketahui dimana sebaiknya boleh Ngunying, maupun nusuk Rangda. Sebab, masing-masing daerah memiliki tradisi, pantangan dan aturan tersendiri dalam pelaksanaan Ngunying atau nusuk rangda. 

“Rangda dibuat ada sebagai hiburan, itu ada konsep Nguying, dimana boleh nebek Rangda, dimana tidak boleh. Masing-masing daerah memiliki proses berbeda-beda, kalau mau matebek seperti di daerah Tabanan dibuka topengnya,” sambung pria yang akrab dikenal Sengap tersebut.

Ia menyampaikan, sebagai penari Rangda ada ritual yang harus dilakukan, baik yang memang ngiring atau kebutuhan lainnya. Semua dalam prosesnya ada aturannnya, salah satu yang mendasar disebutkan jika sebelum 17 tahun, sebaiknya jangan dulu menarikan Rangda. Hal itu mengantisipasi adanya seseorang penari Rangda yang asal saluk. 

“Pragina memiliki tiga konsep, yang pertama itu pas dan layak. Kedua memiliki sebuah aura atau yang disebut dengan taksu, dan yang ketiga penari Rangda itu memiliki wawasan. Ini akan mematangkan fungsi ritual, dalam hal ini Rangda konteks sakral. Sebab, semua simbol dalam Rangda ada maknanya. Seperti ludahnya menjulur lambang persidian,” tegasnya. 

Ditambahkannya, terdapat siapa saja yang boleh memelihara (koleksi) Rangda, siapa yang tidak. Jika Rangda sebagai barang seni sah-sah saja ditaruh atau dipajang. Namun jangan saja digunakan ritual, sebab Rangda yang sakral memiliki sasolahan sesuai sesana Tari Rangda. 

“Jika Rangda masolah terakhir pasti Napak Pratiwi, sesuhaan memargi di kalangan, setelah itu menuju ke Setra atau perempatan. Saya sangat mendukung generasi muda belajar menari, cuma diposisikan pada tempatnya yang pas, fungsikan, dan hindari untuk hal yang lain berujung kebablasan. Sebab,bada wilayah dimana boleh Ngurek diri, dan dimana Ngurek Rangda,” ungkap Sengap. 

Ia menyampaikan, biasanya Rangda yang bisa ditusuk saat pentas ada sebuah pawisik (petunjuk gaib). Sebelum ada pawisik, dengan cara sekarin (diisi bunga), kalau keesokan harinya layu, jangan dilakukan atau tidak kalugra (restu). Jika bunganya utuh, itu artinya bisa. “Rangda sejak zaman dahulu sebagai panyomia, tirtanya untuk ditunas, dan dilakukan panyamblehan,” ujarnya. 

Sementara Sekretaris DPP Peradah Bali, Putu Eka Mahardika menyebutkan, beberapa daerah sempat adanya musibah penari  Rangda tertusuk saat Ngurek. Bahka,  beberapa kali sempat sampai merenggut korban jiwa. 

“Yang anehnya para orang tua korban bangga. Saya kira kurang nyambung, dan perlu adanya pemahaman. Agar jangan sampai pentas kembali ke wilayah yang berisiko. Sebab, ada wilayah yang pantang dilakukannya pementasan Ngunying, Ngurek atau nusuk Rangda,” tutupnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/