alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Tagih Utang Gaya Preman, 1 Wanita dan 4 Anggota Ormas Diringkus

DENPASAR, BALI EXPRESS — Pelaku premanisme berhasil diamankan Reserse Kriminal Umum Polda Bali. Hal itu diungkap melalui rilis pers, Kamis (4/3) di Mapolda Bali. 

Aksi kejahatan premanisme berupa pemerasan dan ancaman disertai perampasan barang tersebut, dilakukan oleh sejumlah anggota organisasi masyarakat (Ormas) dengan motif untuk menagih utang.

Sebanyak empat orang laki-laki dan seorang perempuan diamankan. Mereka adalah Bagus Made Putra Perdana alias Ajik, 29, I Putu Wira Sanjaya alias Wira Bagong, 28, I Made Ary Santa Dwipayana, 28, dan I Gede Wira Guna, 26, dan satu wanita yang memerintahkan mereka, yaitu Ni Kadek Okta Riani, 30.

Peristiwa tersebut berawal dari kedatangan para pelaku ke rumah korban I Komang Ery Darma Yuda, di Jalan Muding Buit, Gang Muding Perdana II, Banjar Muding Kelod, Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Senin (8/1) sekitar pukul 20.30 Wita. 

Tujuan mereka guna menagih utang sebesar Rp 300 juta kepada istri korban bernama Luh Putu Yanita Oktapristyanti Yuda. 

“Mereka datang menagih, karena istri korban memiliki utang arisan kepada si pemberi kuasa (Riani),” tandas Direktur Reskrimum Polda Bali Kombespol Djuhandani Raharjo Puro.

Sempat tejadi adu argumentasi antara kedua belah pihak, namun tak kunjung membuahkan hasil. Akan tetapi usaha para preman ini tidak berhenti sampai disitu. Mereka yang melihat sebuah mobil Honda CRV warna hitam dengan nomor polisi DK 693 KN terparkir di halaman rumah, berniat menyita mobil tersebut sebagai jaminan. 

Korban pun menyampaikan bahwa mobil itu bukanlah miliknya. Ery lantas menghubungi kakaknya agar menjelaskan hal itu kepada Ajik. Pelaku yang menerima penjelasan bahwa mobil itu milik teman kakak korban dan hanya dititipkan disana, tetap memaksa sambil mengatakan kepada kakak korban, tidak mau tahu lantaran adiknya punya utang pada bosnya. Mobil itu akan saya dijadikan jaminan untuk utang. “Korban sempat mau pergi karena terus dipaksa dan merasa tertekan,” tutur Djuhandani.

Melihat korban hendak pergi, para pelaku berbadan besar itu menghentikannya. Ada yang memegang kedua tangan dan bahkan ada yang mencekik leher Ery dari belakang sambil menyeretnya masuk lagi kedalam rumah. 

Ajik lantas memaksa korban untuk membuat pernyataan bersedia menyerahkan mobil sebagai jaminan utang. Jika tidak mau, Ajik mengancam akan menembak kaki Ery. Karena tidak bisa melawan dan merasa tertekan, korban terpaksa menulis surat pernyataan itu. 

Pelaku Wira Bagong lalu menghubungi petugas mobil derek dan tukang kunci agar mobil dapat diambil. “Setelah berhasil memaksa korban, si Ajik ini menghubungi bosnya Riani lewat video call sambil bilang dapat mobil sebagai jaminan, dan tindakan itu disetujui oleh Riani,” pungkasnya.

Tak terima mobilnya diambil, I Made Jaya Saputra, 57, selaku pemilik melaporkan kejadian itu ke Polda Bali. Selanjutnya dengan komitmen membuat wilayah Bali yang aman dari aksi premanisme, Tim Resmob Polda Bali melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil meringkus para pelaku di rumah Ajik Jalan Werkudara, Gang III Nomor 5, Banjar Tampa, Desa Dangin Puri Kauh, Denpasar Utara.

Dari hasil pemeriksaan, ternyata Ajik merupakan seorang residivis dengan kasus membuat berita bohong (hoax) di media sosial untuk menyudutkan polisi. Mereka setuju untuk menagih utang karena akan diberikan komisi sebesar Rp 5 juta oleh Riani. 

Aksi mereka juga menyebabkan pemilik mobil (pelapor) mengalami kerugian mencapai Rp 165 juta. Korban Ery kini terus merasa tertekan dan takut hingga menyebabkannya tinggal berpindah-pindah ke rumah temannya.

Akibat perbuatannya, mereka terancam dikenakan Pasal 368 KUHP junto Pasal 55 KUHP dengan hukuman pidana paling lama 9 Tahun. Djuhandani menegaskan pihaknya tidak akan segan menindak pelaku premanisme untuk menjaga wilayah Bali tetap aman. “Bila perlu kami berikan tindakan tegas terukur, hingga kami antar ke UGD,” tegasnya. (ges)


DENPASAR, BALI EXPRESS — Pelaku premanisme berhasil diamankan Reserse Kriminal Umum Polda Bali. Hal itu diungkap melalui rilis pers, Kamis (4/3) di Mapolda Bali. 

Aksi kejahatan premanisme berupa pemerasan dan ancaman disertai perampasan barang tersebut, dilakukan oleh sejumlah anggota organisasi masyarakat (Ormas) dengan motif untuk menagih utang.

Sebanyak empat orang laki-laki dan seorang perempuan diamankan. Mereka adalah Bagus Made Putra Perdana alias Ajik, 29, I Putu Wira Sanjaya alias Wira Bagong, 28, I Made Ary Santa Dwipayana, 28, dan I Gede Wira Guna, 26, dan satu wanita yang memerintahkan mereka, yaitu Ni Kadek Okta Riani, 30.

Peristiwa tersebut berawal dari kedatangan para pelaku ke rumah korban I Komang Ery Darma Yuda, di Jalan Muding Buit, Gang Muding Perdana II, Banjar Muding Kelod, Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Senin (8/1) sekitar pukul 20.30 Wita. 

Tujuan mereka guna menagih utang sebesar Rp 300 juta kepada istri korban bernama Luh Putu Yanita Oktapristyanti Yuda. 

“Mereka datang menagih, karena istri korban memiliki utang arisan kepada si pemberi kuasa (Riani),” tandas Direktur Reskrimum Polda Bali Kombespol Djuhandani Raharjo Puro.

Sempat tejadi adu argumentasi antara kedua belah pihak, namun tak kunjung membuahkan hasil. Akan tetapi usaha para preman ini tidak berhenti sampai disitu. Mereka yang melihat sebuah mobil Honda CRV warna hitam dengan nomor polisi DK 693 KN terparkir di halaman rumah, berniat menyita mobil tersebut sebagai jaminan. 

Korban pun menyampaikan bahwa mobil itu bukanlah miliknya. Ery lantas menghubungi kakaknya agar menjelaskan hal itu kepada Ajik. Pelaku yang menerima penjelasan bahwa mobil itu milik teman kakak korban dan hanya dititipkan disana, tetap memaksa sambil mengatakan kepada kakak korban, tidak mau tahu lantaran adiknya punya utang pada bosnya. Mobil itu akan saya dijadikan jaminan untuk utang. “Korban sempat mau pergi karena terus dipaksa dan merasa tertekan,” tutur Djuhandani.

Melihat korban hendak pergi, para pelaku berbadan besar itu menghentikannya. Ada yang memegang kedua tangan dan bahkan ada yang mencekik leher Ery dari belakang sambil menyeretnya masuk lagi kedalam rumah. 

Ajik lantas memaksa korban untuk membuat pernyataan bersedia menyerahkan mobil sebagai jaminan utang. Jika tidak mau, Ajik mengancam akan menembak kaki Ery. Karena tidak bisa melawan dan merasa tertekan, korban terpaksa menulis surat pernyataan itu. 

Pelaku Wira Bagong lalu menghubungi petugas mobil derek dan tukang kunci agar mobil dapat diambil. “Setelah berhasil memaksa korban, si Ajik ini menghubungi bosnya Riani lewat video call sambil bilang dapat mobil sebagai jaminan, dan tindakan itu disetujui oleh Riani,” pungkasnya.

Tak terima mobilnya diambil, I Made Jaya Saputra, 57, selaku pemilik melaporkan kejadian itu ke Polda Bali. Selanjutnya dengan komitmen membuat wilayah Bali yang aman dari aksi premanisme, Tim Resmob Polda Bali melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil meringkus para pelaku di rumah Ajik Jalan Werkudara, Gang III Nomor 5, Banjar Tampa, Desa Dangin Puri Kauh, Denpasar Utara.

Dari hasil pemeriksaan, ternyata Ajik merupakan seorang residivis dengan kasus membuat berita bohong (hoax) di media sosial untuk menyudutkan polisi. Mereka setuju untuk menagih utang karena akan diberikan komisi sebesar Rp 5 juta oleh Riani. 

Aksi mereka juga menyebabkan pemilik mobil (pelapor) mengalami kerugian mencapai Rp 165 juta. Korban Ery kini terus merasa tertekan dan takut hingga menyebabkannya tinggal berpindah-pindah ke rumah temannya.

Akibat perbuatannya, mereka terancam dikenakan Pasal 368 KUHP junto Pasal 55 KUHP dengan hukuman pidana paling lama 9 Tahun. Djuhandani menegaskan pihaknya tidak akan segan menindak pelaku premanisme untuk menjaga wilayah Bali tetap aman. “Bila perlu kami berikan tindakan tegas terukur, hingga kami antar ke UGD,” tegasnya. (ges)


Most Read

Artikel Terbaru

/