alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

IDI Denpasar Sebut Penerima Vaksin Tetap Berpotensi Terpapar Covid-19

DENPASAR, BALI EXPRESS- Terkait adanya pemberitaan adanya penerima vaksin covid-19 yang meninggal dunia pasca menerima vaksin covid-19, Ketua IDI Denpasar, dr. I Ketut Widiyasa, MPH, mengatakan kemungkinan hal tersebut bisa terjadi.

 

Hal ini dilanjutkannya karena vaksinasi dilakukan bertujuan untuk merangsang terbentuknya antibodi terhadap satu penyakit tertentu di dalam tubuh manusia. Untuk membentuk antibodi diperlukan waktu. “Karena itu, kekebalan tubuh tidak langsung tercipta pasca penyuntikan pertama, kalaupun ada sangatlah rendah, sehingga penerima vaksin rentan terjangkit virus” jelasnya melalui saluran teleponnya Senin (5/3).

 

Karena itu dr. Widiyasa menegaskan dalam rentang waktu dua minggu setelah disuntikkan vaksin dosis kedua, kondisi tubuh seseorang masih sangat rawan terpapar oleh virus. Vaksin COVID-19 membutuhkan dua kali dosis penyuntikan. Suntikan pertama ditujukan memicu respons kekebalan awal. Sedangkan suntikan kedua untuk menguatkan respons imun yang terbentuk.

 

Oleh karena itu, meskipun seseorang sudah menerima dua dosis vaksin covid19, dr.Widiyasa berharap masyarakat tetap berharap masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan, yakni, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjauhi kerumunan.

Baca Juga :  Peran Tokoh Masyarakat dan Media Penting dalam Menanggulangi Pandemi

 

Selain itu masyarakat juga harus tetap menjaga kesehatan sehingga daya tahan tubuh tetap dalam kondisi fit. “Karena dalam rentang waktu 28 hari di dalam tubuh masih dalam proses pembentukkan antibodi, sehingga untuk menjaga asupan nutriai harus tetap dilakukan untuk kondisi tubuh yang fit,” tambahnya.

 

Terkait adanya penerima vaksinasi yang terpapar covid-19 hingga meninggal dunia, hingga saat ini dr. Widiyasa menyatakan belum ada laporannya. “Hingga saat ini, kejadian penerima vaksinasi yang meninggal dunia pasca imunisasi di Bali laporannya kejadiannya belum ada,” tegasnya.

 

Namun untuk potensi penerima vaksinasi covid-19 yang kemudian terpapar covid-19 dan hingga meninggal dunia, dr. Widiyasa mengatakan hal itu bisa saja terjadi. 

 

Namun demikian, untuk kasus Covid-19 yang hingga menimbulkan gejala yang berat pada pasien pasca vaksinasi, dr.Widiyasa mengatakan hal itu bisa terjadi karena adanya beberapa penyebab, pertama virus covid-19 mungkin saja sudah masuk dalam tubuh pasien sebelum vaksinasi dilakukan. 

Baca Juga :  Tim Penanganan Penyakit Babi di Badung Cari Lahan untuk “Kuburan” Babi

 

Yang kedua kondisi dimana antibodi pada tubuh pasien belum terbentuk dengan sempurna, namun pasien sudah melakukan aktivitas tanpa menerapkan protokol kesehatan. “Dan yang ketiga, kondisi tubuh pasien tidak fit dan memiliki penyakit bawaan sehingga menyebabkan kondisi menurun, hal inilah yang bisa menyebabkan gejala Covid-19 yang dialami pasien dapat masuk pada dalam stadium parah,” paparnya.

 

Untuk kegiatan vaksinasi ini, dr. Widiyasa pihaknya sangat mendukung upaya pemerintah dalam mempercepat vaksinasi, karena kekebalan komunal sangat dibutuhkan saat ini. “Vaksinasi sangat diperlukan untuk kondisi saat ini, karena bisa menciptakan antibodi, namun kami tetap berpesan  kepada masyarakat, meskipun sudah mendapatkan vaksinasi namun ketaatan prokes perlu ditingkatkan lagi, sehingga resiko tertular Covid-19 selama menunggu proses tubuh membentuk antibodi yang cukup dapat tercapai dan jika pun kemudian terjangkit virus, gejala yang dialami  tidak terlalu parah,” ungkapnya. 


DENPASAR, BALI EXPRESS- Terkait adanya pemberitaan adanya penerima vaksin covid-19 yang meninggal dunia pasca menerima vaksin covid-19, Ketua IDI Denpasar, dr. I Ketut Widiyasa, MPH, mengatakan kemungkinan hal tersebut bisa terjadi.

 

Hal ini dilanjutkannya karena vaksinasi dilakukan bertujuan untuk merangsang terbentuknya antibodi terhadap satu penyakit tertentu di dalam tubuh manusia. Untuk membentuk antibodi diperlukan waktu. “Karena itu, kekebalan tubuh tidak langsung tercipta pasca penyuntikan pertama, kalaupun ada sangatlah rendah, sehingga penerima vaksin rentan terjangkit virus” jelasnya melalui saluran teleponnya Senin (5/3).

 

Karena itu dr. Widiyasa menegaskan dalam rentang waktu dua minggu setelah disuntikkan vaksin dosis kedua, kondisi tubuh seseorang masih sangat rawan terpapar oleh virus. Vaksin COVID-19 membutuhkan dua kali dosis penyuntikan. Suntikan pertama ditujukan memicu respons kekebalan awal. Sedangkan suntikan kedua untuk menguatkan respons imun yang terbentuk.

 

Oleh karena itu, meskipun seseorang sudah menerima dua dosis vaksin covid19, dr.Widiyasa berharap masyarakat tetap berharap masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan, yakni, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjauhi kerumunan.

Baca Juga :  Mendukung Pembagian 300 Ribu Paket Obat Covid-19

 

Selain itu masyarakat juga harus tetap menjaga kesehatan sehingga daya tahan tubuh tetap dalam kondisi fit. “Karena dalam rentang waktu 28 hari di dalam tubuh masih dalam proses pembentukkan antibodi, sehingga untuk menjaga asupan nutriai harus tetap dilakukan untuk kondisi tubuh yang fit,” tambahnya.

 

Terkait adanya penerima vaksinasi yang terpapar covid-19 hingga meninggal dunia, hingga saat ini dr. Widiyasa menyatakan belum ada laporannya. “Hingga saat ini, kejadian penerima vaksinasi yang meninggal dunia pasca imunisasi di Bali laporannya kejadiannya belum ada,” tegasnya.

 

Namun untuk potensi penerima vaksinasi covid-19 yang kemudian terpapar covid-19 dan hingga meninggal dunia, dr. Widiyasa mengatakan hal itu bisa saja terjadi. 

 

Namun demikian, untuk kasus Covid-19 yang hingga menimbulkan gejala yang berat pada pasien pasca vaksinasi, dr.Widiyasa mengatakan hal itu bisa terjadi karena adanya beberapa penyebab, pertama virus covid-19 mungkin saja sudah masuk dalam tubuh pasien sebelum vaksinasi dilakukan. 

Baca Juga :  Tim Penanganan Penyakit Babi di Badung Cari Lahan untuk “Kuburan” Babi

 

Yang kedua kondisi dimana antibodi pada tubuh pasien belum terbentuk dengan sempurna, namun pasien sudah melakukan aktivitas tanpa menerapkan protokol kesehatan. “Dan yang ketiga, kondisi tubuh pasien tidak fit dan memiliki penyakit bawaan sehingga menyebabkan kondisi menurun, hal inilah yang bisa menyebabkan gejala Covid-19 yang dialami pasien dapat masuk pada dalam stadium parah,” paparnya.

 

Untuk kegiatan vaksinasi ini, dr. Widiyasa pihaknya sangat mendukung upaya pemerintah dalam mempercepat vaksinasi, karena kekebalan komunal sangat dibutuhkan saat ini. “Vaksinasi sangat diperlukan untuk kondisi saat ini, karena bisa menciptakan antibodi, namun kami tetap berpesan  kepada masyarakat, meskipun sudah mendapatkan vaksinasi namun ketaatan prokes perlu ditingkatkan lagi, sehingga resiko tertular Covid-19 selama menunggu proses tubuh membentuk antibodi yang cukup dapat tercapai dan jika pun kemudian terjangkit virus, gejala yang dialami  tidak terlalu parah,” ungkapnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/