alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Kata Koster, Pura Samuantiga Selesaikan Persoalan Masyarakat Bali

DENPASAR, BALI EXPRESS – Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi  persiapan upacara Ida Bhatara Turun Kabeh lan Karya  Padudusan  Agung di Pura Samuantiga di Desa Adat  Bedulu,  Kecamatan Blahbatuh,  Gianyar,  yang puncaknya  berlangsung  Minggu 17 April 2022.

Apresiasi  Gubernur ini disampaikan saat menerim audensi Prajuru Pura Kahyangan  Jagat Samuantiga, yang dipimpin Bendesa Pura Samuantiga, I Gusti Ngurah Made Serana, di Jaya Sabha,  Sabtu (2/4).

Audensi ini juga diikuti Panglingsir Pura Wayan Patera, Wakil Bendesa Pura Samuantiga Wayan Jumat Sunantara, Bendahara I Gusti Ngurah Arya, Sekretaris Saba Pura Wayan Sudarsana, serta Perbekel Bedulu Putu Ariawan bersama staf I Wayan Gara.

Gubernur Koster didampingi Kadis PMA Provinsi Bali I GAK Kartika Jaya Seputra dan Karo Pemerintahan dan Kesra Setda Prov Bali Ketut Sukra Negara menegaskan,  keberadaan Pura Samuantiga di Bedulu sangat penting terkait keberadaan desa adat yang hingga kini masih tetap bertahan.

Pura Samuantiga yang berlokasi di wilayah Desa Adat Bedulu, Kecamatan Blahbatuh ini menjadi tempat yang terpilih untuk melaksanakan pertemuan atau pesamuan, guna menyelesaikan persoalan sosial religius masyarakat Bali pada abad ke-10.

Dalam pertemuan itu, kata Koster, hadir berbagai perwakilan sekte di masa Bali kuna. Dalam pertemuan itu didatangkan Mpu Kuturan, seorang ahli tata negara asal Kediri, Jawa Timur. Dalam pertemuan atau pesamuan yang diinisiasi Raja Udayana ini, akhirnya tercetus desa adat dengan Pura Kahyangan Tiga, serta terwujud rekonsiliasi dalam kehidupan masyarakat sampai di tingkat keluarga dengan palinggih rong telu.

Perjuangan dan jasa Mpu Kuturan ini pula, diakui Gubernur Wayan Koster, menjadi motivasinya dalam membangun Bali sebagai orang nomor satu di Bali. Koster juga mengaku, dalam membangun Bali sebagai gubernur, sengaja memberikan ruang terhadap desa adat.  “Kita ( krama adat Bali-red) harus selalu hormat atas perjuangan dan pemikiran Mpu Kuturan dalam mewujudkan Bali yang aman dan sejahtera, karena melalui desa adat yang hingga kini masih tetap eksis, Bali bisa tumbuh seperti sekarang ini,” tegasnya, menekankan agar  dalam berbagai kegiatan, termasuk upacara keagamaan, senantiasa menjalankan proses secara ketat, walaupun kasus Covid-19 di Bali sudah melandai.

Kepada prajuru Pura Samuantiga, Gubernur Koster juga berpesan agar warisan leluhur pendahulu Bali tetap dijaga dengan baik.

“Kita harus jaga warisan leluhur yang adi luhung itu. Namun jangan pula mengada-ada dalam upacara keagamaan, dengan membuat yang baru untuk kepentingan lain,” harapnya.

Bendesa Pura Samuantiga, Gusti Ngurah Made Serana, kepada Gubernur Wayan Koster melaporkan rencana upacara Ida Betara Turun Kabeh lan Karya Padudusan Agung, yang puncaknya dilaksanakan akan berlangsung hari Minggu 17 April 2022.

Gusti Serana yang juga anggota Komisi Satu DPRD Gianyar ini mengutarakan tahapan upacara sekaligus mengundang Gubernur Bali, serangkaian upacara mapeselang bersama Bupati Gianyar serta pejabat lain dan panglingsir Puri di Bali lainnya.

Dijelaskan Gusti Serana, setelah puncak karya, tiga hari selanjutnya Ida Bhatara Manca manca budal mewali ke payogan masing masing. Termasuk Ida Bhatara di Pura Penataran Sasih Pejeng di Kecamatan Tampaksiring, Pura Carangsari di Kabupaten Badung serta Ratu Bhatara Pura Kahyangan Tiga se desa pengempon pura di lima desa adat.

Kelima desa adat pengempon Pura Samuantiga, di antaranya Desa Adat Bedulu, juga Desa Adat Wanayu Mas, Desa Adat Taman di Kecamatan Blahbatuh, serta Desa Adat Tengkulak Kaja dan Desa Adat Tengkulak Tengah di Kecamatan Sukawati.

“Ida Bhatara nyejer selama sebelas hari sejak 7 April hingga penyineban, yang diakhiri dengan penyepian pura pada 1 Mei 2022,” jelas Bendesa Gusti Ngurah Made Serana, seraya menguraikan, saat Ida Bhatara budal, akan dirangkai dengan tradisi unik Masiat Sampian, dan ritual maplengkungan.

Pada hari kesebelas dari puncak upacara, atau tepatnya Kamis 28 April 2022, akan dilaksanakan tradisi melis atau melasti. Upacara melasti melibatkan belasan ribu warga.

Tradisi melis ini dimulai dari Pura Samuantiga sekitar pukul 05.00 Wita, dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 30 Km menuju Pantai Masceti di Desa Medahan Kecamatan Blahbatuh. Prosesi ini berakhir sekitar pukul 22.00 Wita.






Reporter: Wiwin Meliana

DENPASAR, BALI EXPRESS – Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi  persiapan upacara Ida Bhatara Turun Kabeh lan Karya  Padudusan  Agung di Pura Samuantiga di Desa Adat  Bedulu,  Kecamatan Blahbatuh,  Gianyar,  yang puncaknya  berlangsung  Minggu 17 April 2022.

Apresiasi  Gubernur ini disampaikan saat menerim audensi Prajuru Pura Kahyangan  Jagat Samuantiga, yang dipimpin Bendesa Pura Samuantiga, I Gusti Ngurah Made Serana, di Jaya Sabha,  Sabtu (2/4).

Audensi ini juga diikuti Panglingsir Pura Wayan Patera, Wakil Bendesa Pura Samuantiga Wayan Jumat Sunantara, Bendahara I Gusti Ngurah Arya, Sekretaris Saba Pura Wayan Sudarsana, serta Perbekel Bedulu Putu Ariawan bersama staf I Wayan Gara.

Gubernur Koster didampingi Kadis PMA Provinsi Bali I GAK Kartika Jaya Seputra dan Karo Pemerintahan dan Kesra Setda Prov Bali Ketut Sukra Negara menegaskan,  keberadaan Pura Samuantiga di Bedulu sangat penting terkait keberadaan desa adat yang hingga kini masih tetap bertahan.

Pura Samuantiga yang berlokasi di wilayah Desa Adat Bedulu, Kecamatan Blahbatuh ini menjadi tempat yang terpilih untuk melaksanakan pertemuan atau pesamuan, guna menyelesaikan persoalan sosial religius masyarakat Bali pada abad ke-10.

Dalam pertemuan itu, kata Koster, hadir berbagai perwakilan sekte di masa Bali kuna. Dalam pertemuan itu didatangkan Mpu Kuturan, seorang ahli tata negara asal Kediri, Jawa Timur. Dalam pertemuan atau pesamuan yang diinisiasi Raja Udayana ini, akhirnya tercetus desa adat dengan Pura Kahyangan Tiga, serta terwujud rekonsiliasi dalam kehidupan masyarakat sampai di tingkat keluarga dengan palinggih rong telu.

Perjuangan dan jasa Mpu Kuturan ini pula, diakui Gubernur Wayan Koster, menjadi motivasinya dalam membangun Bali sebagai orang nomor satu di Bali. Koster juga mengaku, dalam membangun Bali sebagai gubernur, sengaja memberikan ruang terhadap desa adat.  “Kita ( krama adat Bali-red) harus selalu hormat atas perjuangan dan pemikiran Mpu Kuturan dalam mewujudkan Bali yang aman dan sejahtera, karena melalui desa adat yang hingga kini masih tetap eksis, Bali bisa tumbuh seperti sekarang ini,” tegasnya, menekankan agar  dalam berbagai kegiatan, termasuk upacara keagamaan, senantiasa menjalankan proses secara ketat, walaupun kasus Covid-19 di Bali sudah melandai.

Kepada prajuru Pura Samuantiga, Gubernur Koster juga berpesan agar warisan leluhur pendahulu Bali tetap dijaga dengan baik.

“Kita harus jaga warisan leluhur yang adi luhung itu. Namun jangan pula mengada-ada dalam upacara keagamaan, dengan membuat yang baru untuk kepentingan lain,” harapnya.

Bendesa Pura Samuantiga, Gusti Ngurah Made Serana, kepada Gubernur Wayan Koster melaporkan rencana upacara Ida Betara Turun Kabeh lan Karya Padudusan Agung, yang puncaknya dilaksanakan akan berlangsung hari Minggu 17 April 2022.

Gusti Serana yang juga anggota Komisi Satu DPRD Gianyar ini mengutarakan tahapan upacara sekaligus mengundang Gubernur Bali, serangkaian upacara mapeselang bersama Bupati Gianyar serta pejabat lain dan panglingsir Puri di Bali lainnya.

Dijelaskan Gusti Serana, setelah puncak karya, tiga hari selanjutnya Ida Bhatara Manca manca budal mewali ke payogan masing masing. Termasuk Ida Bhatara di Pura Penataran Sasih Pejeng di Kecamatan Tampaksiring, Pura Carangsari di Kabupaten Badung serta Ratu Bhatara Pura Kahyangan Tiga se desa pengempon pura di lima desa adat.

Kelima desa adat pengempon Pura Samuantiga, di antaranya Desa Adat Bedulu, juga Desa Adat Wanayu Mas, Desa Adat Taman di Kecamatan Blahbatuh, serta Desa Adat Tengkulak Kaja dan Desa Adat Tengkulak Tengah di Kecamatan Sukawati.

“Ida Bhatara nyejer selama sebelas hari sejak 7 April hingga penyineban, yang diakhiri dengan penyepian pura pada 1 Mei 2022,” jelas Bendesa Gusti Ngurah Made Serana, seraya menguraikan, saat Ida Bhatara budal, akan dirangkai dengan tradisi unik Masiat Sampian, dan ritual maplengkungan.

Pada hari kesebelas dari puncak upacara, atau tepatnya Kamis 28 April 2022, akan dilaksanakan tradisi melis atau melasti. Upacara melasti melibatkan belasan ribu warga.

Tradisi melis ini dimulai dari Pura Samuantiga sekitar pukul 05.00 Wita, dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 30 Km menuju Pantai Masceti di Desa Medahan Kecamatan Blahbatuh. Prosesi ini berakhir sekitar pukul 22.00 Wita.






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/