alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Warga Bugbug Gerudug MDA, Tanya Keabsahan Kelian Desa Adat

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Ratusan warga Bugbug dari kelompok pendukung mantan Kelian Desa Adat Bugbug I Wayan Mas Suyasa, Senin (4/4) giliran menggerudug Kantor Majelis Desa Adat (MDA) Karangasem. Mereka datang menanyakan keabsahan Purwa Arsana selaku Kelian Desa Adat.

Sebelum bergerak ke MDA, kelompok yang dikoordinir I Putu Harta dan I Komang Ari Sumartawan lebih dulu melakukan paruman sekaligus sembahyang bersama di Pura Bale Agung desa setempat. Pada kesempatan tetsebut Mas Suyasa menyampaikan klarifikasi atas tudingan miring yang ditujukan kepadanya.

Klarifikasi tersebut bukanlah kemauan Mas Suyasa sendiri, melainkan merupakan hasil desakan krama untuk mengetahui titik terang persoalan yang sampai saat ini masih membelenggu desanya.

“Kami (warga) yang meminta Jro Wayan Mas Suyasa untuk menglarifikasi atas segala tuduhan miring yang disampaikan sekelompok orang di media sosial,” terang Ari Sumartawan dalam paruman tersebut.

Dalam penyampaian klarifikasi, Mas Suyasa menegaskan, tudingan sekelompok orang atas kebijakan yang dijalankan selama menjabat sebagai Kelian Desa Adat Bugbug sangat tidak mendasar, karena semua keputusan ada dalam paruman desa.

“Tidak ada penguasaan lahan Pura Pasucian dan Hutan Siwa seluas satu hektare itu, Pura Pasucian dibangun atas persetujuan para kelian banjar dalam rapat paruman desa. Saya hanya meneruskan saja terhadap apa yang sudah menjadi keputusan dalam rapat prajuru desa,” ujar Mas Suyasa.

Setelah klarifikasi disampaikan, ratusan warga bergerak mendatangi Kantor Sekretariat Desa Adat Bugbug yang berlokasi di sisi utara Pura Bale Agung untuk melakukan penyegelan. Syukurnya, jajaran kepolisian Polres Karangasem datang dengan sigap mengantisipasi aksi massa itu.

Penyegelan batal dilakukan, karena saat warga merangsek Kantor Desa Adat Bugbug, disana sudah dalam posisi terkunci rapat-rapat. Kemudian, ratusan warga bergeser menuju Kantor MDA Karangasem.

Kedatangan kelompok warga yang dikoordinir Putu Harta dan I Komang Ari Sumartawan bertujuan menanyakan keabsahan Purwa Arsana selaku Kelian Desa Adat, begitu juga prajuru lainnya.

Mereka kemudian diterima langsung Plt MDA Karangasem Putu Putra Arianta, Kepala Kesbangpolinmas I Wayan Sutapa, Kapolsek Kota Karangasem AKP Sunarcaya, dan Danramil Karangasem. Saat pertemuan sedang berlangsung, hadir Kapolres Karangasem AKBP Ricko AA Taruna.

AKBP Ricko AA Taruna mengaku sangat menyayangkan gerakan tersbut. Pasalnya dilakukan dengan banyak orang tanpa ada pemberitahuan, dan tidak dilengkapi dengan izin keramaian. Padahal, sebelumnya sudah sempat diundang untuk melakukan mediasi, namun undangan tersebut tidak dihadiri kelompok Mas Suyasa.

“Beberapa hari yang lalu bapak-bapak sudah diminta hadir untuk mediasi, tapi tidak hadir. Tolong apabila diundang kembali agar hadir. Karena undangan tersebut bertujuan mediasi, sehingga situasi kamtibnas kondusif. Jangan terprovokasi atau memprovokasi keadaan Karangasem yang sudah damai dan aman ini. Justru kita bersama-sama mencegah penyebaran Covid-19,” ujar AKBP Ricko AA Taruna.

Setelah Kapolres menyapa warga, tepuk tangan bergemuruh diberikan kepada Kapolres sebagai bentuk wujud komitmen bersama mewujudkan Karangasem yang damai dan aman. “Pengerahan massa seperti ini diharapkan tidak terulang kembali, dan lebih bijak dalam menyampaikan aspirasi,” harap AKBP Ricko AA Taruna. (dir)

 


KARANGASEM, BALI EXPRESS – Ratusan warga Bugbug dari kelompok pendukung mantan Kelian Desa Adat Bugbug I Wayan Mas Suyasa, Senin (4/4) giliran menggerudug Kantor Majelis Desa Adat (MDA) Karangasem. Mereka datang menanyakan keabsahan Purwa Arsana selaku Kelian Desa Adat.

Sebelum bergerak ke MDA, kelompok yang dikoordinir I Putu Harta dan I Komang Ari Sumartawan lebih dulu melakukan paruman sekaligus sembahyang bersama di Pura Bale Agung desa setempat. Pada kesempatan tetsebut Mas Suyasa menyampaikan klarifikasi atas tudingan miring yang ditujukan kepadanya.

Klarifikasi tersebut bukanlah kemauan Mas Suyasa sendiri, melainkan merupakan hasil desakan krama untuk mengetahui titik terang persoalan yang sampai saat ini masih membelenggu desanya.

“Kami (warga) yang meminta Jro Wayan Mas Suyasa untuk menglarifikasi atas segala tuduhan miring yang disampaikan sekelompok orang di media sosial,” terang Ari Sumartawan dalam paruman tersebut.

Dalam penyampaian klarifikasi, Mas Suyasa menegaskan, tudingan sekelompok orang atas kebijakan yang dijalankan selama menjabat sebagai Kelian Desa Adat Bugbug sangat tidak mendasar, karena semua keputusan ada dalam paruman desa.

“Tidak ada penguasaan lahan Pura Pasucian dan Hutan Siwa seluas satu hektare itu, Pura Pasucian dibangun atas persetujuan para kelian banjar dalam rapat paruman desa. Saya hanya meneruskan saja terhadap apa yang sudah menjadi keputusan dalam rapat prajuru desa,” ujar Mas Suyasa.

Setelah klarifikasi disampaikan, ratusan warga bergerak mendatangi Kantor Sekretariat Desa Adat Bugbug yang berlokasi di sisi utara Pura Bale Agung untuk melakukan penyegelan. Syukurnya, jajaran kepolisian Polres Karangasem datang dengan sigap mengantisipasi aksi massa itu.

Penyegelan batal dilakukan, karena saat warga merangsek Kantor Desa Adat Bugbug, disana sudah dalam posisi terkunci rapat-rapat. Kemudian, ratusan warga bergeser menuju Kantor MDA Karangasem.

Kedatangan kelompok warga yang dikoordinir Putu Harta dan I Komang Ari Sumartawan bertujuan menanyakan keabsahan Purwa Arsana selaku Kelian Desa Adat, begitu juga prajuru lainnya.

Mereka kemudian diterima langsung Plt MDA Karangasem Putu Putra Arianta, Kepala Kesbangpolinmas I Wayan Sutapa, Kapolsek Kota Karangasem AKP Sunarcaya, dan Danramil Karangasem. Saat pertemuan sedang berlangsung, hadir Kapolres Karangasem AKBP Ricko AA Taruna.

AKBP Ricko AA Taruna mengaku sangat menyayangkan gerakan tersbut. Pasalnya dilakukan dengan banyak orang tanpa ada pemberitahuan, dan tidak dilengkapi dengan izin keramaian. Padahal, sebelumnya sudah sempat diundang untuk melakukan mediasi, namun undangan tersebut tidak dihadiri kelompok Mas Suyasa.

“Beberapa hari yang lalu bapak-bapak sudah diminta hadir untuk mediasi, tapi tidak hadir. Tolong apabila diundang kembali agar hadir. Karena undangan tersebut bertujuan mediasi, sehingga situasi kamtibnas kondusif. Jangan terprovokasi atau memprovokasi keadaan Karangasem yang sudah damai dan aman ini. Justru kita bersama-sama mencegah penyebaran Covid-19,” ujar AKBP Ricko AA Taruna.

Setelah Kapolres menyapa warga, tepuk tangan bergemuruh diberikan kepada Kapolres sebagai bentuk wujud komitmen bersama mewujudkan Karangasem yang damai dan aman. “Pengerahan massa seperti ini diharapkan tidak terulang kembali, dan lebih bijak dalam menyampaikan aspirasi,” harap AKBP Ricko AA Taruna. (dir)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/