alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Tanggulangi Hama, Putra Gianyar Buat Produk Pengendalian Hama Bertenaga Surya

GIANYAR, BALI EXPRESS – Serangan hama selama ini selalu menjadi momok menyeramkan bagi para petani. Dan sejauh ini, pestisida menjadi pilihan favorit bagi para petani untuk mengatasi serangan hama yang dialami. Namun mereka tidak menyadari, jika penggunaan pestisida dapat mengganggu kesuburan tanah serta hasil panen yang terkontaminasi dengan bahan kimia.

 

Atas kondisi tersebut, putra Gianyar asal Banjar Tegallinggah, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, mencoba menciptakan alternatif lain untuk menanggulangi serangan hama tersebut. Yakni dengan pengendalian hama menggunakan tenaga surya.

 

I Dewa Made Agung Kertha Nugraha, 31, menjelaskan bahwa menurut Global Food Security Index (Ketahanan Pangan Dunia) 2021, dari 113 negara yang terdaftar, Indonesia jauh dari posisi teratas. Dalam faktor keterjangkauan usaha tani, Indonesia berada pada peringkat 58, sedangkan pada faktor ketersediaan pertanian Indonesia berada pada peringkat 48, bahkan Indonesia berada pada peringkat 47 dalam faktor kualitas dan keamanan.

 

“Dan akar masalah yang sering dihadapi petani Indonesia adalah pada tingkat produksi dan produktivitas pertanian. Dimana 30 persen gagal panen pertanian dikarenakan oleh serangan hama,” tegasnya Kamis (5/5).

 

Dan untuk menanggulangi serangan hama tersebut, selama ini petani Indonesia masih menggunakan pestisida yaitu sebesar 40 persen dari total biaya tani. Padahal hal tersebut cukup memberatkan petani. Ditambah lagi efek negatif yang terjadi, seperti kesuburan tanah yang terganggu, hama yang menjadi kebal serta hasil panen yang terkontaminasi akan penggunaan pestisida kimia.

 

“Selain itu sebagian besar petani Indonesia masih bergantung pada pekerjaan manual, praktik pertanian yang mengandalkan sejumlah faktor yang tidak diketahui kepastiannya dan juga pengetahuan yang didasarkan dari mulut ke mulut. Kondisi ini membuat produktivitas dan output petani menjadi fluktuatif,” imbuhnya.

 

Hal itulah yang melatarbelakangi dirinya melalui Setara, hadir untuk memberikan solusi pengendalian hama menggunakan tenaga surya. Lebih lanjut Nugraha menjelaskan jika Setara (PT. Setara Agritek Indonesia) merupakan sebuah perusahaan agrikultur teknologi dengan misi untuk mengangkat martabat petani melalui penyediaan teknologi pertanian berkelanjutan dan terjangkau untuk meningkatkan produktivitas petani, menghasilkan tanaman yang sehat bagi konsumen, dan mengurangi emisi karbon.

 

“Adapun cara kerja alat buatannya tersebut adalah dengan menggunakan tenaga surya dan menyerapnya dalam battery, sehingga pada malam hari dapat menyalurkan energi yang terserap melalui teknologi lampu khusus yang dapat menarik hama hama pada kebun dan ladang yang merusak tanaman,” lanjut pria yang merupakan Founder sekaligus Direktur Setara tersebut.

 

Ditambahkannya jika produk tersebut dapat mengurangi biaya penggunaan pestisida, hasil panen menjadi lebih sehat, serta kesuburan tanah kebun tetap terjaga karena tidak tercemar oleh bahan kimia. Adapun hama yang bisa tertangkap alat tersebut diantaranya Kepinding, Wereng, hingga Walangsangit. Dan kini meskipun baru satu bulan masuk Bali, sudah ada 7 hingga 10 unit alat yang dipasang di Subak Buluh, Gianyar, daerah Bedugul, Tabanan, Badung hingga Kintamani, Bangli.

 

Untuk pembuatan satu buah alat, membutuhkan waktu hingag 1 minggu dari pemesanan. Saat ini tim yang ada tengah mempersiapkan berbagai hal untuk bisa mendapatkan hak paten produk tersebut. “Kami ada satu tim, ada tim engineering khusus, dan masih akan terus ada pengembangan produk. Ini masih tahap awal, tapi kedepannya rencana ada fitur prediksi cuaca dan sensor kesuburan tanah,” tuturnya.

 

Dengan manfaat tersebut pihaknya optimis produk tersebut dapat meningkatkan taraf hidup petani dengan menggunakan perangkap hama bertenaga surya.  “Melalui pemberdayakan petani dan masyarakat melalui penyediaan teknologi pertanian yang berkelanjutan dan terjangkau akan mencapai misi kami,” pungkasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Serangan hama selama ini selalu menjadi momok menyeramkan bagi para petani. Dan sejauh ini, pestisida menjadi pilihan favorit bagi para petani untuk mengatasi serangan hama yang dialami. Namun mereka tidak menyadari, jika penggunaan pestisida dapat mengganggu kesuburan tanah serta hasil panen yang terkontaminasi dengan bahan kimia.

 

Atas kondisi tersebut, putra Gianyar asal Banjar Tegallinggah, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, mencoba menciptakan alternatif lain untuk menanggulangi serangan hama tersebut. Yakni dengan pengendalian hama menggunakan tenaga surya.

 

I Dewa Made Agung Kertha Nugraha, 31, menjelaskan bahwa menurut Global Food Security Index (Ketahanan Pangan Dunia) 2021, dari 113 negara yang terdaftar, Indonesia jauh dari posisi teratas. Dalam faktor keterjangkauan usaha tani, Indonesia berada pada peringkat 58, sedangkan pada faktor ketersediaan pertanian Indonesia berada pada peringkat 48, bahkan Indonesia berada pada peringkat 47 dalam faktor kualitas dan keamanan.

 

“Dan akar masalah yang sering dihadapi petani Indonesia adalah pada tingkat produksi dan produktivitas pertanian. Dimana 30 persen gagal panen pertanian dikarenakan oleh serangan hama,” tegasnya Kamis (5/5).

 

Dan untuk menanggulangi serangan hama tersebut, selama ini petani Indonesia masih menggunakan pestisida yaitu sebesar 40 persen dari total biaya tani. Padahal hal tersebut cukup memberatkan petani. Ditambah lagi efek negatif yang terjadi, seperti kesuburan tanah yang terganggu, hama yang menjadi kebal serta hasil panen yang terkontaminasi akan penggunaan pestisida kimia.

 

“Selain itu sebagian besar petani Indonesia masih bergantung pada pekerjaan manual, praktik pertanian yang mengandalkan sejumlah faktor yang tidak diketahui kepastiannya dan juga pengetahuan yang didasarkan dari mulut ke mulut. Kondisi ini membuat produktivitas dan output petani menjadi fluktuatif,” imbuhnya.

 

Hal itulah yang melatarbelakangi dirinya melalui Setara, hadir untuk memberikan solusi pengendalian hama menggunakan tenaga surya. Lebih lanjut Nugraha menjelaskan jika Setara (PT. Setara Agritek Indonesia) merupakan sebuah perusahaan agrikultur teknologi dengan misi untuk mengangkat martabat petani melalui penyediaan teknologi pertanian berkelanjutan dan terjangkau untuk meningkatkan produktivitas petani, menghasilkan tanaman yang sehat bagi konsumen, dan mengurangi emisi karbon.

 

“Adapun cara kerja alat buatannya tersebut adalah dengan menggunakan tenaga surya dan menyerapnya dalam battery, sehingga pada malam hari dapat menyalurkan energi yang terserap melalui teknologi lampu khusus yang dapat menarik hama hama pada kebun dan ladang yang merusak tanaman,” lanjut pria yang merupakan Founder sekaligus Direktur Setara tersebut.

 

Ditambahkannya jika produk tersebut dapat mengurangi biaya penggunaan pestisida, hasil panen menjadi lebih sehat, serta kesuburan tanah kebun tetap terjaga karena tidak tercemar oleh bahan kimia. Adapun hama yang bisa tertangkap alat tersebut diantaranya Kepinding, Wereng, hingga Walangsangit. Dan kini meskipun baru satu bulan masuk Bali, sudah ada 7 hingga 10 unit alat yang dipasang di Subak Buluh, Gianyar, daerah Bedugul, Tabanan, Badung hingga Kintamani, Bangli.

 

Untuk pembuatan satu buah alat, membutuhkan waktu hingag 1 minggu dari pemesanan. Saat ini tim yang ada tengah mempersiapkan berbagai hal untuk bisa mendapatkan hak paten produk tersebut. “Kami ada satu tim, ada tim engineering khusus, dan masih akan terus ada pengembangan produk. Ini masih tahap awal, tapi kedepannya rencana ada fitur prediksi cuaca dan sensor kesuburan tanah,” tuturnya.

 

Dengan manfaat tersebut pihaknya optimis produk tersebut dapat meningkatkan taraf hidup petani dengan menggunakan perangkap hama bertenaga surya.  “Melalui pemberdayakan petani dan masyarakat melalui penyediaan teknologi pertanian yang berkelanjutan dan terjangkau akan mencapai misi kami,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/