alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Antisipasi Masalah Pangan, Seniman Ogoh-ogoh “Marmar” Gagas Tapakara

DENPASAR, BALI EXPRESS –Di tengah pandemi harga pangan mulai merangkak naik sehingga ketidakmampuan membeli bahan pangan harus disikapi oleh tiap keluarga. Menyikapi hal itu seniman ogoh-ogoh dari Banjar Gemeh, Desa Dauh Puri Kangin, Denbar, Putu Marmar Herayukti menggagas gerakan Tapakara.

Gagasan Tapakara ini berupa gerakan menanam beberapa tanaman di pekarangan rumahnya sebagai solusi ketahanan pangan saat ini. “Sebenarnya ini gagasan saya yang saya buat untuk program tahun 2021. Kebetulan saya juga sebagai klian adat di sini. Jadi berhubung sedang masa pandemic, ya saya lakukan sekarang,” ungkapnya saat ditemui, Minggu (5/7).

Marmar menambahkan, gerakan Tapakara ini dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan menanam di kalangan masyarakat khususnya di Banjar Gemeh. Sehingga dari kebiasaan, akan menjadi kebutuhan. “Tahun 2021 saya punya program Gemeh ini kami jadikan dusun hijau. Yang ditanam tidak saja tanaman pangan. Ada tanaman untuk upakara dan tanaman obatnya juga, itu konsep awalnya,” tambahnya.

Gerakan Tapakara ini adalah langkah yang paling mungkin dilakukan di saat situasi dirundung pandemi Covid-19. “Gerakan ini dicetuskan karena kebutuhan pangan paling memungkinkan, apabila nanti terjadi krisis pangan,” sambungnya.

Selanjutnya, ini akan dijadikan sebagai gerakan menyeluruh. Bukan di tempat tinggalnya saja. Pertimbangannya, Covid-19 mewabah di Indonesia, termasuk Bali dan mengguncang sendi-sendi perekonomian. “Covid-19 membuat ekonomi sulit. Sementara kebutuhan pangan mesti tetap terpenuhi. Kebutuhan akan pangan itu yang paling mutlak. Ketika pangan terpenuhi, tinggal menunggu perekonomian bangkit kembali,” kata dia.

Marmar sendiri mulai menanam sejumlah sayuran dan bumbu dapur sejak Maret lalu di pekarangan rumahnya. Untuk mengakali keterbatasan lahan, ia menanam secara vertikal. “Jadi disusun seperti rak dari botol dan jurigen bekas serta talang air,” ucap pria yang juga tengah menyiapkan kolam untuk beternak ikan nila ini.

Aktivitas tersebut terus ia bagikan melalui Instagram miliknya untuk menginspirasi yang lain.  Rencananya, tutorial dalam laman YouTube juga sudah disiapkannya. “Menanam itu keren dan tidak sulit. Bisa dimulai dengan yang ringan. Paling tidak akan ada yang tergerak. Ketika banyak yang tergerak akan menjadi tren. Anak muda kan suka ngikutin tren,” kata dia.

Gerakan ini dinamakan Tapakara. Secara filosofis Tapakara berasal dari dua kata; ‘Tapa’ dan ‘Kara’. “Tapa artinya permulaan energi. Kara berarti benih, hidup, tangan, atau cahaya. Maknanya sesuai dengan gerakan ini. Menanam benih untuk kebutuhan energi hidup kita. Untuk menanam perlu cahaya. Dan tangan kita harus berkarya untuk memulihkan energi kita sendiri,” papar Marmar.

Sedangkan Tapakara yang digagas Marmar adalah kepanjangan dari Ketahanan Pangan Pekarangan Alit. “Jadi bagaimana kita memafaatkan pekarangan atau lahan yang sempit di rumah untuk bercocok tanam. Sebenarnya ini sudah lama dan sekarang dibangkitkan lagi. Kalau di luar negeri mungkin disebut urban farming ya. Saya tidak terlalu paham juga. Tapi di sini kami sebut Tapakara,” jelasnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS –Di tengah pandemi harga pangan mulai merangkak naik sehingga ketidakmampuan membeli bahan pangan harus disikapi oleh tiap keluarga. Menyikapi hal itu seniman ogoh-ogoh dari Banjar Gemeh, Desa Dauh Puri Kangin, Denbar, Putu Marmar Herayukti menggagas gerakan Tapakara.

Gagasan Tapakara ini berupa gerakan menanam beberapa tanaman di pekarangan rumahnya sebagai solusi ketahanan pangan saat ini. “Sebenarnya ini gagasan saya yang saya buat untuk program tahun 2021. Kebetulan saya juga sebagai klian adat di sini. Jadi berhubung sedang masa pandemic, ya saya lakukan sekarang,” ungkapnya saat ditemui, Minggu (5/7).

Marmar menambahkan, gerakan Tapakara ini dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan menanam di kalangan masyarakat khususnya di Banjar Gemeh. Sehingga dari kebiasaan, akan menjadi kebutuhan. “Tahun 2021 saya punya program Gemeh ini kami jadikan dusun hijau. Yang ditanam tidak saja tanaman pangan. Ada tanaman untuk upakara dan tanaman obatnya juga, itu konsep awalnya,” tambahnya.

Gerakan Tapakara ini adalah langkah yang paling mungkin dilakukan di saat situasi dirundung pandemi Covid-19. “Gerakan ini dicetuskan karena kebutuhan pangan paling memungkinkan, apabila nanti terjadi krisis pangan,” sambungnya.

Selanjutnya, ini akan dijadikan sebagai gerakan menyeluruh. Bukan di tempat tinggalnya saja. Pertimbangannya, Covid-19 mewabah di Indonesia, termasuk Bali dan mengguncang sendi-sendi perekonomian. “Covid-19 membuat ekonomi sulit. Sementara kebutuhan pangan mesti tetap terpenuhi. Kebutuhan akan pangan itu yang paling mutlak. Ketika pangan terpenuhi, tinggal menunggu perekonomian bangkit kembali,” kata dia.

Marmar sendiri mulai menanam sejumlah sayuran dan bumbu dapur sejak Maret lalu di pekarangan rumahnya. Untuk mengakali keterbatasan lahan, ia menanam secara vertikal. “Jadi disusun seperti rak dari botol dan jurigen bekas serta talang air,” ucap pria yang juga tengah menyiapkan kolam untuk beternak ikan nila ini.

Aktivitas tersebut terus ia bagikan melalui Instagram miliknya untuk menginspirasi yang lain.  Rencananya, tutorial dalam laman YouTube juga sudah disiapkannya. “Menanam itu keren dan tidak sulit. Bisa dimulai dengan yang ringan. Paling tidak akan ada yang tergerak. Ketika banyak yang tergerak akan menjadi tren. Anak muda kan suka ngikutin tren,” kata dia.

Gerakan ini dinamakan Tapakara. Secara filosofis Tapakara berasal dari dua kata; ‘Tapa’ dan ‘Kara’. “Tapa artinya permulaan energi. Kara berarti benih, hidup, tangan, atau cahaya. Maknanya sesuai dengan gerakan ini. Menanam benih untuk kebutuhan energi hidup kita. Untuk menanam perlu cahaya. Dan tangan kita harus berkarya untuk memulihkan energi kita sendiri,” papar Marmar.

Sedangkan Tapakara yang digagas Marmar adalah kepanjangan dari Ketahanan Pangan Pekarangan Alit. “Jadi bagaimana kita memafaatkan pekarangan atau lahan yang sempit di rumah untuk bercocok tanam. Sebenarnya ini sudah lama dan sekarang dibangkitkan lagi. Kalau di luar negeri mungkin disebut urban farming ya. Saya tidak terlalu paham juga. Tapi di sini kami sebut Tapakara,” jelasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/