alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

TNBB Ditutup Akibat Covid-19, Sopir Boat Kerja Serabutan

Sudah tiga bulan seluruh destinasi wisata di Bali ditutup sementara akibat pandemic Covid-19. Tak terkecuali Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Kondisi ini membuat sopir boat yang menggantungkan hidupnya dari jasa penyeberangan menuju Pulau Gili Menjangan, harus memutar otak mencari penghidupan lain agar dapur tetap mengepul.

 

OBYEK wisata yang berlokasi di Taman Nasional Bali Barat, Kecamatan Gerokgak memang menyajikan panorama alam yang indah. selain memiliki satwa endemic seperti burung jalak Bali, kawasan hutan lindung yang berada di ujung barat Pulau Bali ini juga memiliki sejumlah satwa yang dilindungi.

Namun, sejak pandemic Covid-19, semua akses menuju destinasi wisata TNBB ditutup sementara waktu. Langkah ini dilakukan demi mengantisipasi meluasnya penyebaran virus korona yang kian massif.

Tak terkecuali akses menuju Pulau Menjangan yang posisinya persis berada di sebelah utara Perairan Desa Sumber Kelampok, Kecamatan Gerokgak. Di pulau ini, terdapat Pura Kahyangan Jagat yakni Pura Gili Menjangan. Selain dijadikan kawasan suci, pulau ini juga kerap dikunjungi wisatawan untuk melakukan diving maupun snorkeling.

Penutupan akses wisata ini pun dikeluhkan oleh Nyoman Sutra, seorang sopir boat yang biasa mangkal di penyeberangan Labuhan Lalang, Desa Sumber Kelampok. Pria berusia 47 tahun asal Desa Sumber Kelampok ini mengaku sudah tiga bulan terpaksa bekerja serabutan demi menyambung hidup lantaran tak ada wisatawan maupun pemedek yang nangkil ke Pulau Menjangan.

Praktis, sejak itu ia putar otak menghidupi keluarganya di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemic Covid-19. “Sekarang pendapatan sama sekali tidak ada dari sewa boat. Karena tamu tidak ada masuk. Apalagi tujuannya hanya untuk sembahyang juga tidak ada,” keluh Sutra kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Agar tetap berpenghasilan, ia pun bekerja serabutan dengan berkebun dan bercocok tanam. Ia menyebut, saat ini sama sekali tidak ada tamu yang hendak berwisata ke Pulau Gili Menjangan. Sebab kawasan wisata Taman Nasional Bali Barat sudah ditutup.

“Memang ditutup oleh pemerintah. Sekarang semuanya tidak ada berangkat. Sehingga boat di sini tidak ada mesinnya, karena dicabut biar tidak rusak. Banyak sopir boat sekarang yang beralih profesi secara serabutan,” akunya lagi.

Sutra menceritakan, sebelum wabah korona menerjang, setiap minggunya selalu saja ada tamu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Menjangan. Bahkan, dari 70 boat yang ada di penyeberangan Labuhan Lalang, hampir semuanya mendapat job untuk menyeberangkan ke pulau tersebut.

“Saya sendiri kadang dua sampai tiga hari dapat saja narik (nganter penumpang, Red) untuk nyeberang. Sekarang sama sekali tidak ada,” jelasnya.

Selama ini Sutra hanya bertugas mengantar wisatawan maupun pemedek yang nangkil ke Pulau Gili Menjangan. Sedangkan boat dimiliki oleh majikannya. Sekali narik, Sutra bisa mendapat upah Rp 92 ribu dari pemilik boat. “Sekali trip dapat upah Rp 92 ribu. Kalau minyaknya  bos (pemilik perahu,Red) yang nanggung,” jelasnya.

Sutra berharap agar kondisi segera normal kembali sehingga dia bisa mencari nafkah seperti sedia kala. “Ya harapannya biar pulih kembali. Biar pemerintah daerah bisa membuka pariwisata. Sudah bosan tidak ada penghasilan, kerja serabutan,” harapnya.

Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Drh. Agus Ngurah Krisna membenarkan obyek wisata di Taman Nasional sudah ditutup sejak Maret. Menariknya, ketika ditutup justru sejumlah satwa mulai terlihat.

Satwa rusa yang dulunya tidak pernah kelihatan, kini sering menampakkan diri. Pun dengan produktifitas burung jalak Bali yang daya berkembangnya kian meningkat. “Sekarang jumlah jalak Bali sampai 303 ekor di alam. Tahun 2019 hanya 296 ekor. Sekarang sudah naik,” akunya.

Disinggung terkait pemedek yang nangkil, pihaknya mengaku tak bisa melarang. Bahkan, ia meminta bantuan Desa Adat Sumber Kelampok untuk ikut memantaunya. “Kami tidak bisa melarang pemedek yang nangkil ke Pura Menjangan. Kalau mau sembahyang, silahkan saja, tetapi haru mematuhi protocol Covid-19. Kami juga siapkan pos penjagaan,” tuturnya.

Lalu kapan rencana destinasi wisata di TNBB dibuka? Agus pun mengaku mengunggu arahan dari pemerintah daerah. Menurutnya, kalau pemerintah daerah sudah meminta dibuka, maka pihaknya pun akan membuka. “Taman Nasional siap dibuka, kalau sudah ada arahan dari pemerintah daerah. Dan kami laporkan ke ke pusat Kementerian LHK,” pungkasnya.


Sudah tiga bulan seluruh destinasi wisata di Bali ditutup sementara akibat pandemic Covid-19. Tak terkecuali Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Kondisi ini membuat sopir boat yang menggantungkan hidupnya dari jasa penyeberangan menuju Pulau Gili Menjangan, harus memutar otak mencari penghidupan lain agar dapur tetap mengepul.

 

OBYEK wisata yang berlokasi di Taman Nasional Bali Barat, Kecamatan Gerokgak memang menyajikan panorama alam yang indah. selain memiliki satwa endemic seperti burung jalak Bali, kawasan hutan lindung yang berada di ujung barat Pulau Bali ini juga memiliki sejumlah satwa yang dilindungi.

Namun, sejak pandemic Covid-19, semua akses menuju destinasi wisata TNBB ditutup sementara waktu. Langkah ini dilakukan demi mengantisipasi meluasnya penyebaran virus korona yang kian massif.

Tak terkecuali akses menuju Pulau Menjangan yang posisinya persis berada di sebelah utara Perairan Desa Sumber Kelampok, Kecamatan Gerokgak. Di pulau ini, terdapat Pura Kahyangan Jagat yakni Pura Gili Menjangan. Selain dijadikan kawasan suci, pulau ini juga kerap dikunjungi wisatawan untuk melakukan diving maupun snorkeling.

Penutupan akses wisata ini pun dikeluhkan oleh Nyoman Sutra, seorang sopir boat yang biasa mangkal di penyeberangan Labuhan Lalang, Desa Sumber Kelampok. Pria berusia 47 tahun asal Desa Sumber Kelampok ini mengaku sudah tiga bulan terpaksa bekerja serabutan demi menyambung hidup lantaran tak ada wisatawan maupun pemedek yang nangkil ke Pulau Menjangan.

Praktis, sejak itu ia putar otak menghidupi keluarganya di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemic Covid-19. “Sekarang pendapatan sama sekali tidak ada dari sewa boat. Karena tamu tidak ada masuk. Apalagi tujuannya hanya untuk sembahyang juga tidak ada,” keluh Sutra kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Agar tetap berpenghasilan, ia pun bekerja serabutan dengan berkebun dan bercocok tanam. Ia menyebut, saat ini sama sekali tidak ada tamu yang hendak berwisata ke Pulau Gili Menjangan. Sebab kawasan wisata Taman Nasional Bali Barat sudah ditutup.

“Memang ditutup oleh pemerintah. Sekarang semuanya tidak ada berangkat. Sehingga boat di sini tidak ada mesinnya, karena dicabut biar tidak rusak. Banyak sopir boat sekarang yang beralih profesi secara serabutan,” akunya lagi.

Sutra menceritakan, sebelum wabah korona menerjang, setiap minggunya selalu saja ada tamu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Menjangan. Bahkan, dari 70 boat yang ada di penyeberangan Labuhan Lalang, hampir semuanya mendapat job untuk menyeberangkan ke pulau tersebut.

“Saya sendiri kadang dua sampai tiga hari dapat saja narik (nganter penumpang, Red) untuk nyeberang. Sekarang sama sekali tidak ada,” jelasnya.

Selama ini Sutra hanya bertugas mengantar wisatawan maupun pemedek yang nangkil ke Pulau Gili Menjangan. Sedangkan boat dimiliki oleh majikannya. Sekali narik, Sutra bisa mendapat upah Rp 92 ribu dari pemilik boat. “Sekali trip dapat upah Rp 92 ribu. Kalau minyaknya  bos (pemilik perahu,Red) yang nanggung,” jelasnya.

Sutra berharap agar kondisi segera normal kembali sehingga dia bisa mencari nafkah seperti sedia kala. “Ya harapannya biar pulih kembali. Biar pemerintah daerah bisa membuka pariwisata. Sudah bosan tidak ada penghasilan, kerja serabutan,” harapnya.

Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Drh. Agus Ngurah Krisna membenarkan obyek wisata di Taman Nasional sudah ditutup sejak Maret. Menariknya, ketika ditutup justru sejumlah satwa mulai terlihat.

Satwa rusa yang dulunya tidak pernah kelihatan, kini sering menampakkan diri. Pun dengan produktifitas burung jalak Bali yang daya berkembangnya kian meningkat. “Sekarang jumlah jalak Bali sampai 303 ekor di alam. Tahun 2019 hanya 296 ekor. Sekarang sudah naik,” akunya.

Disinggung terkait pemedek yang nangkil, pihaknya mengaku tak bisa melarang. Bahkan, ia meminta bantuan Desa Adat Sumber Kelampok untuk ikut memantaunya. “Kami tidak bisa melarang pemedek yang nangkil ke Pura Menjangan. Kalau mau sembahyang, silahkan saja, tetapi haru mematuhi protocol Covid-19. Kami juga siapkan pos penjagaan,” tuturnya.

Lalu kapan rencana destinasi wisata di TNBB dibuka? Agus pun mengaku mengunggu arahan dari pemerintah daerah. Menurutnya, kalau pemerintah daerah sudah meminta dibuka, maka pihaknya pun akan membuka. “Taman Nasional siap dibuka, kalau sudah ada arahan dari pemerintah daerah. Dan kami laporkan ke ke pusat Kementerian LHK,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/