alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Sidang ZT Panas, Barang Bukti Akta Mendadak Hilang

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sidang lanjutan perkara menyuruh memberikan keterangan palsu pada akta autentik dan penipuan yang didakwakan pada pengusaha Zainal Tayeb berlangsung panas, Selasa (5/10). Bahkan sempat terjadi perdebatan panjang antara majelis hakim yang diketuai Wayan Yasa dengan tim jaksa penuntut umum (JPU) Imam Ramdhoni dkk.

Perdebatan ini dipicu tidak adanya barang bukti akta no. 33 di berkas majelis hakim.  Hakim ketua Wayan Yasa beberapa kali membongkar satu persatu berkas di meja hakim namun tetap tidak ditemukan. Panitera pengganti yang akrab dipanggil Gus Ari , bersama hakim anggota Konny Hartanto dan AA Aripathi ikut sibuk mencari dalam tumpukan berkas perkara. Pun demikian berkas yang dicarinya tidak ditemukan. Sementara tim jaksa bersikukuh sudah melampirkan bukti akta tersebut sewaktu pelimpahan berkas dari Kejari Badung ke PN Denpasar. “Kami sudah lampirkan dan ada bukti tanda terimanya,”ucap jaksa dalam sidang online tersebut.

Sementara dalam pemeriksaan perkara, lagi-lagi saksi korban Hedar Giacomo Boy Syam kembali mangkir. Pada sidang sebelumnya, hakim menolak kesaksian Hedar secara daring karena yang bersangkutan berada ada di salah satu hotel di Italia. Hakim lantas memerintahkan saksi memberikan kesaksian di wilayah NKRI yakni di Kedubes Italia sesuai Perma.

Itu pun tidak bisa dijalankan saksi dengan alasan sebagaimana disampaikan jaksa, saksi masih dalam perjalanan ke Indonesia.

“Kalau begitu hakim akan keluarkan penetapan pemeriksaan saksi dilakukan di tempat karantina di Jakarta, karena berada di luar wilayah hukum PN Denpasar, siapkan rohaniawan,” perintah hakim Wayan Yasa pada penuntut umum.

Hakim menegaskan, kepastian pemeriksaan saksi itu penting karena berkaitan dengan asas kepastian. “Ini terkait dengan masa penahanan dan hak-hak terdakwa,”tegas hakim Wayan Yasa sambil memerintahkan pemeriksaan saksi yang hadir.

Ada dua orang saksi yang diperiksa diantaranya, bagian akunting PT Mirah Bali Property, Kadek Swastika dan konsultan pajak,Luh Citra wiryastuti. Saksi Kadek Swastika yang bekerja sejak 2017 itu menerangkan pernah diperintah Hedar mengecek pembayaran tanah di Cemagi,Badung sebagaimana tertuang dalam akta kerjasama no 33.

Akta tersebut ditandatangani antara Zainal Tayeb denga Hedar. Dikatakan saksi setelah dilakukan pembayaran lunas dengan menggunakan cek Bank BCA dan Mandiri sebanyak 11 kali pembayaran ternyata ada kekurangan. Pembayaran dilakukan oleh Hedar langsung sedangkan saksi hanya menyiapkan ceknya dengan senilai total 61 miliar. Persoalannya sambung saksi, dalam akta tertulis luas tanah 13.700 M2 namun setelah dihitung luasnya tidak mencapai 8 ribuan meter persegi. “Saya hanya mengecek berdasarkan SHM, tidak mengecek luasan tanah di lapangan karena buka keahlian saya,”terang saksi.

Saksi sempat kelabakan ketika ditanya hakim total yang harus dibayar sesuai SHM bila harga per meternya 4.500 sambil menunjukkan 19 lembar tanda terima. “Saudara mestinya bawa data, saudara sudah disumpah, saksi nanti bisa dihadirkan lagi,” perintah hakim Wayan Yasa.

Atas kekurangan itu, sambung saksi pihak Hedar mengirimkan somasi pada Zainal Tayeb. Isi somasi berkiatan dengan kekurangan tanah, tidak sesuai akta. Untuk itu kata saksi, Hedar dalam somasinya juga meminta tambahan tanah lagi agar luasnya sesuai dengan di akta. Hakim pun mempertanyakan kenapa sebelum pembayaran tidak dicek luas tanahnya? “Saya tidak tahu,”jawab saksi.

Sementara saksi kedua, wiryastuti mengaku tidak tahu langsung persoalan antara Hedar dengan Zainal Tayeb. Dia tahu ada persoalan tersebut dari orang lain karena statusnya hanya sebagai konsultan pajak yang dipesan oleh PT Mirah Bali Property. “Saya tidak tahu siapa pemilik saham perusahaan tersebut, saya dipanggil kalau ada urusan pembayaran pajak, seperti pernah menyampaikan adanya tax amnesty waktu lalu,” ujar saksi.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Sidang lanjutan perkara menyuruh memberikan keterangan palsu pada akta autentik dan penipuan yang didakwakan pada pengusaha Zainal Tayeb berlangsung panas, Selasa (5/10). Bahkan sempat terjadi perdebatan panjang antara majelis hakim yang diketuai Wayan Yasa dengan tim jaksa penuntut umum (JPU) Imam Ramdhoni dkk.

Perdebatan ini dipicu tidak adanya barang bukti akta no. 33 di berkas majelis hakim.  Hakim ketua Wayan Yasa beberapa kali membongkar satu persatu berkas di meja hakim namun tetap tidak ditemukan. Panitera pengganti yang akrab dipanggil Gus Ari , bersama hakim anggota Konny Hartanto dan AA Aripathi ikut sibuk mencari dalam tumpukan berkas perkara. Pun demikian berkas yang dicarinya tidak ditemukan. Sementara tim jaksa bersikukuh sudah melampirkan bukti akta tersebut sewaktu pelimpahan berkas dari Kejari Badung ke PN Denpasar. “Kami sudah lampirkan dan ada bukti tanda terimanya,”ucap jaksa dalam sidang online tersebut.

Sementara dalam pemeriksaan perkara, lagi-lagi saksi korban Hedar Giacomo Boy Syam kembali mangkir. Pada sidang sebelumnya, hakim menolak kesaksian Hedar secara daring karena yang bersangkutan berada ada di salah satu hotel di Italia. Hakim lantas memerintahkan saksi memberikan kesaksian di wilayah NKRI yakni di Kedubes Italia sesuai Perma.

Itu pun tidak bisa dijalankan saksi dengan alasan sebagaimana disampaikan jaksa, saksi masih dalam perjalanan ke Indonesia.

“Kalau begitu hakim akan keluarkan penetapan pemeriksaan saksi dilakukan di tempat karantina di Jakarta, karena berada di luar wilayah hukum PN Denpasar, siapkan rohaniawan,” perintah hakim Wayan Yasa pada penuntut umum.

Hakim menegaskan, kepastian pemeriksaan saksi itu penting karena berkaitan dengan asas kepastian. “Ini terkait dengan masa penahanan dan hak-hak terdakwa,”tegas hakim Wayan Yasa sambil memerintahkan pemeriksaan saksi yang hadir.

Ada dua orang saksi yang diperiksa diantaranya, bagian akunting PT Mirah Bali Property, Kadek Swastika dan konsultan pajak,Luh Citra wiryastuti. Saksi Kadek Swastika yang bekerja sejak 2017 itu menerangkan pernah diperintah Hedar mengecek pembayaran tanah di Cemagi,Badung sebagaimana tertuang dalam akta kerjasama no 33.

Akta tersebut ditandatangani antara Zainal Tayeb denga Hedar. Dikatakan saksi setelah dilakukan pembayaran lunas dengan menggunakan cek Bank BCA dan Mandiri sebanyak 11 kali pembayaran ternyata ada kekurangan. Pembayaran dilakukan oleh Hedar langsung sedangkan saksi hanya menyiapkan ceknya dengan senilai total 61 miliar. Persoalannya sambung saksi, dalam akta tertulis luas tanah 13.700 M2 namun setelah dihitung luasnya tidak mencapai 8 ribuan meter persegi. “Saya hanya mengecek berdasarkan SHM, tidak mengecek luasan tanah di lapangan karena buka keahlian saya,”terang saksi.

Saksi sempat kelabakan ketika ditanya hakim total yang harus dibayar sesuai SHM bila harga per meternya 4.500 sambil menunjukkan 19 lembar tanda terima. “Saudara mestinya bawa data, saudara sudah disumpah, saksi nanti bisa dihadirkan lagi,” perintah hakim Wayan Yasa.

Atas kekurangan itu, sambung saksi pihak Hedar mengirimkan somasi pada Zainal Tayeb. Isi somasi berkiatan dengan kekurangan tanah, tidak sesuai akta. Untuk itu kata saksi, Hedar dalam somasinya juga meminta tambahan tanah lagi agar luasnya sesuai dengan di akta. Hakim pun mempertanyakan kenapa sebelum pembayaran tidak dicek luas tanahnya? “Saya tidak tahu,”jawab saksi.

Sementara saksi kedua, wiryastuti mengaku tidak tahu langsung persoalan antara Hedar dengan Zainal Tayeb. Dia tahu ada persoalan tersebut dari orang lain karena statusnya hanya sebagai konsultan pajak yang dipesan oleh PT Mirah Bali Property. “Saya tidak tahu siapa pemilik saham perusahaan tersebut, saya dipanggil kalau ada urusan pembayaran pajak, seperti pernah menyampaikan adanya tax amnesty waktu lalu,” ujar saksi.


Most Read

Artikel Terbaru

/