alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Kecam Pelanggaran HAM dan DOB, Mahasiswa Papua Demo di Renon

DENPASAR, BALI EXPRESS – Aksi unjuk rasa alias demo lagi-lagi digelar Aliansi Mahasiswa Papua di kawasan Renon, Denpasar pada Rabu (6/7). Mereka terus menyuarakan aspirasi berupa penolakan terhadap otonomi khusus, pemekaran provinsi baru, hingga meminta pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Bumi Cendrawasih.

 

Mereka ingin Otsus Papua Jilid dan Daerah Otonomi Baru (DOB), bahkan termasuk Omnibus Law dicabut karena kebijakannya terasa dipaksakan alias sepihak oleh Pemerintah Indonesia untuk menjaga kepentingan mengeksploitasi sumber daya alam mereka. Koordinator aksi bernama Wemy Enembe pun mengatakan militer (TNI-Polri) organik dan non-organik dari seluruh Tanah Papua Barat harus ditarik.

 

Termasuk segala aktifitas eksploitasi perusahaan milik negara-negara imperialis dihentikan. “Perusaan seperti Freeport, BP, LNG Tangguh, Medco, Corindo, Kelapa Sawit, Perusahan Semen, dan lain-lain itu perlu berhenti mengeksploitasi sumber daya di Tanah Papua Barat,” ujarnya.

Baca Juga :  Uji Kir, Dishub Buleleng Datangkan Brake Tester dari Perancis

 

Kemudian, Indonesia diminta bertanggung jawab atas rentetan pelanggaran HAM sepeti tragedi Biak Berdarah 1998 yang telah menewaskan ratusan nyawa manusia. Layaknya sejumlah aktivis dan tahanan politik Papua yang direnggut kebebasannya diminta dibebaskan tanpa syarat.

 

“Tindakan teror, intimidasi, dan upaya kriminalisasi aktivis AMP di bali dan seluruh tanah Papua kami kutuk keras,” serunya. Selain itu, para mahasiswa ini juga menuntut jaminan kebebasan Jurnalis di Papua Barat agar ruang demokrasi terbuka seluas-luasnya. Akhirnya yang tak akan pernah lupa mereka gaungkan adalah Pemerintah Indonesia berikan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat bangsa Papua Barat sebagai solusi demokratis.

 

Dikonfirmasi mengenai aksi tersebut, Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu Ketut Sukadi menerangkan ada 107 personil Polresta Denpasar yang diterjunkan melakukan pengamanan secara humanis. “Petugas mengamankan aksi unjuk rasa tanpa membawa senjata api,” ucapnya.

Baca Juga :  Buka Pariwisata Internasional, Badung Usulkan Karantina Dua Hari

 






Reporter: I Gede Paramasutha

DENPASAR, BALI EXPRESS – Aksi unjuk rasa alias demo lagi-lagi digelar Aliansi Mahasiswa Papua di kawasan Renon, Denpasar pada Rabu (6/7). Mereka terus menyuarakan aspirasi berupa penolakan terhadap otonomi khusus, pemekaran provinsi baru, hingga meminta pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Bumi Cendrawasih.

 

Mereka ingin Otsus Papua Jilid dan Daerah Otonomi Baru (DOB), bahkan termasuk Omnibus Law dicabut karena kebijakannya terasa dipaksakan alias sepihak oleh Pemerintah Indonesia untuk menjaga kepentingan mengeksploitasi sumber daya alam mereka. Koordinator aksi bernama Wemy Enembe pun mengatakan militer (TNI-Polri) organik dan non-organik dari seluruh Tanah Papua Barat harus ditarik.

 

Termasuk segala aktifitas eksploitasi perusahaan milik negara-negara imperialis dihentikan. “Perusaan seperti Freeport, BP, LNG Tangguh, Medco, Corindo, Kelapa Sawit, Perusahan Semen, dan lain-lain itu perlu berhenti mengeksploitasi sumber daya di Tanah Papua Barat,” ujarnya.

Baca Juga :  Peminat Budaya Bali Menurun, UNHI Siapkan Bebas SPP

 

Kemudian, Indonesia diminta bertanggung jawab atas rentetan pelanggaran HAM sepeti tragedi Biak Berdarah 1998 yang telah menewaskan ratusan nyawa manusia. Layaknya sejumlah aktivis dan tahanan politik Papua yang direnggut kebebasannya diminta dibebaskan tanpa syarat.

 

“Tindakan teror, intimidasi, dan upaya kriminalisasi aktivis AMP di bali dan seluruh tanah Papua kami kutuk keras,” serunya. Selain itu, para mahasiswa ini juga menuntut jaminan kebebasan Jurnalis di Papua Barat agar ruang demokrasi terbuka seluas-luasnya. Akhirnya yang tak akan pernah lupa mereka gaungkan adalah Pemerintah Indonesia berikan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat bangsa Papua Barat sebagai solusi demokratis.

 

Dikonfirmasi mengenai aksi tersebut, Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu Ketut Sukadi menerangkan ada 107 personil Polresta Denpasar yang diterjunkan melakukan pengamanan secara humanis. “Petugas mengamankan aksi unjuk rasa tanpa membawa senjata api,” ucapnya.

Baca Juga :  Buka Pariwisata Internasional, Badung Usulkan Karantina Dua Hari

 






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/