alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Sempat Tertawa Bersama, ‘Pak Made Melaib’ Teriakan Terakhir Sang Istri

BADUNG, BALI EXPRESS – Rekonstruksi dari kasus suami tusuk istri di rumah Banjar Sibang, Desa Jagapati, Abiansemal, Badung, akhirnya digelar Polres Badung pada Jumat (6/8). Proses itu dilangsungkan di Mapolres Badung, dengan memperagakan total 26 adegan.

Tersangka I Made Maranada, 34, juga hadir, kembali memerankan langsung aksi brutal terhadap istrinya Ni Luh Putu Russiani, 24. Mengambil latar waktu saat kejadian pada (18/6), adegan pertama dimulai dengan saksi I Made Geliduh, 60, sekaligus ayah tersangka mendengar sang anak dan pasangannya yang belum dikaruniai anak itu ngobrol dari kamar di sebelah kamar tidurnya. “Mereka bahkan tertawa-tawa, dalam obrolannya,” tutur Kasubbag Humas Polres Badung, Iptu Ketut Gede Oka Bawa berdasarkan rekonstruksi itu.

Berselang sejam kemudian, Geliduh mendengar pintu terbuka dari kamar anaknya dan diikuti olehnya untuk melihat keadaan di luar. Tampak kala itu Maranada sendirian menuju garase di pekarangan rumah berisi 10 KK tersebut. Mengikuti tersangka samapi di Garase, sang ayah bertanya “Ngudyang dek (ngapain dek)” namun dijawab “sing (tidak)”. Selanjutnya, Russiani datang lalu jongkok bersama suaminya menghadap timur. 

Kembali Geliduh bertanya kali ini pada menantunya “Ngudyang dini luh (ngapain di sini luh)” dan mendapatkan jawaban serupa “sing je (tidak ngapain)”. Tak memperoleh penjelasan, pria tua itu  beranjak menuju menuju kamar mandi sekitar 2,5 meter di depan garase. Memasuki adegan 10 dan 11 merupakan puncak tragedi berdarah, sebab baru saja sang ayah masuk toilet, tak ada angin ataupun hujan, pria dengan riwayat penyakit epilepsi itu spontan mengambil pisau di dekatnya pada meja yang tertutup tumpukan karung beras dan menghujamkan senjata itu ke leher kiri pasangan hidupnya. 

Berikutnya pisau langsung dibuang di dekat Russiana, sedangkan tersangka coba kabur keluar pekarangan. Bertepatan saat itu, wanita yang bekerja sebagai seorang staff tata usaha pada salah satu SD di Abiansemal ini berteriak, “Pak Kadek melaib,” yang didengar oleh Geliduh dan istrinya sekaligus mertua korban Ni Nyoman Yeni. Geliduh melihat korban memegangi dada sambil menunjuk anaknya yang tengah lari, lalu bergegas mengejarnya. 

Nyoman Yeni juga para kerabat satu pekarangan yang mendengar keributan, kemudian keluar menghampiri korban. Keributan ini juga sontak membuat warga sekitar jadi heboh. Mereka coba bangunkan Russiana yang tergeletak di garase. Namun alangkah terkejutnya ketika didapati leher korban berisi luka tusuk dan bersimbah darah, pun disampingnya ada pisau tersangka yang tergeletak. 

Ternyata saat kabur, pada adegan ke 22, pria yang tak memiliki pekerjaan ini mendatangi warung nasi goreng milik Gusti Made Dyana Putra untuk meminjam pisau. “Pada saat itu tersangka tidak mengenakan baju dan belum ada luka di hulu hati,” lanjutnya. Orang-orang yang akhirnya mengetahui kejadian itu bernama Wayan Suwitra dan Made Oka Suparwita, ikut mencari keberadaan Maranada, hingga mendengar suara “Aduh-aduh” di dekat TPA Desa Jagapati. 

Didapati tersangka dalam keadaan tengadah hanya mengenakan celana di sungai dengan luka di ulu hatinya. Sehingga mereka memberi tahu warga lain untuk memanggil ambulan dan membawanya ke RSD Mangusada. Pada adegan terakhir memperlihatkan Geliduh yang kembali pulang namun melihat rumahnya sudah ramai oleh warga dan menantunya sudah di naikan ke ambulans. Sayangnya dalam rekonstruksi ini, motif atau apa yang memicu Maranada nekat menghabisi istrinya belum dijelaskan juga. (ges)


BADUNG, BALI EXPRESS – Rekonstruksi dari kasus suami tusuk istri di rumah Banjar Sibang, Desa Jagapati, Abiansemal, Badung, akhirnya digelar Polres Badung pada Jumat (6/8). Proses itu dilangsungkan di Mapolres Badung, dengan memperagakan total 26 adegan.

Tersangka I Made Maranada, 34, juga hadir, kembali memerankan langsung aksi brutal terhadap istrinya Ni Luh Putu Russiani, 24. Mengambil latar waktu saat kejadian pada (18/6), adegan pertama dimulai dengan saksi I Made Geliduh, 60, sekaligus ayah tersangka mendengar sang anak dan pasangannya yang belum dikaruniai anak itu ngobrol dari kamar di sebelah kamar tidurnya. “Mereka bahkan tertawa-tawa, dalam obrolannya,” tutur Kasubbag Humas Polres Badung, Iptu Ketut Gede Oka Bawa berdasarkan rekonstruksi itu.

Berselang sejam kemudian, Geliduh mendengar pintu terbuka dari kamar anaknya dan diikuti olehnya untuk melihat keadaan di luar. Tampak kala itu Maranada sendirian menuju garase di pekarangan rumah berisi 10 KK tersebut. Mengikuti tersangka samapi di Garase, sang ayah bertanya “Ngudyang dek (ngapain dek)” namun dijawab “sing (tidak)”. Selanjutnya, Russiani datang lalu jongkok bersama suaminya menghadap timur. 

Kembali Geliduh bertanya kali ini pada menantunya “Ngudyang dini luh (ngapain di sini luh)” dan mendapatkan jawaban serupa “sing je (tidak ngapain)”. Tak memperoleh penjelasan, pria tua itu  beranjak menuju menuju kamar mandi sekitar 2,5 meter di depan garase. Memasuki adegan 10 dan 11 merupakan puncak tragedi berdarah, sebab baru saja sang ayah masuk toilet, tak ada angin ataupun hujan, pria dengan riwayat penyakit epilepsi itu spontan mengambil pisau di dekatnya pada meja yang tertutup tumpukan karung beras dan menghujamkan senjata itu ke leher kiri pasangan hidupnya. 

Berikutnya pisau langsung dibuang di dekat Russiana, sedangkan tersangka coba kabur keluar pekarangan. Bertepatan saat itu, wanita yang bekerja sebagai seorang staff tata usaha pada salah satu SD di Abiansemal ini berteriak, “Pak Kadek melaib,” yang didengar oleh Geliduh dan istrinya sekaligus mertua korban Ni Nyoman Yeni. Geliduh melihat korban memegangi dada sambil menunjuk anaknya yang tengah lari, lalu bergegas mengejarnya. 

Nyoman Yeni juga para kerabat satu pekarangan yang mendengar keributan, kemudian keluar menghampiri korban. Keributan ini juga sontak membuat warga sekitar jadi heboh. Mereka coba bangunkan Russiana yang tergeletak di garase. Namun alangkah terkejutnya ketika didapati leher korban berisi luka tusuk dan bersimbah darah, pun disampingnya ada pisau tersangka yang tergeletak. 

Ternyata saat kabur, pada adegan ke 22, pria yang tak memiliki pekerjaan ini mendatangi warung nasi goreng milik Gusti Made Dyana Putra untuk meminjam pisau. “Pada saat itu tersangka tidak mengenakan baju dan belum ada luka di hulu hati,” lanjutnya. Orang-orang yang akhirnya mengetahui kejadian itu bernama Wayan Suwitra dan Made Oka Suparwita, ikut mencari keberadaan Maranada, hingga mendengar suara “Aduh-aduh” di dekat TPA Desa Jagapati. 

Didapati tersangka dalam keadaan tengadah hanya mengenakan celana di sungai dengan luka di ulu hatinya. Sehingga mereka memberi tahu warga lain untuk memanggil ambulan dan membawanya ke RSD Mangusada. Pada adegan terakhir memperlihatkan Geliduh yang kembali pulang namun melihat rumahnya sudah ramai oleh warga dan menantunya sudah di naikan ke ambulans. Sayangnya dalam rekonstruksi ini, motif atau apa yang memicu Maranada nekat menghabisi istrinya belum dijelaskan juga. (ges)


Most Read

Artikel Terbaru

/