alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Wisatawan Sepi, Pemandu Wisata Jualan Bumbu Rujak

GIANYAR, BALI EXPRESS – Akibat wisatawan sepi terdampak Covid-19 membuat pemandu perjalanan wisata, Desak Made Sriastuti,  mencari cara bertahan hidup dengan menjual bumbu rujak.

Hal itu ia jelaskan  saat dalam perjalanan memandu rombongan studi komparatif Dinas Kominfo Kabupaten Gianyar ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, Jumat (4/12). 

Ia menjelaskan, menjual bumbu rujak sebagai pekerjaan tambahannya sejak pandemi awal tahun 2020. Guide asal Banjar Tak, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem ini, memilih meracik bumbu rujak dan mengandalkan rasa khas terasi lombok, gula Jawa, asem, dan cuka.

“Pandemi ini membuat saya alih profesi. Karena bosan di rumah, sepi job akhirnya saya meracik bumbu rujak,” jelas wanita 44 tahun yang selalu menerapkan protokol kesehatan Covid-19 ini.

Bumbu rujak racikannya, hanya disempurnakan lagi karena sejak masih muda, Desak memang suka makan rujak sekaligus membuat bumbu.

“Biasa, sebelum pandemi setiap saya memandu wisatawan pasti bawa bumbu rujak. Rekan sesama guide sering saya ajak ngarujak, katanya enak. Makanya disarankan untuk memproduksi banyak,” ungkapnya. 

Semenjak saat itulah, setiap memandu wisatawan Desak selalu membawa bumbu rujak yang diberikan nama Bumbu Rujak Cempreng. “Baru-baru ini mulai ada kunjungan wisata, tapi tidak seramai dahulu. Dalam setiap kesempatan, bumbu rujak ini pasti saya tawarkan kepada mereka,” sambungnya. 

“Per botol paling untung Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Tidak banyak, tapi membuat saya semangat melewati pandemi,” jelas Desak yang tinggal di Desa Senteluk, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat ini. 

Ditambahkannya, meski keuntungan tidak banyak, terpenting baginya adalah tidak menyerah dengan kondisi pandemi, seperti saat ini. Yang utama tak kalah pentingnya adalah jaga kesehatan, dengan disiplin menggunakan masker, juga jaga jarak, dan cuci tangan dengan sabun di air mengalir.

Desak mengaku mulai menjadi guide sejak tahun 2005 lalu. Sebelumnya Desak yang memang lahir dan besar di Lombok, sempat bekerja di hotel dan perusahaan asing. “Selama tujuh tahun saya pernah rutin bolak balik Bali-Lombok, sekarang fokus disini jadi guide travel,” terangnya.

Soal harga? Desak menawarkan bumbu rujak racikannya dalam tiga botol berbeda. Kemasan botol ukuran 200 ml dengan harga Rp 20 ribu. Ukuran 400 ml harga Rp 30 ribu, dan ukuran 600 ml harganya Rp 45 ribu.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Akibat wisatawan sepi terdampak Covid-19 membuat pemandu perjalanan wisata, Desak Made Sriastuti,  mencari cara bertahan hidup dengan menjual bumbu rujak.

Hal itu ia jelaskan  saat dalam perjalanan memandu rombongan studi komparatif Dinas Kominfo Kabupaten Gianyar ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, Jumat (4/12). 

Ia menjelaskan, menjual bumbu rujak sebagai pekerjaan tambahannya sejak pandemi awal tahun 2020. Guide asal Banjar Tak, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem ini, memilih meracik bumbu rujak dan mengandalkan rasa khas terasi lombok, gula Jawa, asem, dan cuka.

“Pandemi ini membuat saya alih profesi. Karena bosan di rumah, sepi job akhirnya saya meracik bumbu rujak,” jelas wanita 44 tahun yang selalu menerapkan protokol kesehatan Covid-19 ini.

Bumbu rujak racikannya, hanya disempurnakan lagi karena sejak masih muda, Desak memang suka makan rujak sekaligus membuat bumbu.

“Biasa, sebelum pandemi setiap saya memandu wisatawan pasti bawa bumbu rujak. Rekan sesama guide sering saya ajak ngarujak, katanya enak. Makanya disarankan untuk memproduksi banyak,” ungkapnya. 

Semenjak saat itulah, setiap memandu wisatawan Desak selalu membawa bumbu rujak yang diberikan nama Bumbu Rujak Cempreng. “Baru-baru ini mulai ada kunjungan wisata, tapi tidak seramai dahulu. Dalam setiap kesempatan, bumbu rujak ini pasti saya tawarkan kepada mereka,” sambungnya. 

“Per botol paling untung Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Tidak banyak, tapi membuat saya semangat melewati pandemi,” jelas Desak yang tinggal di Desa Senteluk, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat ini. 

Ditambahkannya, meski keuntungan tidak banyak, terpenting baginya adalah tidak menyerah dengan kondisi pandemi, seperti saat ini. Yang utama tak kalah pentingnya adalah jaga kesehatan, dengan disiplin menggunakan masker, juga jaga jarak, dan cuci tangan dengan sabun di air mengalir.

Desak mengaku mulai menjadi guide sejak tahun 2005 lalu. Sebelumnya Desak yang memang lahir dan besar di Lombok, sempat bekerja di hotel dan perusahaan asing. “Selama tujuh tahun saya pernah rutin bolak balik Bali-Lombok, sekarang fokus disini jadi guide travel,” terangnya.

Soal harga? Desak menawarkan bumbu rujak racikannya dalam tiga botol berbeda. Kemasan botol ukuran 200 ml dengan harga Rp 20 ribu. Ukuran 400 ml harga Rp 30 ribu, dan ukuran 600 ml harganya Rp 45 ribu.


Most Read

Artikel Terbaru

/