alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Bersejarah dan Ekonomis, Baliphex 2021 Pamerkan Puluhan Ribu Perangko

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sama halnya dengan lukisan dan patung, perangko atau yang juga dikenal dengan sebutan filateli juga bernilai sebagai benda koleksi. Ada beberapa alasan seseorang menjadi filatelis (kolektor perangko). Diantaranya rasa tertarik akan seni yang termuat dalam perangko, bisa dilombakan, dan merupakan benda seni yang memiliki sisi ekonomis.

Dari sisi ekonomi, filateli bagi seorang kolektor bernilai tinggi. Sebab, selain produksinya yang tak seberapa, ada sejumlah perangko langka dan memiliki misi khusus di dalamnya. Hal inilah yang menyebabkan perangko bernilai tinggi.

“Sebuah koleksi bernilai berdasarkan kelangkaannya. Dari usia, bisa juga dari popularitasnya. Misalnya seperti filateli edisi Baliphex, dari empat tahun terakhir ini sebenarnya adalah koleksi terbaru. Tetapi kemasan Baliphex dikoleksi oleh filatelis seluruh dunia, sehingga harganya terangkat. Bahkan bisa mengalahkan harga perangko yang diterbitkan 40, 50 tahun lampau karena temanya menarik, jumlahnya terbatas, ya hukum ekonomi berlaku. Jadi bagaimana mengemas filateli,” papar Chairman Baliphex, Gede Ngurah Surya Hadinata pada Bali Philately Exhibition 2021 yang digelar di Level 21 Mall Denpasar, Senin (6/12).

Saking bernilainya sebuah perangko langka, Surya menambahkan, sudah ada perangko yang memecahkan rekor untuk satu kepingnya bernilai sampai miliaran rupiah. Bahkan ada yang menyentuh harga Rp 8 miliar untuk satu keping perangko. “Ini jenis perangko yang hanya ada satu, atau dua di dunia, seperti british guiana, british magenta, perangko-perangko yang memiliki sisi sejarah,” katanya.

Namun diakuinya, sejak pandemi Covid-19, secara umum kegiatan pelelangan perangko mulai turun, tetapi secara nilai perangko tetap tinggi. Untuk itu, pihaknya menyelenggarakan Bali Philately Exhibition (Baliphex) yang ke-13 untuk menunjukkan sisi bernilai dari sebuah perangko. Serta, menunjukkan bahwa pameran perangko secara fisik masih eksis.

Kali ini, pihaknya menggandeng tiga negara sebagai peserta, yakni Indonesia, India, dan Uni Emirate Arab. Di Indonesia sendiri, diikuti oleh peserta asal Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Bali dengan total 90 peserta. Ada sekitar 100 koleksi yang dipajang di 200 frame. “Jadi kalau 1 frame isinya 16 lembar A4, 16 lembar A4 isinya bisa 10 perangko, satu kartu pos, jadi ada sekitar puluhan ribu keping perangko dipajang di sini dan benar-benar bernilai,” sebutnya.

Pameran perangko ini digelar pada 3 Desember sampai 7 Desember 2021, mulai dari pukul 11.00-21.00 Wita. Selain secara fisik, pameran filateli ini juga digelar secara digital. Secara umum, perangko tertua yang diikutsertakan yakni perangko terbitan tahun 1864. Sedangkan yang ditampilkan secara fisik terbitan tahun 1879 dalam bentuk poster stationary, amplop atau kartu pos dengan cetakan perangko jaman Hindia Belanda.

Selain itu, pameran perangko Baliphex juga menyediakan booth-booth penjualan perangko. Mulai dari booth PT Pos Indonesia yang menyediakan perangko-perangko premiernya, Kantor Pos Antang, dan stand panitia yang menyediakan edisi khusus untuk Baliphex 2021. “Karena bagaimana pun pameran memerlukan media bagi filatelis untuk mendapatkan koleksinya,” katanya.

Sisi menarik bagi filatelis, pameran perangko merupakan media untuk faktualisasi diri, menampilkan karya dan semacam konservasi, memperkenalkan perangko ke masyarakat, sehingga perangko tidak semata-mata sebagai objek koleksi. “Okelah perangko sebagai media pengiriman surat tetap berjalan, namun sebagai alat komunikasi sudah menjadi nomor ke sekian karena sudah dikalahkan dengan WhatsApp, dan sosial media lain. Tetapi fungsi perangko tidak hanya sebagai alat komunikasi, dia juga sebagai barang koleksi karena dirancang oleh seniman,” jelasnya.

Selain itu, perangko juga sebagai lambang kedaulatan negara. Yang mana, mau tidak mau mesti ada bagi negara yang berdaulat. Perangko juga sebagai lambang persahabatan antar negara. “Perangko merekam sejarah,” tandasnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Sama halnya dengan lukisan dan patung, perangko atau yang juga dikenal dengan sebutan filateli juga bernilai sebagai benda koleksi. Ada beberapa alasan seseorang menjadi filatelis (kolektor perangko). Diantaranya rasa tertarik akan seni yang termuat dalam perangko, bisa dilombakan, dan merupakan benda seni yang memiliki sisi ekonomis.

Dari sisi ekonomi, filateli bagi seorang kolektor bernilai tinggi. Sebab, selain produksinya yang tak seberapa, ada sejumlah perangko langka dan memiliki misi khusus di dalamnya. Hal inilah yang menyebabkan perangko bernilai tinggi.

“Sebuah koleksi bernilai berdasarkan kelangkaannya. Dari usia, bisa juga dari popularitasnya. Misalnya seperti filateli edisi Baliphex, dari empat tahun terakhir ini sebenarnya adalah koleksi terbaru. Tetapi kemasan Baliphex dikoleksi oleh filatelis seluruh dunia, sehingga harganya terangkat. Bahkan bisa mengalahkan harga perangko yang diterbitkan 40, 50 tahun lampau karena temanya menarik, jumlahnya terbatas, ya hukum ekonomi berlaku. Jadi bagaimana mengemas filateli,” papar Chairman Baliphex, Gede Ngurah Surya Hadinata pada Bali Philately Exhibition 2021 yang digelar di Level 21 Mall Denpasar, Senin (6/12).

Saking bernilainya sebuah perangko langka, Surya menambahkan, sudah ada perangko yang memecahkan rekor untuk satu kepingnya bernilai sampai miliaran rupiah. Bahkan ada yang menyentuh harga Rp 8 miliar untuk satu keping perangko. “Ini jenis perangko yang hanya ada satu, atau dua di dunia, seperti british guiana, british magenta, perangko-perangko yang memiliki sisi sejarah,” katanya.

Namun diakuinya, sejak pandemi Covid-19, secara umum kegiatan pelelangan perangko mulai turun, tetapi secara nilai perangko tetap tinggi. Untuk itu, pihaknya menyelenggarakan Bali Philately Exhibition (Baliphex) yang ke-13 untuk menunjukkan sisi bernilai dari sebuah perangko. Serta, menunjukkan bahwa pameran perangko secara fisik masih eksis.

Kali ini, pihaknya menggandeng tiga negara sebagai peserta, yakni Indonesia, India, dan Uni Emirate Arab. Di Indonesia sendiri, diikuti oleh peserta asal Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Bali dengan total 90 peserta. Ada sekitar 100 koleksi yang dipajang di 200 frame. “Jadi kalau 1 frame isinya 16 lembar A4, 16 lembar A4 isinya bisa 10 perangko, satu kartu pos, jadi ada sekitar puluhan ribu keping perangko dipajang di sini dan benar-benar bernilai,” sebutnya.

Pameran perangko ini digelar pada 3 Desember sampai 7 Desember 2021, mulai dari pukul 11.00-21.00 Wita. Selain secara fisik, pameran filateli ini juga digelar secara digital. Secara umum, perangko tertua yang diikutsertakan yakni perangko terbitan tahun 1864. Sedangkan yang ditampilkan secara fisik terbitan tahun 1879 dalam bentuk poster stationary, amplop atau kartu pos dengan cetakan perangko jaman Hindia Belanda.

Selain itu, pameran perangko Baliphex juga menyediakan booth-booth penjualan perangko. Mulai dari booth PT Pos Indonesia yang menyediakan perangko-perangko premiernya, Kantor Pos Antang, dan stand panitia yang menyediakan edisi khusus untuk Baliphex 2021. “Karena bagaimana pun pameran memerlukan media bagi filatelis untuk mendapatkan koleksinya,” katanya.

Sisi menarik bagi filatelis, pameran perangko merupakan media untuk faktualisasi diri, menampilkan karya dan semacam konservasi, memperkenalkan perangko ke masyarakat, sehingga perangko tidak semata-mata sebagai objek koleksi. “Okelah perangko sebagai media pengiriman surat tetap berjalan, namun sebagai alat komunikasi sudah menjadi nomor ke sekian karena sudah dikalahkan dengan WhatsApp, dan sosial media lain. Tetapi fungsi perangko tidak hanya sebagai alat komunikasi, dia juga sebagai barang koleksi karena dirancang oleh seniman,” jelasnya.

Selain itu, perangko juga sebagai lambang kedaulatan negara. Yang mana, mau tidak mau mesti ada bagi negara yang berdaulat. Perangko juga sebagai lambang persahabatan antar negara. “Perangko merekam sejarah,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/