alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Oknum Pedagang Diduga Peras Wisatawan Desa Adat Kuta Beri Ancaman

KUTA, BALI EXPRESS – Beberapa oknum pedagang diduga melakukan pemerasan di Pantai Kuta. Pasalnya saat menawarkan jasa pijat sejumlah oknum tersebut meminta imbalan yang tidak wajar.

Isu tidak sedap itu sempat mencuat di media sosial. Mengetahui hal tersebut Ketua Satgas Pantai Kuta Wayan Sirna mengaku, telah melakukan langkah tindak lanjut. Seluruh pedagang dikumpulkan, untuk diberikan pemahaman dan penegasan. 

“Kami sudah kumpulkan pada hari Sabtu lalu. Kami tegaskan kepada mereka agar memberikan pelayanan dengan baik, dan jangan sampai menimbulkan rasa tidak nyaman,” ujar Sirna saat dikonfirmasi Senin (6/12). 

Menurutnya, pemaksaan yang dilakukan oleh pedagang akibat dari sepinya wisatawan. Sehingga ia mencontohkan pedagang yang biasanya berjualan kain menawarkan jasa lainnya seperti pijat.

“Kami meminta kepada pedagang juga untuk kembali kepada kekhususan layanannya masing-masing. Tidak lagi menawarkan jasa, di luar kekhususannya. Selain itu, lokasi pelayanan mereka juga kami minta untuk tidak keluar dari zonanya masing-masing,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista membenarkan bahwa informasi yang beredar di media sosial itu benar dan terbukti. Pihaknya pun siap memberikan sanksi tegas kepada oknum pedagang bersangkutan. Termasuk dengan mencabut kartu pedagang yang dimiliki oleh setiap pedagang pantai. 

“Kalau ada wisatawan yang mengalami hal serupa, maka silahkan langsung laporkan ke Satgas Pantai. Jika itu benar dan terbukti, maka kami akan skorsing. Bahkan kalau jika tetap saja melakukan hal serupa, maka mau tidak mau kami akan cabut kartunya, sehingga tidak boleh lagi berjualan di pantai,” tegasnya. 

Selain itu, para wisawatan juga diminta untuk menolak secara langsung jika memang tidak mau menggunakan jasa ataupun membeli produk para pedagang. 

Kendadi demikian di sisi lain, Wasista juga berharap agar para wisatawan bisa menggunakan jasa ataupun membeli produk para pedagang. Lantaran hal tersebut juga sebagai bentuk kontribusi dalam membantu perekonomian masyarakat Kuta di tengah pandemi. 

“Kebetulan juga sekarang ini kami dalam masa berbenah. Aktivitas pedagang pantai nanti akan berada di bawah salah satu unit dari BUPDA (Badan Usaha Milik Desa Adat),” pungkasnya. 


KUTA, BALI EXPRESS – Beberapa oknum pedagang diduga melakukan pemerasan di Pantai Kuta. Pasalnya saat menawarkan jasa pijat sejumlah oknum tersebut meminta imbalan yang tidak wajar.

Isu tidak sedap itu sempat mencuat di media sosial. Mengetahui hal tersebut Ketua Satgas Pantai Kuta Wayan Sirna mengaku, telah melakukan langkah tindak lanjut. Seluruh pedagang dikumpulkan, untuk diberikan pemahaman dan penegasan. 

“Kami sudah kumpulkan pada hari Sabtu lalu. Kami tegaskan kepada mereka agar memberikan pelayanan dengan baik, dan jangan sampai menimbulkan rasa tidak nyaman,” ujar Sirna saat dikonfirmasi Senin (6/12). 

Menurutnya, pemaksaan yang dilakukan oleh pedagang akibat dari sepinya wisatawan. Sehingga ia mencontohkan pedagang yang biasanya berjualan kain menawarkan jasa lainnya seperti pijat.

“Kami meminta kepada pedagang juga untuk kembali kepada kekhususan layanannya masing-masing. Tidak lagi menawarkan jasa, di luar kekhususannya. Selain itu, lokasi pelayanan mereka juga kami minta untuk tidak keluar dari zonanya masing-masing,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista membenarkan bahwa informasi yang beredar di media sosial itu benar dan terbukti. Pihaknya pun siap memberikan sanksi tegas kepada oknum pedagang bersangkutan. Termasuk dengan mencabut kartu pedagang yang dimiliki oleh setiap pedagang pantai. 

“Kalau ada wisatawan yang mengalami hal serupa, maka silahkan langsung laporkan ke Satgas Pantai. Jika itu benar dan terbukti, maka kami akan skorsing. Bahkan kalau jika tetap saja melakukan hal serupa, maka mau tidak mau kami akan cabut kartunya, sehingga tidak boleh lagi berjualan di pantai,” tegasnya. 

Selain itu, para wisawatan juga diminta untuk menolak secara langsung jika memang tidak mau menggunakan jasa ataupun membeli produk para pedagang. 

Kendadi demikian di sisi lain, Wasista juga berharap agar para wisatawan bisa menggunakan jasa ataupun membeli produk para pedagang. Lantaran hal tersebut juga sebagai bentuk kontribusi dalam membantu perekonomian masyarakat Kuta di tengah pandemi. 

“Kebetulan juga sekarang ini kami dalam masa berbenah. Aktivitas pedagang pantai nanti akan berada di bawah salah satu unit dari BUPDA (Badan Usaha Milik Desa Adat),” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/