alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Rebranding Pelabuhan Tua Buleleng Lewat Pameran Usada

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pengobatan secara tradisonal di Bali disebut dengan usada. Usada yang menjadi cara penyembuhan bagi orang Bali pada jaman dahulu diabadikan lewat lontar-lontar usada. Lontar itu banyak terdapat dalam koleksi Gedong Kirtya. Sebanyak lima lontar usada dipamerkan di Museum Soenda Ketjil, Pelabuhan Tua Buleleng. Diantaranya lontar Usada Buduh, lontar Usada Rare, lontar Usada Sari, lontar Usada Taru Premana dan yang paling unik adalah lontar Rukmini Tattwa. Pameran usada yang digelar pada Senin (6/12) itu pun akan berlangsung hingga Rabu (8/12) mendatang.

Pameran ini pula sebagai salah satu langkah untuk merebranding pelabuhan Buleleng sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Singaraja. “Kami ingin rebranding kembali pariwisata Buleleng yakni Pelabuhan Buleleng. Selama ini pelabuhan ini disebut sebagai Eks Pelabuhan Buleleng. Sekarang kami rebranding kembali dengan nama Pelabuhan Tua Buleleng. Rebranding ini sebagai upaya pemajuan dari sisi pariwisatanya,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara.

Selain sebagai upaya rebranding dari Pelabuhan Tua Buleleng, pameran usada dengan mengenalkan berbagai tanaman obat-obatan tradisional itu juga sebagai wadah untuk edukasi mesyarakat. Rempah-rempah yang didisplay pada Museum Soeda Ketjil itu dilengkapi dengan narasi singkat. Benda-benda itu pun merupakan bagian dari isi lontar-lontar yang dipamerkan pada kegiatan itu. “Momentum ini digunakan sebagai ajang edukasi untuk masyarakat. Dan sebagai wujud untuk memamerkan kekayaan warisan leluhur trutama di bidang usada,” tambahnya.

Salah satu lontar yang sangat unik adalah lontar Rukmini Tattwa. Sebab, dalam lontar tersebut banyak mengulas tentang perawatan organ intim kewanitaan dan juga organ intik lelaki (usada penglanang). Tidak saja organ intim, namun juga bagian tubuh lainnya. Ekstrimnya lagi, leluhur pada jaman dahulu mencatatkan resep untuk merawat vagina agar tetap rasa perawan serta resep agar kejantanan para pria tetap mantap. Mulai dari memperpanjang, memperbesar hingga tahan lama.

Dalam lontar Rukmini Tattwa juga dipandu bagaimana merawat rahim agar memperoleh keturunan bagi mereka yang sulit memperoleh keturunan dalam jangka waktu yang panjang. “Tapi pada intinya adalah punya anak banyak. Selama belum berhasil,maka ramuan ini pun tetap dikonsumsi hingga berhasil memperoleh anak. Ini biasanya digunakan oleh balian-balian. Seperti balian tenung, tenung wong beling dan sebagainya. Masalah jadi atau tidaknya itu rahasia Tuhan. Kita tugasnya menjalankan. Begitu yang tercatat dalam lontar,” ujar Putu Suarsana, Ahli Baca Lontar Gedong Kirtya.

 

Disinggung mengenai porduk-produk kecantikan masa kini yang banyak beredar, Suarsana belum meyakini masih ada yang menggunakan bahan-bahan yang bersumber dari naskah kuno ini. Akan tetapi salah satu produk kecantikan seperti Marta Tilaar sebagian masih menggunakan beberapa bahan yang tersirat didalamnya.

Sementara itu, Lontar Taru Pramana adalah salah satu lontar yang disebutkan sebagai ajaran suci dari Bhatari Ghori (Durga) yang diturunkan ke Mpu Kuturan ketika dunia dilanda gerubug. Dunia dilanda wabah cakbyag (mati di tempat) yang memakan korban sebagian warga. Dalam suasana itu sedih dan tergerak hati Mpu Kuturan. Ia melakukan tapa memuja Bhatara agar diberi kekuatan penyembuhan.

Ajaran yang diterima dalam tapa itu dikenal sebagai lontar Taru Pramana. Lontar ini menyebutkan setidaknya 202 tumbuhan di sekitar adalah obat yang mujarab yang bisa dipakai ketika masyarakat dilanda wabah. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pengobatan secara tradisonal di Bali disebut dengan usada. Usada yang menjadi cara penyembuhan bagi orang Bali pada jaman dahulu diabadikan lewat lontar-lontar usada. Lontar itu banyak terdapat dalam koleksi Gedong Kirtya. Sebanyak lima lontar usada dipamerkan di Museum Soenda Ketjil, Pelabuhan Tua Buleleng. Diantaranya lontar Usada Buduh, lontar Usada Rare, lontar Usada Sari, lontar Usada Taru Premana dan yang paling unik adalah lontar Rukmini Tattwa. Pameran usada yang digelar pada Senin (6/12) itu pun akan berlangsung hingga Rabu (8/12) mendatang.

Pameran ini pula sebagai salah satu langkah untuk merebranding pelabuhan Buleleng sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Singaraja. “Kami ingin rebranding kembali pariwisata Buleleng yakni Pelabuhan Buleleng. Selama ini pelabuhan ini disebut sebagai Eks Pelabuhan Buleleng. Sekarang kami rebranding kembali dengan nama Pelabuhan Tua Buleleng. Rebranding ini sebagai upaya pemajuan dari sisi pariwisatanya,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara.

Selain sebagai upaya rebranding dari Pelabuhan Tua Buleleng, pameran usada dengan mengenalkan berbagai tanaman obat-obatan tradisional itu juga sebagai wadah untuk edukasi mesyarakat. Rempah-rempah yang didisplay pada Museum Soeda Ketjil itu dilengkapi dengan narasi singkat. Benda-benda itu pun merupakan bagian dari isi lontar-lontar yang dipamerkan pada kegiatan itu. “Momentum ini digunakan sebagai ajang edukasi untuk masyarakat. Dan sebagai wujud untuk memamerkan kekayaan warisan leluhur trutama di bidang usada,” tambahnya.

Salah satu lontar yang sangat unik adalah lontar Rukmini Tattwa. Sebab, dalam lontar tersebut banyak mengulas tentang perawatan organ intim kewanitaan dan juga organ intik lelaki (usada penglanang). Tidak saja organ intim, namun juga bagian tubuh lainnya. Ekstrimnya lagi, leluhur pada jaman dahulu mencatatkan resep untuk merawat vagina agar tetap rasa perawan serta resep agar kejantanan para pria tetap mantap. Mulai dari memperpanjang, memperbesar hingga tahan lama.

Dalam lontar Rukmini Tattwa juga dipandu bagaimana merawat rahim agar memperoleh keturunan bagi mereka yang sulit memperoleh keturunan dalam jangka waktu yang panjang. “Tapi pada intinya adalah punya anak banyak. Selama belum berhasil,maka ramuan ini pun tetap dikonsumsi hingga berhasil memperoleh anak. Ini biasanya digunakan oleh balian-balian. Seperti balian tenung, tenung wong beling dan sebagainya. Masalah jadi atau tidaknya itu rahasia Tuhan. Kita tugasnya menjalankan. Begitu yang tercatat dalam lontar,” ujar Putu Suarsana, Ahli Baca Lontar Gedong Kirtya.

 

Disinggung mengenai porduk-produk kecantikan masa kini yang banyak beredar, Suarsana belum meyakini masih ada yang menggunakan bahan-bahan yang bersumber dari naskah kuno ini. Akan tetapi salah satu produk kecantikan seperti Marta Tilaar sebagian masih menggunakan beberapa bahan yang tersirat didalamnya.

Sementara itu, Lontar Taru Pramana adalah salah satu lontar yang disebutkan sebagai ajaran suci dari Bhatari Ghori (Durga) yang diturunkan ke Mpu Kuturan ketika dunia dilanda gerubug. Dunia dilanda wabah cakbyag (mati di tempat) yang memakan korban sebagian warga. Dalam suasana itu sedih dan tergerak hati Mpu Kuturan. Ia melakukan tapa memuja Bhatara agar diberi kekuatan penyembuhan.

Ajaran yang diterima dalam tapa itu dikenal sebagai lontar Taru Pramana. Lontar ini menyebutkan setidaknya 202 tumbuhan di sekitar adalah obat yang mujarab yang bisa dipakai ketika masyarakat dilanda wabah. 


Most Read

Artikel Terbaru

/