27.6 C
Denpasar
Saturday, February 4, 2023

Pedanda Baka, Pesan Bijak Surya Darma Respon Situasi Pandemi

DENPASAR, BALI EXPRESS-Seniman I Gede Made Surya Darma merespon situasi pandemi Covid-19 ini dengan caranya sendiri. Sebagai seorang seniman, ia menuangkan ide unik dan kreatif sekaligus menyelipkan pesan kepada semua masyarakat bagaimana kondisi dunia saat ini.

Pameran seni rupa bertajuk ‘Sip Setiap Saat’ yang digelar di Griya Santrian Hotel Sanur, Rabu (6/1) menampilkan berbagai karya, salah satunya karya lukis I Gede Made Surya Darma bertajuk Pedanda Baka. Tak sekadar memajang karya, Surya Darma juga helat performance art berjudul ‘Blind in Paradise’ di kolam renang hotel.

Kenapa harus di kolam renang dan   dinamai Blind in Paradise?  Gede Made Surya Darma menjelaskan, karya  berjudul Pedanda Baka ini pernah dipamerkan di Musem Nasional Bangalore di India pada 2011 silam, dalam tajuk Dawn-Dusk Live Art. “Kebetulan kejadiannya sekarang dan di India sama-sama di dalam air. Jadi sekarang ada kedekatan konsep,” tuturnya. 

Pemilihan nama ‘Blind in Paradise’ ini, dalam performance art, lanjut Surya Darma, dimana kolam renang ditutupi berbagai macam bunga, sebagai simbol dari paradise itu sendiri atau keindahan kehidupan duniawi. Sedangkan lukisan Pedanda Baka dibiarkan menggambang di antara taburan bunga di dalam kolam renang. 

Di sisi lain Surya Darma menebarkan print di atas kertas mengenai sejarah Virus Korona yang melanda dunia dan dampak yang ditimbulkannya. Konsep tersebut menurutnya mengandung makna bahwa kearifan lokal atau cerita rakyat seperti Pedanda Baka, banyak mengandung pesan moral yang bisa dijadikan suluh hidup.

Dalam garapan seni itu, Surya Darma mengawali dengan melantunkan tembang Alas Arum. Tembang ini biasanya dinyanyikan dalang sebelum pementasan cerita pawayangan. Surya Darma memaknai itu sebagai simbol bahwa Tuhan dalam menciptakan alam, diawali getaran atau alunan suara indah yaitu ‘AUM atau OM’. 

Surya Darma mencoba merefleksikan proses penciptaan alam itu dengan melantunkan tembang dan direspons alunan suara gender, gitar, Dj, musik Didgeridoo, dan jimbe.

Dalam peformance art ini, Surya Darma berkolaborasi dengan seniman lainnya, yakni musisi DJ Kamau Abayomi dari California, Amerika. Dalang wayang kulit dari Sanggar Seni Kembang Bali, I Putu Purwangsa Nagara (Wawan Bracuk), D Jimmy Tedjalaksana (musisi dan founder Virama Music Studio) dan Kadek Dedy Sumantra Yasa (seniman).

Surya Darma menaburkan bunga ke dalam kolam renang, sebagai simbol makrokosmos. Lukisan Pedanda Baka yang diapungkan di air itu sebagai simbol tatwa dari kearifan cerita Tantri itu sendiri.

“Saya mengambang di permukaan air dengan tebaran bunga dan kertas yang diprint tentang sejarah virus melanda dunia. Mata saya ditutup sebagai simbol bahwa tidak bisa jelas melihat mana yang benar mana yang salah,” katanya, sembari menambahkan konsep ini ia persiapkan sejak 3 bulan lalu.

“Seolah-olah buta dalam kegemerlapan kehidupan duniawi. Dengan adanya situasi dunia yang tidak menentu tersebutlah, saya ingin mengajak audience untuk memaknai kembali kearifan lokal dari cerita tradisional Pedanda Baka, maupun cerita rakyat lokal lainnya, sebagai sesuluh hidup pada era kekinian,” sambung pelukis yang telah malang melintang mengikuti pameran di luar negeri ini.

Mengenai lukisan Pedanda Baka tersebut, Surya Darma terinspirasi dari cerita Tantri.  Walaupun cerita ini diakuinya sudah sangat tua, namun pesan yang disampaikan sangat relevan dengan era kekinian.

“Sebagai salah satu cara untuk merespons situasi pandemi Covid-19 yang saat ini melanda dunia, saya berupaya memaknai kembali cerita Wayang Tantri yang mengisahkan cerita Pedanda Baka yang saya tuangkan ke dalam kanvas,” ujarnya.

Dikatakannya, pada zaman serba online dan era disruption saat ini, pesan yang ada dalam cerita tersebut penting dimaknai. Cerita Pedanda Baka tersebut menurutnya sangat relevan dijadikan sesuluh hidup agar kita selalu waspada, sehingga tidak mudah terkena tipu. 

Sebab, kasus penipuan dalam berbagai bentuk dan cara, sering terjadi, baik melalui internet maupun kehidupan nyata. “Dengan memaknai kisah cerita Pedanda Baka, seseorang juga diharapkan tidak melakukan penipuan. Jika itu dilakukan, lambat laun buah karmanya akan diterima. Jangan menyalahgunakan kepandaian untuk menipu sesama,” urainya.

Menurut Surya Darma, kisah certa rakyat banyak mengandung nilai budi pekerti. Pada masa pandemi ini, ketika anak-anak belajar dari rumah, orang tua perlu juga membantu membentuk karakter anak dengan nilai-nilai budi pekerti. Nilai budi pakerti itu banyak terdapat dalam kisah cerita rakyat, seperti cerita Pedanda Baka ini. 

Nilai etika dalam cerita Pedanda Baka dapat dijadikan rujukan dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, menghadapi era revolusi industri 4.0 ini.

Surya Darma dalam lukisan berukuran 185 x 280 cm itu menggambarkan seekor burung Kuntul (Pedanda Baka) berpura-pura bijak, mengenakan jubah pendeta untuk menipu ikan-ikan di sebuah telaga. 

Pedanda Baka berpura-pura membantu memindahkan ikan-ikan itu ke telaga yang lebih luas, tetapi kenyataannya semuanya dijadikan santapan. Namun, karma segera berbuah. Ia mati dicekik kepiting, karena diketahui ulah bejatnya. Pada akhirnya Pedanda Baka mati karena ulahnya sendiri. 


DENPASAR, BALI EXPRESS-Seniman I Gede Made Surya Darma merespon situasi pandemi Covid-19 ini dengan caranya sendiri. Sebagai seorang seniman, ia menuangkan ide unik dan kreatif sekaligus menyelipkan pesan kepada semua masyarakat bagaimana kondisi dunia saat ini.

Pameran seni rupa bertajuk ‘Sip Setiap Saat’ yang digelar di Griya Santrian Hotel Sanur, Rabu (6/1) menampilkan berbagai karya, salah satunya karya lukis I Gede Made Surya Darma bertajuk Pedanda Baka. Tak sekadar memajang karya, Surya Darma juga helat performance art berjudul ‘Blind in Paradise’ di kolam renang hotel.

Kenapa harus di kolam renang dan   dinamai Blind in Paradise?  Gede Made Surya Darma menjelaskan, karya  berjudul Pedanda Baka ini pernah dipamerkan di Musem Nasional Bangalore di India pada 2011 silam, dalam tajuk Dawn-Dusk Live Art. “Kebetulan kejadiannya sekarang dan di India sama-sama di dalam air. Jadi sekarang ada kedekatan konsep,” tuturnya. 

Pemilihan nama ‘Blind in Paradise’ ini, dalam performance art, lanjut Surya Darma, dimana kolam renang ditutupi berbagai macam bunga, sebagai simbol dari paradise itu sendiri atau keindahan kehidupan duniawi. Sedangkan lukisan Pedanda Baka dibiarkan menggambang di antara taburan bunga di dalam kolam renang. 

Di sisi lain Surya Darma menebarkan print di atas kertas mengenai sejarah Virus Korona yang melanda dunia dan dampak yang ditimbulkannya. Konsep tersebut menurutnya mengandung makna bahwa kearifan lokal atau cerita rakyat seperti Pedanda Baka, banyak mengandung pesan moral yang bisa dijadikan suluh hidup.

Dalam garapan seni itu, Surya Darma mengawali dengan melantunkan tembang Alas Arum. Tembang ini biasanya dinyanyikan dalang sebelum pementasan cerita pawayangan. Surya Darma memaknai itu sebagai simbol bahwa Tuhan dalam menciptakan alam, diawali getaran atau alunan suara indah yaitu ‘AUM atau OM’. 

Surya Darma mencoba merefleksikan proses penciptaan alam itu dengan melantunkan tembang dan direspons alunan suara gender, gitar, Dj, musik Didgeridoo, dan jimbe.

Dalam peformance art ini, Surya Darma berkolaborasi dengan seniman lainnya, yakni musisi DJ Kamau Abayomi dari California, Amerika. Dalang wayang kulit dari Sanggar Seni Kembang Bali, I Putu Purwangsa Nagara (Wawan Bracuk), D Jimmy Tedjalaksana (musisi dan founder Virama Music Studio) dan Kadek Dedy Sumantra Yasa (seniman).

Surya Darma menaburkan bunga ke dalam kolam renang, sebagai simbol makrokosmos. Lukisan Pedanda Baka yang diapungkan di air itu sebagai simbol tatwa dari kearifan cerita Tantri itu sendiri.

“Saya mengambang di permukaan air dengan tebaran bunga dan kertas yang diprint tentang sejarah virus melanda dunia. Mata saya ditutup sebagai simbol bahwa tidak bisa jelas melihat mana yang benar mana yang salah,” katanya, sembari menambahkan konsep ini ia persiapkan sejak 3 bulan lalu.

“Seolah-olah buta dalam kegemerlapan kehidupan duniawi. Dengan adanya situasi dunia yang tidak menentu tersebutlah, saya ingin mengajak audience untuk memaknai kembali kearifan lokal dari cerita tradisional Pedanda Baka, maupun cerita rakyat lokal lainnya, sebagai sesuluh hidup pada era kekinian,” sambung pelukis yang telah malang melintang mengikuti pameran di luar negeri ini.

Mengenai lukisan Pedanda Baka tersebut, Surya Darma terinspirasi dari cerita Tantri.  Walaupun cerita ini diakuinya sudah sangat tua, namun pesan yang disampaikan sangat relevan dengan era kekinian.

“Sebagai salah satu cara untuk merespons situasi pandemi Covid-19 yang saat ini melanda dunia, saya berupaya memaknai kembali cerita Wayang Tantri yang mengisahkan cerita Pedanda Baka yang saya tuangkan ke dalam kanvas,” ujarnya.

Dikatakannya, pada zaman serba online dan era disruption saat ini, pesan yang ada dalam cerita tersebut penting dimaknai. Cerita Pedanda Baka tersebut menurutnya sangat relevan dijadikan sesuluh hidup agar kita selalu waspada, sehingga tidak mudah terkena tipu. 

Sebab, kasus penipuan dalam berbagai bentuk dan cara, sering terjadi, baik melalui internet maupun kehidupan nyata. “Dengan memaknai kisah cerita Pedanda Baka, seseorang juga diharapkan tidak melakukan penipuan. Jika itu dilakukan, lambat laun buah karmanya akan diterima. Jangan menyalahgunakan kepandaian untuk menipu sesama,” urainya.

Menurut Surya Darma, kisah certa rakyat banyak mengandung nilai budi pekerti. Pada masa pandemi ini, ketika anak-anak belajar dari rumah, orang tua perlu juga membantu membentuk karakter anak dengan nilai-nilai budi pekerti. Nilai budi pakerti itu banyak terdapat dalam kisah cerita rakyat, seperti cerita Pedanda Baka ini. 

Nilai etika dalam cerita Pedanda Baka dapat dijadikan rujukan dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, menghadapi era revolusi industri 4.0 ini.

Surya Darma dalam lukisan berukuran 185 x 280 cm itu menggambarkan seekor burung Kuntul (Pedanda Baka) berpura-pura bijak, mengenakan jubah pendeta untuk menipu ikan-ikan di sebuah telaga. 

Pedanda Baka berpura-pura membantu memindahkan ikan-ikan itu ke telaga yang lebih luas, tetapi kenyataannya semuanya dijadikan santapan. Namun, karma segera berbuah. Ia mati dicekik kepiting, karena diketahui ulah bejatnya. Pada akhirnya Pedanda Baka mati karena ulahnya sendiri. 


Most Read

Artikel Terbaru