alexametrics
26.5 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Dugaan Pelanggaran Kode Etik, Advokat Yunaelis Disidangkan

BALI EXPRESS, DENPASAR –  Dewan Kehormatan Daerah DPC Peradi Denpasar memproses laporan dugaan pelanggaran kode etik advokat Indonesia, pengacara Ni Luh Yunaelis, setelah laporan tersebut disidangkan majelis kehormatan DPC Peradi Denpasar.

 

“Sudah disidangkan, tetapi belum ada putusannya. Kami masih periksa saksi – saksi,” ungkap Majelis Kehormatan, Ngurah Muliarta, Selasa (7/5). Saksi yang telah dimintai keterangan, yaitu pasangan suami istri Ignasius Irsel Bera, 38 dan Widiana, 26 serta Sony.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, Yunaelis dilaporkan ke Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Denpasar, Senin (18/2) oleh pasangan suami istri Ignasius Irsel Bera dan Widiana. Aduan mereka saat itu diterima langsung Ketua Peradi Denpasar, Nyoman Budi Adnyana.

 

Yunaelis dilaporkan dengan tuduhan melanggar Pasal 15 Undang – Undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003, Pasal 2 KEAI, Pasal 3 huruf (g) KEAI dan Pasal 3 huruf (h) KEAI. 

Kedua pasutri tersebut mengaku bahwa mereka ditugaskan Pak Sony untuk menjaga Vila Mauri yang berlokasi di Banjar Pasti, Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan sejak Oktober 2015 lalu. Namun pada 22 Agustus 2018 pukul 11.00 Wita, Yunaelis bersama sekitar 20 orang pecalang mendatangi vila tersebut dan mengusir mereka, tanpa sebab dan alasan yang tidak diketahui sebelumnya.

 

Saat itu, Yunaelis mengaku sebagai kuasa hukum Ibu Nyoman Karyanti. Dia dengan kasar mengusir, menyuruh pasutri tersebut pergi, dan telah menyiapkan kardus untuk mengemasi barang-barang pasutri tersebut.

 

“Saat itu, suami saya sedang di luar. Saya dengan keponakan dan ketiga anak kami disuruh kemas-kemas dan pergi. Keponakan dan anak-anak kami  ketakutan. Bahkan anak kami yang masih kecil sampai menangis karena perlakuan mereka sangat kasar,” ungkap Widiana saat itu.

 

Menurut Widiana, para pecalang itu langsung membuka kamar mereka kemudian menyuruh keponakan pasutri tersebut mengemasi barang-barang mereka di dalam kamar, kemudian dimasukkan dalam kardus yang telah disediakan. “Semua itu, Yunaelis yang suruh. Dia berdiri dan perintahkan kepada pecalang untuk buka kamar dan ambil barang-barang kami, dimasukkan dalam kardus,” ujarnya.

 

Widiana kemudian menghubungi Ignasius. Saat pria asal Lembata, NTT itu datang, ia mendapati istrinya sedang ketakutan menemui Yunaelis dan para pecalang. Sementara keponakannya, sedang menangis sambil mengemas barang-barang, serta anak-anaknya sedang menangis dalam kamar. Suara tangisan anak-anak tersebut semakin keras saat para pecalang tersebut membentak-bentak Widiana.

 

“Kami orang kecil, kami takut dan trauma. Apalagi keponakan dan anak-anak kami yang masih kecil-kecil menyaksikan. Kami baru melaporkan kasus ini setelah kami dalam keluarga merasa nyaman dan tenang. Kami melaporkan kasus ini agar tidak terulang lagi atau ada yang menjadi korban seperti kami ini,” tambah Ignasius.


BALI EXPRESS, DENPASAR –  Dewan Kehormatan Daerah DPC Peradi Denpasar memproses laporan dugaan pelanggaran kode etik advokat Indonesia, pengacara Ni Luh Yunaelis, setelah laporan tersebut disidangkan majelis kehormatan DPC Peradi Denpasar.

 

“Sudah disidangkan, tetapi belum ada putusannya. Kami masih periksa saksi – saksi,” ungkap Majelis Kehormatan, Ngurah Muliarta, Selasa (7/5). Saksi yang telah dimintai keterangan, yaitu pasangan suami istri Ignasius Irsel Bera, 38 dan Widiana, 26 serta Sony.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, Yunaelis dilaporkan ke Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Denpasar, Senin (18/2) oleh pasangan suami istri Ignasius Irsel Bera dan Widiana. Aduan mereka saat itu diterima langsung Ketua Peradi Denpasar, Nyoman Budi Adnyana.

 

Yunaelis dilaporkan dengan tuduhan melanggar Pasal 15 Undang – Undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003, Pasal 2 KEAI, Pasal 3 huruf (g) KEAI dan Pasal 3 huruf (h) KEAI. 

Kedua pasutri tersebut mengaku bahwa mereka ditugaskan Pak Sony untuk menjaga Vila Mauri yang berlokasi di Banjar Pasti, Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan sejak Oktober 2015 lalu. Namun pada 22 Agustus 2018 pukul 11.00 Wita, Yunaelis bersama sekitar 20 orang pecalang mendatangi vila tersebut dan mengusir mereka, tanpa sebab dan alasan yang tidak diketahui sebelumnya.

 

Saat itu, Yunaelis mengaku sebagai kuasa hukum Ibu Nyoman Karyanti. Dia dengan kasar mengusir, menyuruh pasutri tersebut pergi, dan telah menyiapkan kardus untuk mengemasi barang-barang pasutri tersebut.

 

“Saat itu, suami saya sedang di luar. Saya dengan keponakan dan ketiga anak kami disuruh kemas-kemas dan pergi. Keponakan dan anak-anak kami  ketakutan. Bahkan anak kami yang masih kecil sampai menangis karena perlakuan mereka sangat kasar,” ungkap Widiana saat itu.

 

Menurut Widiana, para pecalang itu langsung membuka kamar mereka kemudian menyuruh keponakan pasutri tersebut mengemasi barang-barang mereka di dalam kamar, kemudian dimasukkan dalam kardus yang telah disediakan. “Semua itu, Yunaelis yang suruh. Dia berdiri dan perintahkan kepada pecalang untuk buka kamar dan ambil barang-barang kami, dimasukkan dalam kardus,” ujarnya.

 

Widiana kemudian menghubungi Ignasius. Saat pria asal Lembata, NTT itu datang, ia mendapati istrinya sedang ketakutan menemui Yunaelis dan para pecalang. Sementara keponakannya, sedang menangis sambil mengemas barang-barang, serta anak-anaknya sedang menangis dalam kamar. Suara tangisan anak-anak tersebut semakin keras saat para pecalang tersebut membentak-bentak Widiana.

 

“Kami orang kecil, kami takut dan trauma. Apalagi keponakan dan anak-anak kami yang masih kecil-kecil menyaksikan. Kami baru melaporkan kasus ini setelah kami dalam keluarga merasa nyaman dan tenang. Kami melaporkan kasus ini agar tidak terulang lagi atau ada yang menjadi korban seperti kami ini,” tambah Ignasius.


Most Read

Artikel Terbaru

/