alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Songsong New Normal, Perajin Topeng di Puaya Siapkan Stok

GIANYAR, BALI EXPRESS – Perajin topeng, Made Candra, 43, asal Banjar Puaya, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar tetap membuat stok untuk menyongsong New Normal, meski penjualan topeng menurun drastic hingga Selasa (7/7).

Ditemui di warung yang juga sebagai bengkel kerjanya, ia menyampaikan bahwa pengerjaan satu buah topeng menghabiskan waktu lima hari. Selain topeng, ia juga membuat perlengkapannya, seperti wig atau rambut palsu, gelung hingga memperbaiki beberapa bagian topeng. “Sekarang hanya buat stok untuk persiapan saat New Normal. Karena saat pandemic, hanya hingga dua topeng yang laku,” paparnya.

Sementara untuk kayu sebagai bahan topeng, Candra mengaku didapat dari rekannya yang masih satu banjar. Di rumahnya ia hanya menerima setengah jadi dan dibentuk sesuai ukuran pesanan jika ada yang memesan. “Soalnya untuk mencari topeng yang digunakan menari harus mencari bentuk mukanya yang pas dengan pemesan. Mencari bentuk mukanya ini kadang-kadang sulit,” sambungnya.

Candra menambahkan di warungnya tersedia beberapa bentuk topeng dan perlengkapan menari lainnya, mulai dari topeng pragina, penasar, wijil, topeng keras, topeng tua, topeng sidakarya, topeng munju hingga topeng penamprat. Untuk pembuatannya, diakuinya, memerlukan keahlian khusus, apalagi membuat bentuk sesuai pesanan, sebab topeng yang akan dipergunakan agar menyatu dengan penarinya.

“Kalau taksu biasanya langsung dari penarinya sendiri. Sebab kalau sudah penarinya memiliki taksu, topeng apapun yang diperankan, akan tampak hidup. Selain itu juga harus gemar dan giat berlatih,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Perajin topeng, Made Candra, 43, asal Banjar Puaya, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar tetap membuat stok untuk menyongsong New Normal, meski penjualan topeng menurun drastic hingga Selasa (7/7).

Ditemui di warung yang juga sebagai bengkel kerjanya, ia menyampaikan bahwa pengerjaan satu buah topeng menghabiskan waktu lima hari. Selain topeng, ia juga membuat perlengkapannya, seperti wig atau rambut palsu, gelung hingga memperbaiki beberapa bagian topeng. “Sekarang hanya buat stok untuk persiapan saat New Normal. Karena saat pandemic, hanya hingga dua topeng yang laku,” paparnya.

Sementara untuk kayu sebagai bahan topeng, Candra mengaku didapat dari rekannya yang masih satu banjar. Di rumahnya ia hanya menerima setengah jadi dan dibentuk sesuai ukuran pesanan jika ada yang memesan. “Soalnya untuk mencari topeng yang digunakan menari harus mencari bentuk mukanya yang pas dengan pemesan. Mencari bentuk mukanya ini kadang-kadang sulit,” sambungnya.

Candra menambahkan di warungnya tersedia beberapa bentuk topeng dan perlengkapan menari lainnya, mulai dari topeng pragina, penasar, wijil, topeng keras, topeng tua, topeng sidakarya, topeng munju hingga topeng penamprat. Untuk pembuatannya, diakuinya, memerlukan keahlian khusus, apalagi membuat bentuk sesuai pesanan, sebab topeng yang akan dipergunakan agar menyatu dengan penarinya.

“Kalau taksu biasanya langsung dari penarinya sendiri. Sebab kalau sudah penarinya memiliki taksu, topeng apapun yang diperankan, akan tampak hidup. Selain itu juga harus gemar dan giat berlatih,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/