alexametrics
28.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

Aturan Ganjil Genap Dicabut, Warga Kuta Sambut Baik

KUTA, BALI EXPRESS –  Setelah berjalan selama dua pekan, kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster terkait pembatasan kendaraan yang menuju objek wisata Pantai Sanur dan Pantai Kuta dicabut. Keputusan pencabutan kebijakan ganjil genap disambut baik oleh warga Kuta. Hal ini disampaikan oleh Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista, Kamis (7/10).

“Kami sangat menyambut baik terkait adanya keputusan tersebut. Bahkan para pedagang di Pantai Kuta sudah berharap kunjungan wisatawan kembali ramai,” ujar Wasista.

Menurutnya, keputusan yang diambil gubernur sudah tepat, sebab saat ini Pantai Kuta belum ramai seperti sebelum pandemi Covid-19. Apalagi jalan yang menuju pantai berpasir putih tersebut tidak hanya digunakan untuk ke pantai. “Bisa saja jalan ke Pantai Kuta itu dilewati oleh pegawai yang bekerja di sekitar sana. Kuta saat ini masih sepi belum saatnya untuk diterapkan (kebijakan ganjil genap), nanti setelah pariwisata ramai sekali, menimbulkan kemacetan saya pasti mendukung kebijakan tersebut,” terangnya.

Setelah sistem lalu lintas ganjil genap dicabut, pihaknya memastikan kunjungan ke pantai berpasir putih itu tidak menyebabkan kerumunan. Sebab sudah memiliki QR Code aplikasi PeduliLindungi. “Untuk Pantai Kuta, kami sudah pasang delapan QR Code  PeduliLindungi untuk memastikan kunjungan wisatawan hanya mencapai 50 persen,” ungkapnya.

Selain aplikasi PeduliLindungi, Wasista menjelaskan, setiap pintu masuk akan dijaga oleh satgas pantai. Namun karena keterbatasan petugas di lapangan pihaknya terpaksa menutup sejumlah pintu masuk. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan.

“Kalau dilihat dari 17 pintu masuk yang kami tutup sebenarnya tidak semua kami tutup permanen, hanya tiga pintu yang kami tutup dengan bata ringan sisanya dengan pintu besi yang bisa dibuka tutup,” jelasnya.

Pria yang hobi bersepeda ini menyadari, penutupan sejumlah akses masuk ini sempat menjadi polemik. Pasalnya ada beberapa pedagang yang menganggap akses untuk berjualan dibatasi. Namun pihaknya memastikan hal tersebut bukan untuk melarang masyarakat maupun pedagang untuk memasuki pantai. “Kami lakukan itu untuk mengurangi akses masuk guna mengoptimalkan pengawasan melalui aplikasi PeduliLindungi. Dengan beberapa pertimbangan kami juga sudah hentikan penutupan pintu masuk,” pungkasnya. (esa)

 


KUTA, BALI EXPRESS –  Setelah berjalan selama dua pekan, kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster terkait pembatasan kendaraan yang menuju objek wisata Pantai Sanur dan Pantai Kuta dicabut. Keputusan pencabutan kebijakan ganjil genap disambut baik oleh warga Kuta. Hal ini disampaikan oleh Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista, Kamis (7/10).

“Kami sangat menyambut baik terkait adanya keputusan tersebut. Bahkan para pedagang di Pantai Kuta sudah berharap kunjungan wisatawan kembali ramai,” ujar Wasista.

Menurutnya, keputusan yang diambil gubernur sudah tepat, sebab saat ini Pantai Kuta belum ramai seperti sebelum pandemi Covid-19. Apalagi jalan yang menuju pantai berpasir putih tersebut tidak hanya digunakan untuk ke pantai. “Bisa saja jalan ke Pantai Kuta itu dilewati oleh pegawai yang bekerja di sekitar sana. Kuta saat ini masih sepi belum saatnya untuk diterapkan (kebijakan ganjil genap), nanti setelah pariwisata ramai sekali, menimbulkan kemacetan saya pasti mendukung kebijakan tersebut,” terangnya.

Setelah sistem lalu lintas ganjil genap dicabut, pihaknya memastikan kunjungan ke pantai berpasir putih itu tidak menyebabkan kerumunan. Sebab sudah memiliki QR Code aplikasi PeduliLindungi. “Untuk Pantai Kuta, kami sudah pasang delapan QR Code  PeduliLindungi untuk memastikan kunjungan wisatawan hanya mencapai 50 persen,” ungkapnya.

Selain aplikasi PeduliLindungi, Wasista menjelaskan, setiap pintu masuk akan dijaga oleh satgas pantai. Namun karena keterbatasan petugas di lapangan pihaknya terpaksa menutup sejumlah pintu masuk. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan.

“Kalau dilihat dari 17 pintu masuk yang kami tutup sebenarnya tidak semua kami tutup permanen, hanya tiga pintu yang kami tutup dengan bata ringan sisanya dengan pintu besi yang bisa dibuka tutup,” jelasnya.

Pria yang hobi bersepeda ini menyadari, penutupan sejumlah akses masuk ini sempat menjadi polemik. Pasalnya ada beberapa pedagang yang menganggap akses untuk berjualan dibatasi. Namun pihaknya memastikan hal tersebut bukan untuk melarang masyarakat maupun pedagang untuk memasuki pantai. “Kami lakukan itu untuk mengurangi akses masuk guna mengoptimalkan pengawasan melalui aplikasi PeduliLindungi. Dengan beberapa pertimbangan kami juga sudah hentikan penutupan pintu masuk,” pungkasnya. (esa)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/