28.7 C
Denpasar
Tuesday, February 7, 2023

Gelapkan Uang Pajak Rp 2,2 Miliar, Akunting PT. Hakersen Bali Ditahan

BADUNG, BALI EXPRESS – Polres Badung menahan seorang wanita bernama Vivin Aryantini, 31, pada Rabu (7/12). Pasalnya, ia diduga menggelapkan uang pajak perusahaan tempatnya bekerja PT. Hakersen Bali senilai 2,2 miliar lebih.

 

Kejahatan tersebut dilakukan olehnya dalam kurun waktu 2017 hingga 2021, ketika menjadi karyawan bagian akunting PT. Hakersen Bali. Sehingga dilaporkan ke Polres Badung oleh karyawan perusahaan bernama I Nyoman Suhartana, 33, pada 19 April 2022.

 

Hal itu dibenarkan Kapolres Badung AKBP Leo Dedy Defretes. Dijelaskan olehnya, tersangka melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan dengan menggelapkan semua pembayaran pajak perusahaan yang seharusnya disetorkan ke Kantor Pajak KPP Denpasar Barat.

 

“Tersangka melanggar Pasal 374 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” tandasnya. Sehingga kini, wanita asal Sukawati Gianyar tersebut telah ditahan. Bahkan dalam waktu dekat perkara itu akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Badung.

 

Sementara itu informasi yang dihimpun koran ini terkait laporan yang dibuat I Nyoman Suhartana, kasus ini mencuat pada Senin 22 November 2021 sekira pukul 14.00. Ketika pria itu bersama Direktur PT Hakersen Bali Wayan Suratnyana mendatangi Kantor KPP Pratama Denpasar Barat, Denpasar, untuk mengkonfirmasi terkait pemblokiran rekening perusahaan PT. Hakersen oleh pihak Bank.

 

Menyusul adanya laporan dari Kantor Pajak Denpasar Barat soal surat keberatan atas pemeriksaan pajak dari perusahaan. Padahal Akunting perusahaan bernama Vivi Aryantini mengaku pembayaran pajak telah dibayarkan. Adapun pajak yang seharusnya dibayarkan antara lain Pajak Penambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan, PPH, Denda atas pelaporan dan Pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Denda atas PPH, Denda atas PPH.

 

Namun, dari konfirmasi tersebut diketahui, ternyata seluruh arsip pembayaran pajak yang telah dibayarkan adalah palsu. Nyatanya, pajak perusahaan tidak dibayarkan sejak tahun 2017 hingga tahun 2021. Pihak perusahaan kemudian meneliti seluruh pembayaran pajak ke Kantor Pajak KPP Denpasar, sesuai versi tersangka Vivi.

 

Hasilnya memang benar seluruh uang perusahaan tersebut tidak pernah disetorkan tersangka Vivi ke Kantor Pajak KPP Denpasar. Dari hasil audit, pihak perusahaan menemukan adanya kerugian sebesar Rp 2.294.974.251. Diduga uang itu digunakan Vivi untuk kepentingan pribadi.

 

 






Reporter: I Gede Paramasutha

BADUNG, BALI EXPRESS – Polres Badung menahan seorang wanita bernama Vivin Aryantini, 31, pada Rabu (7/12). Pasalnya, ia diduga menggelapkan uang pajak perusahaan tempatnya bekerja PT. Hakersen Bali senilai 2,2 miliar lebih.

 

Kejahatan tersebut dilakukan olehnya dalam kurun waktu 2017 hingga 2021, ketika menjadi karyawan bagian akunting PT. Hakersen Bali. Sehingga dilaporkan ke Polres Badung oleh karyawan perusahaan bernama I Nyoman Suhartana, 33, pada 19 April 2022.

 

Hal itu dibenarkan Kapolres Badung AKBP Leo Dedy Defretes. Dijelaskan olehnya, tersangka melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan dengan menggelapkan semua pembayaran pajak perusahaan yang seharusnya disetorkan ke Kantor Pajak KPP Denpasar Barat.

 

“Tersangka melanggar Pasal 374 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” tandasnya. Sehingga kini, wanita asal Sukawati Gianyar tersebut telah ditahan. Bahkan dalam waktu dekat perkara itu akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Badung.

 

Sementara itu informasi yang dihimpun koran ini terkait laporan yang dibuat I Nyoman Suhartana, kasus ini mencuat pada Senin 22 November 2021 sekira pukul 14.00. Ketika pria itu bersama Direktur PT Hakersen Bali Wayan Suratnyana mendatangi Kantor KPP Pratama Denpasar Barat, Denpasar, untuk mengkonfirmasi terkait pemblokiran rekening perusahaan PT. Hakersen oleh pihak Bank.

 

Menyusul adanya laporan dari Kantor Pajak Denpasar Barat soal surat keberatan atas pemeriksaan pajak dari perusahaan. Padahal Akunting perusahaan bernama Vivi Aryantini mengaku pembayaran pajak telah dibayarkan. Adapun pajak yang seharusnya dibayarkan antara lain Pajak Penambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan, PPH, Denda atas pelaporan dan Pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Denda atas PPH, Denda atas PPH.

 

Namun, dari konfirmasi tersebut diketahui, ternyata seluruh arsip pembayaran pajak yang telah dibayarkan adalah palsu. Nyatanya, pajak perusahaan tidak dibayarkan sejak tahun 2017 hingga tahun 2021. Pihak perusahaan kemudian meneliti seluruh pembayaran pajak ke Kantor Pajak KPP Denpasar, sesuai versi tersangka Vivi.

 

Hasilnya memang benar seluruh uang perusahaan tersebut tidak pernah disetorkan tersangka Vivi ke Kantor Pajak KPP Denpasar. Dari hasil audit, pihak perusahaan menemukan adanya kerugian sebesar Rp 2.294.974.251. Diduga uang itu digunakan Vivi untuk kepentingan pribadi.

 

 






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru