alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Pondasi Rumah di Kalibukbuk Tergerus

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Satu rumah yang berlokasi di Jalan Kartika, Desa Kalibukbuk rusak parah. Rumah yang terletak di pinggir pantai itu pondasinya tergerus akibat gelombang pasang. Bangunan yang memiliki dua rung tidur itu nampah rapuh paska diterjang ombak. Namun satu kamar tidur dari rumah itu tidak mengalami kerusakan sehingga pemilik rumah masih bisa berlindung di kamar tersebut.

Gusti Ayu Putu Susiantini, 33 nampak duduk di depan rumahnya sembari menyusui anak ketiganya yang baru berusia satu bulan. Sementara, suaminya turut menemani Gusti Ayu bersama anak-anak lainnya. Saat peristiwa itu terjadi, Gusti Ayu dan keluarganya tengah tertidur di kamar utama. Kemudian ia terbangun karena tertimpa serpihan tembok yang retak karena dihantam gelombang. Ia pun bergegas bangun dari tidurnya dan meraih bayinya untuk berlari keluar rumah. Seluruh anggota keluarganya pun terbangun dan turut keluar menyelamatkan diri. Tembok kamar Gusti Ayu jebol. Sementara kamar yang digunakan oleh dua anak-anaknya masih aman. “Kemarin hari selasa malam jan setengah satu. Di kamar tidur sama anak. Tau kejadian itu karena temboknya sudah retak, runtuh jatuh di kepala. Gak benjol kok. Karena yang jatuh itu serpihannya yang kecil-kecil. Langsung saya ambil bayi dan lari keluar. Kemudian saya berlindung di tempat yang gak retak. Di sebelahnya kebetulan masih aman. gelombangnya gak tinggi-tinggi banget, cuma dari bawah dia diterjang,” tutur Gusti Ayu sambil menggendong bayinya.

Mengingat pondasi rumah yang sudah tergerus, Gusti Ayu mengaku was-was kendati rumahnya masih bisa ditempati. Ia khawatir rumah semi permanen yang ditinggalinya selama 25 tahun mengalami kerusakan lebih parah lagi. Terlebih lokasinya di pinggir pantai yang suatu saat ombaknya dapat pasang kapan saja. “Tidurnya masih di rumah ini. Di kamar yang satunya. Tapi masih takut juga. kalau0kalau ada ombak lagi. Karena ini kan sudah rusak juga,” kata dia.

Selain rumah Gusti Ayu, dapur milik Putu Tirta, 60 juga turut mengalami kerusakan akibat dihantam gelombang. Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan itu pun mengalami kerugian Rp 1 juta. Kendati demikian, Putu mengaku peristiwa serupa kerap terjadi setiap tahunnya ketika terjadi cuaca buruk. “Yang sekarang paling parah. Sudah langganan, setiap tahunnya pasti kena ombak rumah saya. Dan pemerintah desa sudah buat tanggul juga untuk menahan gelombang. Tapi karena kemarin sudah sangat besar ya lewat. Dapur saya jadi kena,” ungkapnya.

Mengingat peristiwa ini rutin terjadi setiap tahun, Putu Tirta pun mengaku akan pindah, mengingat anaknya telah memberikan ia lahan seluas 1 are di  desa lain. Namun meski telah memiliki lahan, Putu Tirta masih terkendala biaya untuk membangun rumah baru. Sehingga ia terpaksa menetap di rumah yang sudah ia tempati sejak 25 tahun tersebut. “”Lahan memang sudah ada, tapi saya tidak punya biaya untuk membangun rumah baru. Kalau ada bantuan bedah rumah, saya ingin sekali pindah, karena bencana ini rutin saya rasakan setiap tahun,” katanya.

 

Sementara Perbekel Desa Kalibukbuk, Ketut Suka mengatakan, dua warga yang terdampak bencana ini akan segera direlokasi oleh pihaknya. Mengingat lahan yang digunakan bukan milik pribadi, melainkan lahan desa adat. Selain itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas PUTR Buleleng untuk pembuatan tanggul, agar abrasi tidak semakin parah. “Putu Tirya kan sudah diberikan lahan oleh anaknya, itu nanti akan dibantu dengan bantuan bedah rumah sehingga dia bisa membangun rumah baru. Kalau Susiantini ini KTPnya Tabanan, namun beradat di Kalibukbuk. Infonya Susiantini akan pindah ke Tabanan, kami siap memfasilitasi,” jelasnya. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Satu rumah yang berlokasi di Jalan Kartika, Desa Kalibukbuk rusak parah. Rumah yang terletak di pinggir pantai itu pondasinya tergerus akibat gelombang pasang. Bangunan yang memiliki dua rung tidur itu nampah rapuh paska diterjang ombak. Namun satu kamar tidur dari rumah itu tidak mengalami kerusakan sehingga pemilik rumah masih bisa berlindung di kamar tersebut.

Gusti Ayu Putu Susiantini, 33 nampak duduk di depan rumahnya sembari menyusui anak ketiganya yang baru berusia satu bulan. Sementara, suaminya turut menemani Gusti Ayu bersama anak-anak lainnya. Saat peristiwa itu terjadi, Gusti Ayu dan keluarganya tengah tertidur di kamar utama. Kemudian ia terbangun karena tertimpa serpihan tembok yang retak karena dihantam gelombang. Ia pun bergegas bangun dari tidurnya dan meraih bayinya untuk berlari keluar rumah. Seluruh anggota keluarganya pun terbangun dan turut keluar menyelamatkan diri. Tembok kamar Gusti Ayu jebol. Sementara kamar yang digunakan oleh dua anak-anaknya masih aman. “Kemarin hari selasa malam jan setengah satu. Di kamar tidur sama anak. Tau kejadian itu karena temboknya sudah retak, runtuh jatuh di kepala. Gak benjol kok. Karena yang jatuh itu serpihannya yang kecil-kecil. Langsung saya ambil bayi dan lari keluar. Kemudian saya berlindung di tempat yang gak retak. Di sebelahnya kebetulan masih aman. gelombangnya gak tinggi-tinggi banget, cuma dari bawah dia diterjang,” tutur Gusti Ayu sambil menggendong bayinya.

Mengingat pondasi rumah yang sudah tergerus, Gusti Ayu mengaku was-was kendati rumahnya masih bisa ditempati. Ia khawatir rumah semi permanen yang ditinggalinya selama 25 tahun mengalami kerusakan lebih parah lagi. Terlebih lokasinya di pinggir pantai yang suatu saat ombaknya dapat pasang kapan saja. “Tidurnya masih di rumah ini. Di kamar yang satunya. Tapi masih takut juga. kalau0kalau ada ombak lagi. Karena ini kan sudah rusak juga,” kata dia.

Selain rumah Gusti Ayu, dapur milik Putu Tirta, 60 juga turut mengalami kerusakan akibat dihantam gelombang. Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan itu pun mengalami kerugian Rp 1 juta. Kendati demikian, Putu mengaku peristiwa serupa kerap terjadi setiap tahunnya ketika terjadi cuaca buruk. “Yang sekarang paling parah. Sudah langganan, setiap tahunnya pasti kena ombak rumah saya. Dan pemerintah desa sudah buat tanggul juga untuk menahan gelombang. Tapi karena kemarin sudah sangat besar ya lewat. Dapur saya jadi kena,” ungkapnya.

Mengingat peristiwa ini rutin terjadi setiap tahun, Putu Tirta pun mengaku akan pindah, mengingat anaknya telah memberikan ia lahan seluas 1 are di  desa lain. Namun meski telah memiliki lahan, Putu Tirta masih terkendala biaya untuk membangun rumah baru. Sehingga ia terpaksa menetap di rumah yang sudah ia tempati sejak 25 tahun tersebut. “”Lahan memang sudah ada, tapi saya tidak punya biaya untuk membangun rumah baru. Kalau ada bantuan bedah rumah, saya ingin sekali pindah, karena bencana ini rutin saya rasakan setiap tahun,” katanya.

 

Sementara Perbekel Desa Kalibukbuk, Ketut Suka mengatakan, dua warga yang terdampak bencana ini akan segera direlokasi oleh pihaknya. Mengingat lahan yang digunakan bukan milik pribadi, melainkan lahan desa adat. Selain itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas PUTR Buleleng untuk pembuatan tanggul, agar abrasi tidak semakin parah. “Putu Tirya kan sudah diberikan lahan oleh anaknya, itu nanti akan dibantu dengan bantuan bedah rumah sehingga dia bisa membangun rumah baru. Kalau Susiantini ini KTPnya Tabanan, namun beradat di Kalibukbuk. Infonya Susiantini akan pindah ke Tabanan, kami siap memfasilitasi,” jelasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/