alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Kenali Kanker Payudara, Sebagai Pembunuh Kedua Wanita di Indonesia

DENPASAR, BALI EXPRESS- Di Indonesia kanker payudara menjadi penyebab kematian wanita nomor dua setelah kanker leher rahim, sehingga kanker ini masih menjadi momok bagi kaum hawa di Indonesia, karena seluruh wanita berisiko menderita kanker payudara. 

 

dr. I Putu Arya Dharma, Sp.B (K) onk, Dokter Spesialis Bedah Tumor Rumah Sakit Balimed mengatakan kanker payudara ini tidak saja menjadi pembunuh nomor dua di Indonesia, namun juga menjadi penyebab kematian nomor dua bagi wanita di seluruh dunia. “Jika di Indonesia penyebab kematian pertama kaum wanita adalah kanker leher rahim, sedangkan untuk di dunia penyebab kematian wanita yang pertama adalah kanker paru-paru,” ungkapnya.

 

Meskipun menjadi penyebab kematian nomor dua di Indonesia, namun dalam kurun waktu 40 tahun, besaraan resiko terjangkit kanker payudara diakui dr.Arya mengalami penurunan. Jika pada era tahun 1970 an, 1 diantara 11 wanita bisa terjangkit kanker payudara, pada tahun 2018 angkanya menurun menjadi 1 diantara delapan wanita beresiko terjangkit kanker payudara.

 

Sebelum mengenali bagaimana gejala kanker payudara, dilanjutkan dr. Arya ada baiknya untuk terlebih dahulu mengenal anatomi payudara, payudara sendiri merupakan elevasi dari jaringan grandular dan jaringan lemak yang tertutup kulit pada dinding dada yang melekat dengan kuat pada otot di dada yakni otot prektoralis mayor. 

 

Ukuran payudara ini tergantung pada jumlah jaringan lemak yang dimiliki seseorang, bukan pada jumlah kelenjar. “Jadi anggapan selama ini yang menyatakan bahwa apabila ukuran payudara besar maka akan memproduksi air susu yang banyak, adalah tidak benar, karena jumlah kelenjarnya sama untuk semua orang, yang membedakan hanyalah jumlah lemak yang membungkusnya,” paparnya.

 

Asal dari kanker payudara berasal dari komponen komponen yang ada di payudara itu sendiri, seperti ductol breast cancer yakni kanker yang berasal dari pita saluran air susu, selanjutnya adalah lobulus breast cancer yakni kanker payudara yang bersumber dari kelenjar air susu. 

 

Selanjutnya adalah kanker yang berasal dari gabungan keduanya atau yang dikenal dengan nama mixed tumor breast cancer. Dan yang terakhir adalah gabungan dari ketiganya atau inflammatory breast cancer, biasanya pada fase ini penderita sudah memasuki stadium lanjut.

 

Penyebab kanker payudara, sebagian besar disebabkan oleh adanya ketidaknormalan genetik atau yang dikenal dengan istilah abnormalitas genetik dengan persentase sampai 95 persen. Selanjutnya adalah 5 persen lainnya disebabkan oleh faktor keturunan baik dari ibu atau ayah. “Namun demikian, penyebab pastinya sampai sekarang belum dapat dijelaskan karena masih dilakukan penelitian lebih lanjut,” lanjutnya.

 

Selanjutnya ciri-ciri, dari kanker payudara yang bisa dirasakan langsung, adalah adanya benjolan di ketiak, adanya benjolan di payudara, adanya cekungan di payudara (seperti lesung Pipit pada pipi) pembengkakan pada payudara, puting susunya tertarik ke dalam, adanya nyeri di payudara, adanya perubahan warna kulit disekitar payudara. Keluarnya cairan pada puting ketika tidak masa menyusui apalagi yang keluar adalah cairan berwarna merah itu harus dicurigai dan harus segera melakukan pemeriksaan. 

 

Diagnosa yang bisa dilakukan untuk menentukan kanker payudara apa saja, melalui triple diagnostik, yakni pemeriksaan klinis, pemeriksaan imaging berupa USG payudara, mammogragfi, foto toraks dan USG hati dan yang terakhir adalah pemeriksaan patologi yang bisa didapat melalui biopsi  “Ketika sudah memenuhi ketiga unsur ini, maka seseorang bisa dinyatakan menderita kanker payudara,” tambah dokter yang hobby menjelajah dengan motor besar ini. 

 

Untuk pencegahannya, dr Arya mengatakan pencegahan terhadap kanker ini ada tiga yakni pencegahan primer, mengurangi faktor resiko kanker payudara. Pencegahan sekunder melakukan screening  atau direksi dini terhadap kanker payudara selanjutnya adalah pencegahan tertier, dilakukan kepada penderita kanker payudara, yakni dengan cara melakukan pengobatan yang tepat sehingga bisa mencegah komplikasi. 


DENPASAR, BALI EXPRESS- Di Indonesia kanker payudara menjadi penyebab kematian wanita nomor dua setelah kanker leher rahim, sehingga kanker ini masih menjadi momok bagi kaum hawa di Indonesia, karena seluruh wanita berisiko menderita kanker payudara. 

 

dr. I Putu Arya Dharma, Sp.B (K) onk, Dokter Spesialis Bedah Tumor Rumah Sakit Balimed mengatakan kanker payudara ini tidak saja menjadi pembunuh nomor dua di Indonesia, namun juga menjadi penyebab kematian nomor dua bagi wanita di seluruh dunia. “Jika di Indonesia penyebab kematian pertama kaum wanita adalah kanker leher rahim, sedangkan untuk di dunia penyebab kematian wanita yang pertama adalah kanker paru-paru,” ungkapnya.

 

Meskipun menjadi penyebab kematian nomor dua di Indonesia, namun dalam kurun waktu 40 tahun, besaraan resiko terjangkit kanker payudara diakui dr.Arya mengalami penurunan. Jika pada era tahun 1970 an, 1 diantara 11 wanita bisa terjangkit kanker payudara, pada tahun 2018 angkanya menurun menjadi 1 diantara delapan wanita beresiko terjangkit kanker payudara.

 

Sebelum mengenali bagaimana gejala kanker payudara, dilanjutkan dr. Arya ada baiknya untuk terlebih dahulu mengenal anatomi payudara, payudara sendiri merupakan elevasi dari jaringan grandular dan jaringan lemak yang tertutup kulit pada dinding dada yang melekat dengan kuat pada otot di dada yakni otot prektoralis mayor. 

 

Ukuran payudara ini tergantung pada jumlah jaringan lemak yang dimiliki seseorang, bukan pada jumlah kelenjar. “Jadi anggapan selama ini yang menyatakan bahwa apabila ukuran payudara besar maka akan memproduksi air susu yang banyak, adalah tidak benar, karena jumlah kelenjarnya sama untuk semua orang, yang membedakan hanyalah jumlah lemak yang membungkusnya,” paparnya.

 

Asal dari kanker payudara berasal dari komponen komponen yang ada di payudara itu sendiri, seperti ductol breast cancer yakni kanker yang berasal dari pita saluran air susu, selanjutnya adalah lobulus breast cancer yakni kanker payudara yang bersumber dari kelenjar air susu. 

 

Selanjutnya adalah kanker yang berasal dari gabungan keduanya atau yang dikenal dengan nama mixed tumor breast cancer. Dan yang terakhir adalah gabungan dari ketiganya atau inflammatory breast cancer, biasanya pada fase ini penderita sudah memasuki stadium lanjut.

 

Penyebab kanker payudara, sebagian besar disebabkan oleh adanya ketidaknormalan genetik atau yang dikenal dengan istilah abnormalitas genetik dengan persentase sampai 95 persen. Selanjutnya adalah 5 persen lainnya disebabkan oleh faktor keturunan baik dari ibu atau ayah. “Namun demikian, penyebab pastinya sampai sekarang belum dapat dijelaskan karena masih dilakukan penelitian lebih lanjut,” lanjutnya.

 

Selanjutnya ciri-ciri, dari kanker payudara yang bisa dirasakan langsung, adalah adanya benjolan di ketiak, adanya benjolan di payudara, adanya cekungan di payudara (seperti lesung Pipit pada pipi) pembengkakan pada payudara, puting susunya tertarik ke dalam, adanya nyeri di payudara, adanya perubahan warna kulit disekitar payudara. Keluarnya cairan pada puting ketika tidak masa menyusui apalagi yang keluar adalah cairan berwarna merah itu harus dicurigai dan harus segera melakukan pemeriksaan. 

 

Diagnosa yang bisa dilakukan untuk menentukan kanker payudara apa saja, melalui triple diagnostik, yakni pemeriksaan klinis, pemeriksaan imaging berupa USG payudara, mammogragfi, foto toraks dan USG hati dan yang terakhir adalah pemeriksaan patologi yang bisa didapat melalui biopsi  “Ketika sudah memenuhi ketiga unsur ini, maka seseorang bisa dinyatakan menderita kanker payudara,” tambah dokter yang hobby menjelajah dengan motor besar ini. 

 

Untuk pencegahannya, dr Arya mengatakan pencegahan terhadap kanker ini ada tiga yakni pencegahan primer, mengurangi faktor resiko kanker payudara. Pencegahan sekunder melakukan screening  atau direksi dini terhadap kanker payudara selanjutnya adalah pencegahan tertier, dilakukan kepada penderita kanker payudara, yakni dengan cara melakukan pengobatan yang tepat sehingga bisa mencegah komplikasi. 


Most Read

Artikel Terbaru

/