alexametrics
29.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Pemkab Gianyar Butuh 100.000 Vaksin Untuk Buka Pariwisata di Ubud

GIANYAR, BALI EXPRESS – Sebagai daerah yang pariwisatanya akan dibuka di Bali, Ubud harus memenuhi standar-standar yang layak terutama dalam hal kesehatan. 

 

Sekda Kabupaten Gianyar, Made Gede Wisnu Wijaya mengatakan bahwa sesuai dengan rapat dengan Menteri Kesehatan dan Menteri Pariwisata serta Gubernur Bali, telah diputuskan jika ada dua daerah yang pertama-pertama akan dibuka pariwisatanya di Bali. Yakni Nusa Dua dan Ubud. “Dengan demikian sudah barang tentu Ubud harus memenuhi standar-standar yang layak. Apakah sudah clean dari Covid-19 yang menjadi acuan utama,” ungkapnya Selasa (9/3).

 

Ubud sendiri dipilih karena merupakan salah satu pusat pariwisata di Bali. Dan akan diikuti oleh daerah disekitarnya yang juga terdapat banyak hotel dan restoran seperti Sayan, Kedewatan, Petulu dan Ubud itu sendiri. Sehingga daerah-daerah ini juga akan diprioritaskan untuk memperoleh vaksin Covid-19 untuk terwujudkan zero Covid-19. “Karena akan dilakukan vaksinasi massal, maka kita coba hitung jumlah penduduk di tiga desa dan 1 kelurahan itu kita jumlahkan kurang lebih penduduknya 32.000,” imbuhnya.

 

Namun vaksinasi nantinya tidak hanya dilakukan kepada penduduk saja. Mengingat hal itu ada kaitannya dengan pembukaan hotel dan restoran, maka tenaga kerja atau pelaku pariwisata didalamnya juga harus mendapatkan vaksin Covid-19. Pihaknya pun memperkirakan jika jumlah tenaga kerja di kawasan Kecamatan Ubud mencapai 18.000. Sehingga 32.000 penduduk ditambah 18.000 tenaga kerja maka diperkirakan ada 50.000 orang yang harus mendapatkan vaksin di wilayah Ubud.

 

“Dan kebetulan 70 persen pekerja ini berasal dari luar Ubud, sehingga kita minta kepada pusat vaksin untuk Ubud sebanyak 50.000 vial untuk sekali vaksin. Karena dua kali vaksin maka kita butuh 100.000 vial vaksin,” bebernya.

 

Kebutuhan vaksin itu pun telah disampaikan dalam rapat bersama Menteri Kesehatan, Menteri Pariwisata dan Gubernur Bali beberapa waktu lalu. Dan menurutnya hal itu sudah disanggupi sehingga pihaknya kini tinggal menunggu kedatangan vaksin saja.

 

Dengan demikian pihaknya berharap vaksinasi bisa dilakukan akhir Maret 2021 nanti. Dan begitu vaksin tahap I dan tahap II selesai dilakukan, maka pariwisata akan mulai dibuka yang pertama-tama menyasar wisatawan domestik kemudian untuk jangka panjang menyasar wisatawan mancanegara. “Kalau mancanegara kita menggandeng UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk ikut mensosialisasikan diluar bahwa betul-betul Ubud itu aman, Nusa Dua itu aman, dan seterusnya,” sambungnya.

 

Kendatipun nantinya Ubud telah dibuka untuk pariwisata, kata dia pihaknya akan mendesign sistem bagi para wisatawan. Diantaranya dengan membuat gate-gate yang pengawasannya akan melibatkan TNI/Polri secara ketat. “Vaksin dulu tahap pertama, setelah itu baru lanjut membuat gate, dimana harus bisa barang masuk, wisatawannya dimana masuk, tata cara tamu datang bagaimana, apa dikarantina dulu misalnya lima hari, jadi wisatawan ini tidak boleh kemana-mana dulu melancong, atau boleh disekitaran Ubud dan Nusa Dua saja dulu. Itu nanti akan kita design lagi,” sebutnya.

 

 Dan saat ini kata dia, kasus Covid-19 di Gianyar sudah melandai. Sehingga pihaknya berharap bisa mempertahankan situasi tersebut agar perekonomian kembali menggeliat. “Kita berharap semua komponen jaga diri, jaga keluarga dan jaga negara, itu kuncinya,” tandas Wijaya. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Sebagai daerah yang pariwisatanya akan dibuka di Bali, Ubud harus memenuhi standar-standar yang layak terutama dalam hal kesehatan. 

 

Sekda Kabupaten Gianyar, Made Gede Wisnu Wijaya mengatakan bahwa sesuai dengan rapat dengan Menteri Kesehatan dan Menteri Pariwisata serta Gubernur Bali, telah diputuskan jika ada dua daerah yang pertama-pertama akan dibuka pariwisatanya di Bali. Yakni Nusa Dua dan Ubud. “Dengan demikian sudah barang tentu Ubud harus memenuhi standar-standar yang layak. Apakah sudah clean dari Covid-19 yang menjadi acuan utama,” ungkapnya Selasa (9/3).

 

Ubud sendiri dipilih karena merupakan salah satu pusat pariwisata di Bali. Dan akan diikuti oleh daerah disekitarnya yang juga terdapat banyak hotel dan restoran seperti Sayan, Kedewatan, Petulu dan Ubud itu sendiri. Sehingga daerah-daerah ini juga akan diprioritaskan untuk memperoleh vaksin Covid-19 untuk terwujudkan zero Covid-19. “Karena akan dilakukan vaksinasi massal, maka kita coba hitung jumlah penduduk di tiga desa dan 1 kelurahan itu kita jumlahkan kurang lebih penduduknya 32.000,” imbuhnya.

 

Namun vaksinasi nantinya tidak hanya dilakukan kepada penduduk saja. Mengingat hal itu ada kaitannya dengan pembukaan hotel dan restoran, maka tenaga kerja atau pelaku pariwisata didalamnya juga harus mendapatkan vaksin Covid-19. Pihaknya pun memperkirakan jika jumlah tenaga kerja di kawasan Kecamatan Ubud mencapai 18.000. Sehingga 32.000 penduduk ditambah 18.000 tenaga kerja maka diperkirakan ada 50.000 orang yang harus mendapatkan vaksin di wilayah Ubud.

 

“Dan kebetulan 70 persen pekerja ini berasal dari luar Ubud, sehingga kita minta kepada pusat vaksin untuk Ubud sebanyak 50.000 vial untuk sekali vaksin. Karena dua kali vaksin maka kita butuh 100.000 vial vaksin,” bebernya.

 

Kebutuhan vaksin itu pun telah disampaikan dalam rapat bersama Menteri Kesehatan, Menteri Pariwisata dan Gubernur Bali beberapa waktu lalu. Dan menurutnya hal itu sudah disanggupi sehingga pihaknya kini tinggal menunggu kedatangan vaksin saja.

 

Dengan demikian pihaknya berharap vaksinasi bisa dilakukan akhir Maret 2021 nanti. Dan begitu vaksin tahap I dan tahap II selesai dilakukan, maka pariwisata akan mulai dibuka yang pertama-tama menyasar wisatawan domestik kemudian untuk jangka panjang menyasar wisatawan mancanegara. “Kalau mancanegara kita menggandeng UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk ikut mensosialisasikan diluar bahwa betul-betul Ubud itu aman, Nusa Dua itu aman, dan seterusnya,” sambungnya.

 

Kendatipun nantinya Ubud telah dibuka untuk pariwisata, kata dia pihaknya akan mendesign sistem bagi para wisatawan. Diantaranya dengan membuat gate-gate yang pengawasannya akan melibatkan TNI/Polri secara ketat. “Vaksin dulu tahap pertama, setelah itu baru lanjut membuat gate, dimana harus bisa barang masuk, wisatawannya dimana masuk, tata cara tamu datang bagaimana, apa dikarantina dulu misalnya lima hari, jadi wisatawan ini tidak boleh kemana-mana dulu melancong, atau boleh disekitaran Ubud dan Nusa Dua saja dulu. Itu nanti akan kita design lagi,” sebutnya.

 

 Dan saat ini kata dia, kasus Covid-19 di Gianyar sudah melandai. Sehingga pihaknya berharap bisa mempertahankan situasi tersebut agar perekonomian kembali menggeliat. “Kita berharap semua komponen jaga diri, jaga keluarga dan jaga negara, itu kuncinya,” tandas Wijaya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/