alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Penataan Eks Hardys, Gus Gaga : Jadikan Sentra Parkir atau Pasar Senggol

GIANYAR, BALI EXPRESS – Rencana pembangunan mall di lahan eks Hardys dinilai harus benar-benar difikirkan. Untung dan rugi dari rencana itu harus dipertimbangkan agar nantinya tidak justru merugikan masyarakat. Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Gianyar, Ida Bagus Gaga Adi Saputra, Senin (9/5).

 

Dirinya mengatakan bahwa kondisi lahan eks Hardys Gianyar kini tampak kumuh hingga membuat Kota Gianyar yang telah ditata sedemikian rupa justru tampak menjadi tak elok. Maka dari itu, politisi Demokrat yang akrab disapa Gus Gaga itu mengimbau Pemkab Gianyar agar menata kembali lahan tersebut. “Penataan sementara tidak perlu biasa besar, misal untuk lahan sentral parkir kota. Karena selama ini di pusat kota kekurangan lahan parkir sehingga parkir cenderung semrawut,” tegasnya Senin (9/5).

 

Menurutnya, kedepannya lahan ini sangat strategis untuk dijadikan lokasi pasar senggol dengan tatanan lebih rapi dan bersih. Sebab pasar senggol Gianyar telah menjadi salah satu ikon kota Gianyar, terutama dengan makanan tradisional khas Gianyar, seperti Jaje Bali, Nasi Babi Guling, Nasi Campur Ayam Panggang-Betutu, dan banyak lagi lainnya.

 

“Ini akan sangat bermanfaat bagi pedagang lokal Gianyar. Jika sesuai rencana awal akan dibangun Mall, kiranya perlu dipertimbangkan kembali. Apa untung ruginya bikin mall disana?. Saya fikir Pemkab dan pedagang lokal serta pedagang-pedagang kecil sama skali tidak akan mendapat keuntungan apapun jika disana dibangun mall,” lanjutnya.

 

Disamping itu,  itu menambahkan jika tidak ada salahnya Pemkab Gianyar berkomunikasi dan berkoordinasi ddengan pihak Desa Adat Gianyar, sebelum mengambil keputusan yang pasti. “Mau dibikin apa lahan bekas Hardys itu, mengingat lokasinya berada di wewidangan Desa Adat Gianyar serta berdekatan dengan Catus Pata Kota Gianyar. Saya berfikiran, prajuru adat dan kramanya pasti lebih tahu angkihan (nafas) wilayah ini, termasuk cara daya guna dan berhasil guna dalam memanfaatkan secara baik dan benar,” sambungnya.

 

Lebih lanjut, Gus Gaga mengakui jika setiap pembangunan mesti mengacu pada asas dinamika masyarakat dan gaya hidup kedepan. Namun yang perlu diingat, jangan sekali-kali hanya karena alasan dinamisasi sosial dan gaya hidup pembangunan justru harus mencabut akar tradisi Bali seperti pasar senggol atau pasar tenten. “Setahu saya Bali sejak dulu hingga kini terkenal di dunia salah satunya karena kekhasan tradisi Bali, termasuk perilaku dan wujud pasar kita. Kalau mall atau yang mewah-mewah begitu pasti banyak ada di negara-negara maju. Intinya mari jaga kehidupan tradisi Bali sekalipun melalui peken Tenten,” tandas Gus Gaga.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Rencana pembangunan mall di lahan eks Hardys dinilai harus benar-benar difikirkan. Untung dan rugi dari rencana itu harus dipertimbangkan agar nantinya tidak justru merugikan masyarakat. Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Gianyar, Ida Bagus Gaga Adi Saputra, Senin (9/5).

 

Dirinya mengatakan bahwa kondisi lahan eks Hardys Gianyar kini tampak kumuh hingga membuat Kota Gianyar yang telah ditata sedemikian rupa justru tampak menjadi tak elok. Maka dari itu, politisi Demokrat yang akrab disapa Gus Gaga itu mengimbau Pemkab Gianyar agar menata kembali lahan tersebut. “Penataan sementara tidak perlu biasa besar, misal untuk lahan sentral parkir kota. Karena selama ini di pusat kota kekurangan lahan parkir sehingga parkir cenderung semrawut,” tegasnya Senin (9/5).

 

Menurutnya, kedepannya lahan ini sangat strategis untuk dijadikan lokasi pasar senggol dengan tatanan lebih rapi dan bersih. Sebab pasar senggol Gianyar telah menjadi salah satu ikon kota Gianyar, terutama dengan makanan tradisional khas Gianyar, seperti Jaje Bali, Nasi Babi Guling, Nasi Campur Ayam Panggang-Betutu, dan banyak lagi lainnya.

 

“Ini akan sangat bermanfaat bagi pedagang lokal Gianyar. Jika sesuai rencana awal akan dibangun Mall, kiranya perlu dipertimbangkan kembali. Apa untung ruginya bikin mall disana?. Saya fikir Pemkab dan pedagang lokal serta pedagang-pedagang kecil sama skali tidak akan mendapat keuntungan apapun jika disana dibangun mall,” lanjutnya.

 

Disamping itu,  itu menambahkan jika tidak ada salahnya Pemkab Gianyar berkomunikasi dan berkoordinasi ddengan pihak Desa Adat Gianyar, sebelum mengambil keputusan yang pasti. “Mau dibikin apa lahan bekas Hardys itu, mengingat lokasinya berada di wewidangan Desa Adat Gianyar serta berdekatan dengan Catus Pata Kota Gianyar. Saya berfikiran, prajuru adat dan kramanya pasti lebih tahu angkihan (nafas) wilayah ini, termasuk cara daya guna dan berhasil guna dalam memanfaatkan secara baik dan benar,” sambungnya.

 

Lebih lanjut, Gus Gaga mengakui jika setiap pembangunan mesti mengacu pada asas dinamika masyarakat dan gaya hidup kedepan. Namun yang perlu diingat, jangan sekali-kali hanya karena alasan dinamisasi sosial dan gaya hidup pembangunan justru harus mencabut akar tradisi Bali seperti pasar senggol atau pasar tenten. “Setahu saya Bali sejak dulu hingga kini terkenal di dunia salah satunya karena kekhasan tradisi Bali, termasuk perilaku dan wujud pasar kita. Kalau mall atau yang mewah-mewah begitu pasti banyak ada di negara-negara maju. Intinya mari jaga kehidupan tradisi Bali sekalipun melalui peken Tenten,” tandas Gus Gaga.


Most Read

Artikel Terbaru

/