alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Mantan Bendesa, Eks Anggota DPRD Tabanan Jadi Tersangka LPD Sunantaya

TABANAN, BALI EXPRESS – Kasus korupsi Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Sunantaya yang berada di Kecamatan Penebel rupanya masih bergulir. Pasalnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan kembali menetapkan dua orang tersangka dalam kasus ini.

 

Kedua tersangka tersebut antara lain mantan anggota DPRD Tabanan dua periode, I Gede Wayan Sutarja, dalam kapasitasnya sebagai mantan bendesa adat dua periode sekaligus pengawas LPD Sunantaya.

 

Selain Sutarja, penyidik Kejari Tabanan juga menetapkan Ni Putu Eka Swandewi dalam kapasitasnya sebagai mantan Sekretaris LPD Sunantaya sebagai tersangka.

 

Status tersangka tersebut ditetapkan pada Kamis (9/12). Seperti diterangkan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tabanan, Ni Made Herawati.

 

“Berdasarkan alat bukti serta ekspos yang dilakukan tim penyidik menyimpulkan bahwa telah diperoleh alat bukti yang cukup untuk menetapkan keduanya sebagai tersangka,” ujarnya.

 

Adapun keduanya disangkakan melakukan penyalahgunaan wewenang sehingga mengakibatkan kerugian negara.

 

Dan terhadap sangkaan tersebut, penyidik menerapkan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantaran tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2021 juncto Pasal 64 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

 

Kemudian, secara subsider, penyidik juga menerapkan Pasal 3 juncto Pasal 18 dalam undang-undang yang sama.

 

Dari hasil penghitungan kerugian keuangan negara (PKKN) oleh Inspektorat Daerah Kabupaten Tabanan terhadap LPD Sunantaya di tahun anggaran 2007 hingga Oktober 2017, masing-masing tersangka tersebut mengakibatkan kerugian dalam nominal yang berbeda.

 

Untuk Sutarja, kerugian yang ditimbulkan terhadap perbuatan yang disangkakan sebesar Rp 1,164 miliar lebih. Sementara sangkaan korupsi yang dilakukan Eka Swandewi mengakibatkan kerugian sebesar Rp 226 juta lebih.


TABANAN, BALI EXPRESS – Kasus korupsi Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Sunantaya yang berada di Kecamatan Penebel rupanya masih bergulir. Pasalnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan kembali menetapkan dua orang tersangka dalam kasus ini.

 

Kedua tersangka tersebut antara lain mantan anggota DPRD Tabanan dua periode, I Gede Wayan Sutarja, dalam kapasitasnya sebagai mantan bendesa adat dua periode sekaligus pengawas LPD Sunantaya.

 

Selain Sutarja, penyidik Kejari Tabanan juga menetapkan Ni Putu Eka Swandewi dalam kapasitasnya sebagai mantan Sekretaris LPD Sunantaya sebagai tersangka.

 

Status tersangka tersebut ditetapkan pada Kamis (9/12). Seperti diterangkan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tabanan, Ni Made Herawati.

 

“Berdasarkan alat bukti serta ekspos yang dilakukan tim penyidik menyimpulkan bahwa telah diperoleh alat bukti yang cukup untuk menetapkan keduanya sebagai tersangka,” ujarnya.

 

Adapun keduanya disangkakan melakukan penyalahgunaan wewenang sehingga mengakibatkan kerugian negara.

 

Dan terhadap sangkaan tersebut, penyidik menerapkan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantaran tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2021 juncto Pasal 64 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

 

Kemudian, secara subsider, penyidik juga menerapkan Pasal 3 juncto Pasal 18 dalam undang-undang yang sama.

 

Dari hasil penghitungan kerugian keuangan negara (PKKN) oleh Inspektorat Daerah Kabupaten Tabanan terhadap LPD Sunantaya di tahun anggaran 2007 hingga Oktober 2017, masing-masing tersangka tersebut mengakibatkan kerugian dalam nominal yang berbeda.

 

Untuk Sutarja, kerugian yang ditimbulkan terhadap perbuatan yang disangkakan sebesar Rp 1,164 miliar lebih. Sementara sangkaan korupsi yang dilakukan Eka Swandewi mengakibatkan kerugian sebesar Rp 226 juta lebih.


Most Read

Artikel Terbaru

/