26.5 C
Denpasar
Tuesday, February 7, 2023

Ruwat Pancabaya, Karya Penyapuh Jagat lan Tawur Nawa Gempang Digelar

GIANYAR, BALI EXPRESS – Tri Sadhaka memuput prosesi upacara Karya Penyapuh Jagat Lan Tawur Nawa Gempang yang berlangsung di Catus Pata Desa Adat Batuan, Kecamatan Sukawati, pada Sukra Wage Wariga, Jumat (9/12).

 

Dalam prosesi tersebut, jumputan tanah pekarangan krama Desa Adat Batuan di segala arah mata angin ikut diupacarai.  Tanah tersebut dikumpulkan sesuai arah mata angin, kemudian dihanyutkan ke laut. Uniknya, selama prosesi Nganyut, krama pantang bersuara alias mono bratha.

 

Bendesa Adat Batuan I Nyoman Megawan didampingi Pangliman atau Wakil Bendesa I Wayan Sudha menerangkan jika pelaksanaan upacara ini digelar dalam suasana momentum peringatan 1.000 Tahun ditulisnya Prasasti Baturan oleh Raja Marakata pada 26 Desember Tahun 1022 – 26 desember 2022 masehi (944 caka – 1944 caka) yang jatuh tepat pada Senin (26/12) mendatang.

 

Dimana dalam perjalanan abad ke abad tersebut diperkirakan pernah terjadi kepancabayaan di Desa Batuan. Saatnya sekarang diakumulasikan, kemudian diruwat secara universal alam semesta beserta isinya lewat upacara Penyapuh Jagat Kertih lan Tawur Nawa Gempang

 

“Sehingga kami berharap mencapai tujuan Yadnya yaitu ngeruwat Bhuana Agung lan Bhuana alit. Masyarakat menjadi tentram kerta raharja, jagat Batuan semakin erat persatuan dan kesatuannya,” terangnya.

 

Lebih lanjut dikatakan jika pecaruan ini menggunakan sarana ulam Kebo, Kambing, Godel, Kera Hitam, Angsa, dan beberapa satwa lainnya yang telah diupacarai Mepepada sehari sebelumnya. Sejumlah Pelawatan Ida Sesuhunan, berupa Barong Ket, Rangda, maupun Wayang Wong, juga napak pertiwi selama prosesi berlangsung.

 

Dalam pelaksanaan Tawur Nawa Gempang ini, seluruh Krama Desa Adat Batuan diminta untuk nyokot atau mengambil tanah di setiap sudut mata angin pekarangan rumah. Tanah tersebut dibawa saat prosesi Pecaruan dikumpulkan menjadi satu untuk diruwat. “Tanah ini simbol pekarangan rumah Krama yang turut kita doakan, dibersihkan dan disucikan secara Niskala. Lebih-lebih jika dalam perjalanan pernah terjadi berbagai peristiwa pancabaya, misalnya pembunuhan, mati salah Pati ulah Pati, kebakaran maupun bahaya lain,” bebernya.

 

Tawur Nawa Gempang pula menjadi rangkaian Panca Yadnya yang digelar Desa Adat Batuan di tahun istimewa ini. Dewa Yadnya digelar bertepatan dengan Piodalan Ratu Puseh lan Ratu Desa Pura Desa Adat Batuan yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wariga atau Tumpek Uduh, Sabtu (10/12). Rsi Yadnya diwujudkan dengan Punia beras dan busana untuk Pemangku dan Sulinggih. Sementara Manusia Yadnya akan direalisasikan dalam kegiatan sosial Menek Kelih dan Metatah Massal pada Minggu (11/12). “Manusa Yadnya ini terbuka untuk umat sedharma meskipun dari luar desa. Sudah ada sekitar 75 orang yang daftar, ada dari Ketewel, Guwang, Batuan Kaler dan ada Bule dari Jerman yang akan ikut Metatah. Tidak dipungut biaya, namun jika peserta mau Punia dipersilahkan,” tandasnya.

 

Dengan adanya prosesi tersebut, ruas jalan dari arah selatan dan barat ditutup selama dua hari mulai Kamis (8/12). Sementara jalan nasional dari arah Timur ke Utara menuju Patung Bayi Sakah atau sebaliknya tetap dibuka dengan pengaturan lalu lintas dari kepolisian. Usai tawur, arus lalin sudah dibuka kembali secara normal. (ras)

 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Tri Sadhaka memuput prosesi upacara Karya Penyapuh Jagat Lan Tawur Nawa Gempang yang berlangsung di Catus Pata Desa Adat Batuan, Kecamatan Sukawati, pada Sukra Wage Wariga, Jumat (9/12).

 

Dalam prosesi tersebut, jumputan tanah pekarangan krama Desa Adat Batuan di segala arah mata angin ikut diupacarai.  Tanah tersebut dikumpulkan sesuai arah mata angin, kemudian dihanyutkan ke laut. Uniknya, selama prosesi Nganyut, krama pantang bersuara alias mono bratha.

 

Bendesa Adat Batuan I Nyoman Megawan didampingi Pangliman atau Wakil Bendesa I Wayan Sudha menerangkan jika pelaksanaan upacara ini digelar dalam suasana momentum peringatan 1.000 Tahun ditulisnya Prasasti Baturan oleh Raja Marakata pada 26 Desember Tahun 1022 – 26 desember 2022 masehi (944 caka – 1944 caka) yang jatuh tepat pada Senin (26/12) mendatang.

 

Dimana dalam perjalanan abad ke abad tersebut diperkirakan pernah terjadi kepancabayaan di Desa Batuan. Saatnya sekarang diakumulasikan, kemudian diruwat secara universal alam semesta beserta isinya lewat upacara Penyapuh Jagat Kertih lan Tawur Nawa Gempang

 

“Sehingga kami berharap mencapai tujuan Yadnya yaitu ngeruwat Bhuana Agung lan Bhuana alit. Masyarakat menjadi tentram kerta raharja, jagat Batuan semakin erat persatuan dan kesatuannya,” terangnya.

 

Lebih lanjut dikatakan jika pecaruan ini menggunakan sarana ulam Kebo, Kambing, Godel, Kera Hitam, Angsa, dan beberapa satwa lainnya yang telah diupacarai Mepepada sehari sebelumnya. Sejumlah Pelawatan Ida Sesuhunan, berupa Barong Ket, Rangda, maupun Wayang Wong, juga napak pertiwi selama prosesi berlangsung.

 

Dalam pelaksanaan Tawur Nawa Gempang ini, seluruh Krama Desa Adat Batuan diminta untuk nyokot atau mengambil tanah di setiap sudut mata angin pekarangan rumah. Tanah tersebut dibawa saat prosesi Pecaruan dikumpulkan menjadi satu untuk diruwat. “Tanah ini simbol pekarangan rumah Krama yang turut kita doakan, dibersihkan dan disucikan secara Niskala. Lebih-lebih jika dalam perjalanan pernah terjadi berbagai peristiwa pancabaya, misalnya pembunuhan, mati salah Pati ulah Pati, kebakaran maupun bahaya lain,” bebernya.

 

Tawur Nawa Gempang pula menjadi rangkaian Panca Yadnya yang digelar Desa Adat Batuan di tahun istimewa ini. Dewa Yadnya digelar bertepatan dengan Piodalan Ratu Puseh lan Ratu Desa Pura Desa Adat Batuan yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wariga atau Tumpek Uduh, Sabtu (10/12). Rsi Yadnya diwujudkan dengan Punia beras dan busana untuk Pemangku dan Sulinggih. Sementara Manusia Yadnya akan direalisasikan dalam kegiatan sosial Menek Kelih dan Metatah Massal pada Minggu (11/12). “Manusa Yadnya ini terbuka untuk umat sedharma meskipun dari luar desa. Sudah ada sekitar 75 orang yang daftar, ada dari Ketewel, Guwang, Batuan Kaler dan ada Bule dari Jerman yang akan ikut Metatah. Tidak dipungut biaya, namun jika peserta mau Punia dipersilahkan,” tandasnya.

 

Dengan adanya prosesi tersebut, ruas jalan dari arah selatan dan barat ditutup selama dua hari mulai Kamis (8/12). Sementara jalan nasional dari arah Timur ke Utara menuju Patung Bayi Sakah atau sebaliknya tetap dibuka dengan pengaturan lalu lintas dari kepolisian. Usai tawur, arus lalin sudah dibuka kembali secara normal. (ras)

 


Most Read

Artikel Terbaru