alexametrics
27.6 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Sebanyak 105 Tukang Ukir Ikuti Uji Kompetensi, Dinilai Dari Kecepatan

BALI EXPRESS, DENPASAR – Sebanyak 105 perajin kayu ukir mengikuti uji kompetensi yang dilaksanakan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Furniture dan Kayu Olahan (LSP Furniko), Jumat pagi (10/5). Salah satu tolok ukur dalam uji kompetensi tersebut adalah soal kecepatan waktu pengerjaan ukiran.

Salah satu peserta uji kompetensi dari Ubud, I Made Winata menjelaskan, ia mengetahui kegiatan ini dari temannya. Ia merasakan bahwa sertifikasi ini penting untuknya.

 “Saya memang mengukir di rumah. Di rumah ada tempat workshop. Biasanya ada turis dan langganan yang datang. Meskipun saya sudah berwirausaha sebelumnya, sertifikasi ini penting. Ada nilai tambahannya untuk saya pribadi,” jelasnya.

Ini merupakan pertama kali dia mengikuti sertifikasi. “Saya tidak setuju dengan anggapan bahwa sertifikasi bertujuan untuk mengotak-kotakan pengukir. Ini memang penting untuk ke depan. Secara global ini penting. Customer itu perlu pengakuan juga. Saya berharap mendapatkan nilai tambah dari sertifikasi ini,” tegasnya.

Ir. Bernadus Arwin, selaku ketua LSP Furniko menjelaskan, Bali menjadi kiblat bagi nasional dan Indonesia dalam hal desain, pasar, dan juga produk-produk yang memiliki muatan budaya.

 “Kami harapkan, dengan uji kompetensi ini, akan menambah semangat para pelaku seni untuk mendapat pengakuan. Sehingga mereka lebih semangat menciptakan karya-karya yang bermutu, yang sesuai dengan kodrat Bali. Gianyar terpilih sebagai The World Craft City. Nah, ini kan pengakuan dunia terhadap Gianyar. Berikutnya adalah bagaimana dengan individu-individu orang Gianyar. Senimannya gimana? Nah inilah salah satunya,” jelasnya.

“Kami berharap predikat ini bukan hanya di kalangan yang tua. Kalau tidak disemangati, nanti anak milenial tidak tertarik. Kalau gitu kan bisa putus. Nah, itulah yang kami lakukan terus secara berkelanjutan. Dalam ini di-support oleh Bekraf. Support ini untuk mengangkat nilai-nilai dari kriya ukir menjadi produk seni yang memiliki nilai ekonomi dan kreativitas  tinggi,” terangnya.

Untuk uji kompetensi, peserta diberikan skema untuk sertifikasi mengenai level III, level basic yakni level operator. “Kami memberikan satu model contoh yang harus dikerjakan maksimal tiga jam. Bagi mereka yang bisa menyelesaikan sebelum waktunya, berarti kompeten, tentu dengan mengikuti pola yang sudah ada. Jika lebih dari tiga  jam, tidak kompeten menurut satuan waktu,” jelasnya.

Selain segi teknis, LSP Furniko juga menimang segi portofolio. “Bagaimana background peserta tersebut. Bagaimana kesehariannya? Apakah dia seorang pengukir atau dunia seni atau yang lain. Itu juga menjadi perhitungan penilaian sendiri di luar itu. Karena itu merupakan  portofolio. Ketiga, softskill, attitude-nya. Karena seorang yang kompeten bukan hanya dari hasilnya, tetapi softskillnya juga. Itu juga menjadi penilain kami. Kami melihat dari pendaftaran awal, cara kerja juga terlihat,” tegasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


BALI EXPRESS, DENPASAR – Sebanyak 105 perajin kayu ukir mengikuti uji kompetensi yang dilaksanakan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Furniture dan Kayu Olahan (LSP Furniko), Jumat pagi (10/5). Salah satu tolok ukur dalam uji kompetensi tersebut adalah soal kecepatan waktu pengerjaan ukiran.

Salah satu peserta uji kompetensi dari Ubud, I Made Winata menjelaskan, ia mengetahui kegiatan ini dari temannya. Ia merasakan bahwa sertifikasi ini penting untuknya.

 “Saya memang mengukir di rumah. Di rumah ada tempat workshop. Biasanya ada turis dan langganan yang datang. Meskipun saya sudah berwirausaha sebelumnya, sertifikasi ini penting. Ada nilai tambahannya untuk saya pribadi,” jelasnya.

Ini merupakan pertama kali dia mengikuti sertifikasi. “Saya tidak setuju dengan anggapan bahwa sertifikasi bertujuan untuk mengotak-kotakan pengukir. Ini memang penting untuk ke depan. Secara global ini penting. Customer itu perlu pengakuan juga. Saya berharap mendapatkan nilai tambah dari sertifikasi ini,” tegasnya.

Ir. Bernadus Arwin, selaku ketua LSP Furniko menjelaskan, Bali menjadi kiblat bagi nasional dan Indonesia dalam hal desain, pasar, dan juga produk-produk yang memiliki muatan budaya.

 “Kami harapkan, dengan uji kompetensi ini, akan menambah semangat para pelaku seni untuk mendapat pengakuan. Sehingga mereka lebih semangat menciptakan karya-karya yang bermutu, yang sesuai dengan kodrat Bali. Gianyar terpilih sebagai The World Craft City. Nah, ini kan pengakuan dunia terhadap Gianyar. Berikutnya adalah bagaimana dengan individu-individu orang Gianyar. Senimannya gimana? Nah inilah salah satunya,” jelasnya.

“Kami berharap predikat ini bukan hanya di kalangan yang tua. Kalau tidak disemangati, nanti anak milenial tidak tertarik. Kalau gitu kan bisa putus. Nah, itulah yang kami lakukan terus secara berkelanjutan. Dalam ini di-support oleh Bekraf. Support ini untuk mengangkat nilai-nilai dari kriya ukir menjadi produk seni yang memiliki nilai ekonomi dan kreativitas  tinggi,” terangnya.

Untuk uji kompetensi, peserta diberikan skema untuk sertifikasi mengenai level III, level basic yakni level operator. “Kami memberikan satu model contoh yang harus dikerjakan maksimal tiga jam. Bagi mereka yang bisa menyelesaikan sebelum waktunya, berarti kompeten, tentu dengan mengikuti pola yang sudah ada. Jika lebih dari tiga  jam, tidak kompeten menurut satuan waktu,” jelasnya.

Selain segi teknis, LSP Furniko juga menimang segi portofolio. “Bagaimana background peserta tersebut. Bagaimana kesehariannya? Apakah dia seorang pengukir atau dunia seni atau yang lain. Itu juga menjadi perhitungan penilaian sendiri di luar itu. Karena itu merupakan  portofolio. Ketiga, softskill, attitude-nya. Karena seorang yang kompeten bukan hanya dari hasilnya, tetapi softskillnya juga. Itu juga menjadi penilain kami. Kami melihat dari pendaftaran awal, cara kerja juga terlihat,” tegasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


Most Read

Artikel Terbaru

/