alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Komunitas Jurnalis Gianyar Kecam Akun Medsos Jiplak Karya Jurnalistik

GIANYAR, BALI EXPRESS – Adanya akun media sosiak berbagi informasi yang cenderung menjiplak karya jurnalistik tanpa ijin membuat Komunitas Jurnalis Gianyar (KJG) mengambil sikap.

Kumpulan wartawan yang bertugas di Gianyar itu pun menilai ada pelanggaran. Sebab tak sedikit akun media sosial yang hanya men-screenshot foto dan naskah berita dari media mainstream dan mengunggahnya kembali. Terlebih sebagian besar akun medsos yang memiliki pengikuti ratusan ribu itu  bekerja secara komersial.

Juru Bicara KJG, Komang Astana, menegaskan bahwa karya jurnalistik adalah produk dalam bentuk informasi dari perusahaan yang memproduksi. Dengan demikian pihak lain yang menyebarluaskan informasi atau produk itu pun wajib mengantongi ijin dari  perusahaan media yang mengeluarkan atau memproduksi. “Jadi tidak bisa sembarangan,” ujar wartawan senior tersebut, Selasa (10/8).

Menurutnya hal itu sudah melabrak etika dan aturan pada Undang-undang Pers. “Dalam Undang-undang Pers, kalau mengutip diperbolehkan, namun hanya untuk pendidikan dan konsumsi pembaca. Kalau untuk tujuan komersial, jelas itu sebuah kesalahan,” sebutnya.

Semestinya, akun medsos tidak sembarangan menyebarkan screenshot dari media resmi yang sudah terdaftar di Dewan Pers. “Sebagai Pembelajaran dan tertib hukum, upaya hukum patut dijalankan terhadap penjiplakan produk jurnalistik yang marak terjadi sekarang ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut dirinya mengambil referensi dari aplikasi Baca Berita (Babe) yang melakukan kerjasama dengan media sebelum mengunggah berita di aplikasi tersebut. “Dan itu yang di upload adalah link media. Bukan screenshot beritanya,” beber Astana.

Berbeda jika melakukan repost. Sebab repost berbeda dengan meng-screenshot. “Kalau yang direpost langsung dari IG media resmi tidak masalah,” sambungnya.

Terlebih akun medsos tersebut juga mencari keuntungan dari pemberitaan media resmi. Dan parahnya lagi, akun media sosial yang ‘nakal’ seperti itu tidaklah satu atau dua akun. Hal itu terjadi seiring dengan menjamurnya akun-akun media sosial berbagi informasi di Bali. “Mereka tidak menggali informasi, mereka tidak ke lapangan. Mereka tidak tahu bagaimana kami di lapangan, tapi seenaknya main screenshot,” pungkasnya.

Salah satu akun yang melakukan hal tersebut adalah akun medsos Punapi Bali yang aktif di Instagram dan Facebook. Admin Punapi Bali, Cita Prasada, pun telah meminta maaf kepada KJG atas kesalahan yang dilakukan. “Saya akui kesalahan saya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Tidak bermaksud untuk ambil keuntungan, dari ini. Karena saya pun mengerti tugasnya bapak-bapak disini sebagai wartawan. Mungkin ini jadi pembelajaran saya kedepannya,” ujarnya lewat grup Whatsapp Komunitas Jurnalis Gianyar (KJG). 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Adanya akun media sosiak berbagi informasi yang cenderung menjiplak karya jurnalistik tanpa ijin membuat Komunitas Jurnalis Gianyar (KJG) mengambil sikap.

Kumpulan wartawan yang bertugas di Gianyar itu pun menilai ada pelanggaran. Sebab tak sedikit akun media sosial yang hanya men-screenshot foto dan naskah berita dari media mainstream dan mengunggahnya kembali. Terlebih sebagian besar akun medsos yang memiliki pengikuti ratusan ribu itu  bekerja secara komersial.

Juru Bicara KJG, Komang Astana, menegaskan bahwa karya jurnalistik adalah produk dalam bentuk informasi dari perusahaan yang memproduksi. Dengan demikian pihak lain yang menyebarluaskan informasi atau produk itu pun wajib mengantongi ijin dari  perusahaan media yang mengeluarkan atau memproduksi. “Jadi tidak bisa sembarangan,” ujar wartawan senior tersebut, Selasa (10/8).

Menurutnya hal itu sudah melabrak etika dan aturan pada Undang-undang Pers. “Dalam Undang-undang Pers, kalau mengutip diperbolehkan, namun hanya untuk pendidikan dan konsumsi pembaca. Kalau untuk tujuan komersial, jelas itu sebuah kesalahan,” sebutnya.

Semestinya, akun medsos tidak sembarangan menyebarkan screenshot dari media resmi yang sudah terdaftar di Dewan Pers. “Sebagai Pembelajaran dan tertib hukum, upaya hukum patut dijalankan terhadap penjiplakan produk jurnalistik yang marak terjadi sekarang ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut dirinya mengambil referensi dari aplikasi Baca Berita (Babe) yang melakukan kerjasama dengan media sebelum mengunggah berita di aplikasi tersebut. “Dan itu yang di upload adalah link media. Bukan screenshot beritanya,” beber Astana.

Berbeda jika melakukan repost. Sebab repost berbeda dengan meng-screenshot. “Kalau yang direpost langsung dari IG media resmi tidak masalah,” sambungnya.

Terlebih akun medsos tersebut juga mencari keuntungan dari pemberitaan media resmi. Dan parahnya lagi, akun media sosial yang ‘nakal’ seperti itu tidaklah satu atau dua akun. Hal itu terjadi seiring dengan menjamurnya akun-akun media sosial berbagi informasi di Bali. “Mereka tidak menggali informasi, mereka tidak ke lapangan. Mereka tidak tahu bagaimana kami di lapangan, tapi seenaknya main screenshot,” pungkasnya.

Salah satu akun yang melakukan hal tersebut adalah akun medsos Punapi Bali yang aktif di Instagram dan Facebook. Admin Punapi Bali, Cita Prasada, pun telah meminta maaf kepada KJG atas kesalahan yang dilakukan. “Saya akui kesalahan saya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Tidak bermaksud untuk ambil keuntungan, dari ini. Karena saya pun mengerti tugasnya bapak-bapak disini sebagai wartawan. Mungkin ini jadi pembelajaran saya kedepannya,” ujarnya lewat grup Whatsapp Komunitas Jurnalis Gianyar (KJG). 


Most Read

Artikel Terbaru

/