alexametrics
30.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Koleksi Ratusan Lontar Usadha dan Jadi Pelestari Manuskrip

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan kepada Filolog yang sekaligus peneliti lontar, Guru Sugi Lanus atas rekor Pelestari Manuskrip Lontar Usadha Terbanyak, Rabu (8/9) lalu. Guru Sugi Lanus mengoleksi 110 cakep Lontar Usadha dan 150 cakep Literarur Pengobatan Tradisional Bali dan Jawa Kuno.

Dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Group) melalui sambungan telepon, Kamis (10/9), Sugi Lanus menjelaskan, pemberian Rekor MURI bernomor 9637/R.Muri/IX/2020 yang ditandatangani langsung Ketua Umum Museum Rekor-Dunia Indonesia, Prof. Dr.h.c.KP Jaya Suprana, setelah beberapa kali diundang webinar soal wabah penyakit di masyarakat.

Diantaranya oleh Dirjen Kebudayaan hingga Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Dalam  beberapa pertemuan itu, dirinya mengungkap beragam pengobatan usadha, soal wabah dan lontar-lontar.

“Saya cerita koleksi dan isinya, malah diberi MURI. Secara perorangan memang tidak ada di dunia punya khusus lontar pengobatan tradisional sebanyak koleksi Lontar Usadha saya. Koleksi perpustakaan nasional, juga diperkirakan tidak sebanyak koleksi saya. Waktunya memang masa pandemi ini kita buka warisan budaya,” jelas Sugi Lanus.

Lalu, kenapa tertarik  mengumpulkan Lontar Usadha? Dijelaskan Sugi Lanus jika Lontar Usadha merupakan referensi paling penting bagi orang Bali tentang tradisi panjang penggunaan dan pengalaman pengobatan herbal. Lontar-lontar inipun diturunkan dari generasi ke generasi dan menunjukkan ketergantungan orang Bali pada pengobatan herbal.

Lontar Usadha, sebut Sugi Lanus, mengandung komponen utama obat tradisional, yang telah digunakan sejak ribuan tahun. Lontar ini telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap sejarah kesehatan masyarakat Bali melalui sifat-sifat promotif, kuratif, dan rehabilitatif kesehatan, terutama untuk pencegahan penyakit.

“Setiap lontar memberikan deskripsi penyakit, persiapan campuran tradisional, komposisinya, bagian tanaman yang digunakan, dosis, sifat terapeutik, indikasi dan penggunaan, dan referensi penting lainnya,” imbuhnya.

Lontar Usadha disajikan secara tradisional dan perlu dibuka kembali sebagai referensi. Dengan tujuan untuk mempromosikan penggunaan obat-obatan herbal yang rasional, aman dan tepat, serta mengarusutamakan penggunaan obat-obatan herbal.

Belajar usadha secara modern bisa menjadi upaya untuk meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas ke pengobatan yang hemat biaya untuk masalah kesehatan yang biasa ditemui dengan obat herbal. Apalagi belakangan ini sedang digalakkan pengobatan tradisional oleh pemerintah.

“Saya menerima piagam MURI bukan untuk saya. Tapi sebagai pembuka wawasan bagi generasi muda, kalau kita punya warisan budaya berupa manuskrip pengobatan tradisional yang demikian banyak. Jadi, sudah waktunya memang masa pandemi ini kita buka Lontar-lontar Usadha sebagai alternatif mempelajari pengobatan dan resep meningkatkan imunitas atau menjaga kesehatan,” pesannya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan kepada Filolog yang sekaligus peneliti lontar, Guru Sugi Lanus atas rekor Pelestari Manuskrip Lontar Usadha Terbanyak, Rabu (8/9) lalu. Guru Sugi Lanus mengoleksi 110 cakep Lontar Usadha dan 150 cakep Literarur Pengobatan Tradisional Bali dan Jawa Kuno.

Dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Group) melalui sambungan telepon, Kamis (10/9), Sugi Lanus menjelaskan, pemberian Rekor MURI bernomor 9637/R.Muri/IX/2020 yang ditandatangani langsung Ketua Umum Museum Rekor-Dunia Indonesia, Prof. Dr.h.c.KP Jaya Suprana, setelah beberapa kali diundang webinar soal wabah penyakit di masyarakat.

Diantaranya oleh Dirjen Kebudayaan hingga Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Dalam  beberapa pertemuan itu, dirinya mengungkap beragam pengobatan usadha, soal wabah dan lontar-lontar.

“Saya cerita koleksi dan isinya, malah diberi MURI. Secara perorangan memang tidak ada di dunia punya khusus lontar pengobatan tradisional sebanyak koleksi Lontar Usadha saya. Koleksi perpustakaan nasional, juga diperkirakan tidak sebanyak koleksi saya. Waktunya memang masa pandemi ini kita buka warisan budaya,” jelas Sugi Lanus.

Lalu, kenapa tertarik  mengumpulkan Lontar Usadha? Dijelaskan Sugi Lanus jika Lontar Usadha merupakan referensi paling penting bagi orang Bali tentang tradisi panjang penggunaan dan pengalaman pengobatan herbal. Lontar-lontar inipun diturunkan dari generasi ke generasi dan menunjukkan ketergantungan orang Bali pada pengobatan herbal.

Lontar Usadha, sebut Sugi Lanus, mengandung komponen utama obat tradisional, yang telah digunakan sejak ribuan tahun. Lontar ini telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap sejarah kesehatan masyarakat Bali melalui sifat-sifat promotif, kuratif, dan rehabilitatif kesehatan, terutama untuk pencegahan penyakit.

“Setiap lontar memberikan deskripsi penyakit, persiapan campuran tradisional, komposisinya, bagian tanaman yang digunakan, dosis, sifat terapeutik, indikasi dan penggunaan, dan referensi penting lainnya,” imbuhnya.

Lontar Usadha disajikan secara tradisional dan perlu dibuka kembali sebagai referensi. Dengan tujuan untuk mempromosikan penggunaan obat-obatan herbal yang rasional, aman dan tepat, serta mengarusutamakan penggunaan obat-obatan herbal.

Belajar usadha secara modern bisa menjadi upaya untuk meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas ke pengobatan yang hemat biaya untuk masalah kesehatan yang biasa ditemui dengan obat herbal. Apalagi belakangan ini sedang digalakkan pengobatan tradisional oleh pemerintah.

“Saya menerima piagam MURI bukan untuk saya. Tapi sebagai pembuka wawasan bagi generasi muda, kalau kita punya warisan budaya berupa manuskrip pengobatan tradisional yang demikian banyak. Jadi, sudah waktunya memang masa pandemi ini kita buka Lontar-lontar Usadha sebagai alternatif mempelajari pengobatan dan resep meningkatkan imunitas atau menjaga kesehatan,” pesannya.


Most Read

Artikel Terbaru

/