29.8 C
Denpasar
Tuesday, December 6, 2022

Demam Tinggi, Bocah Pengungsi Dilarikan ke BRSU Tabanan

BALI EXPRESS, TABANAN – I Wayan Pandu Dharma Putra, bocah pengungsi asal Banjar Gula, Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, terpaksa dilarikan ke UGD BRSU Tabanan, Minggu malam (8/10) setelah mengalami demam tinggi sejak dua hari terakhir. Bocah berumur 2,5 tahun tersebut kini dirawat inap di ruang Anggrek BRSU Tabanan.

Ayah Pandu Dharma Putra, I Wayan Sebudi, 34, menjelaskan jika anak pertamanya tersebut sudah mengalami demam sejak dua hari terakhir hingga akhirnya pada Minggu malam (8/10) sekitar pukul 20.24 anaknya dilarikan ke UGD BRSU Tabanan oleh sejumlah relawan di Posko Pengungsian Kantor Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Tabanan.

Ia sendiri bersama keluarganya sudah dua minggu mengungsi di posko tersebut karena rumahnya berlokasi sekitar 7 hingga 8 kilometer dari Gunung Agung. “Panasnya tinggi jadi dibawa ke rumah sakit,” ujarnya Senin kemarin (9/10) didampingi istrinya, Ni Luh Antiniasih, 23.

Baca Juga :  Disebut-sebut Keluarkan Warga, Pihak Desa Gulingan Angkat Bicara

Setelah mendapatkan perawatan, kini kondisi sang anak sudah membaik, namun masih harus dalam perawatan tenaga medis. Dokter Jaga, dr. I Putu Surya Abidharma mengatakan bahwa, pasien tiba di BRSU Tabanan memang dalam kondisi panas tinggi yakni 39 derajat celcius, serta dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya penurunan trombosit dengan suspect demam dengue namun tidak drastic sehingga tidak bisa diklasifikasikan DBD. “Jadi pasien masih harus diobservasi untuk kita cek lagi trombositnya,” ujarnya.

Demam tinggi yang dialami pasien selama dua hari juga menyebabkan asupan makanan dan minuman yang masuk ke tubuh pasien tidak baik sehingga harus dirawat inap di BRSU Tabanan.

Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh di BRSU Tabanan, selain Pandu Dharma Putra, saat ini ada tiga orang pengungsi lainnya yang menjalani rawat inap di BRSU Tabanan, dua orang dirawat di ruang Bougenville, dan satu lagi di dirawat di ruang Cempaka. “Dan ada dua orang yang dirawat di RS Nyitdah, yitu Ni Nengah Suwiti, 80, dan I Wayan Wage, 78, asal Banjr Gelundungan, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem,” ujar Direktur BRSU Tabanan, dr. I Nyoman Susila.

Baca Juga :  Cegah Gigitan Rabies, Desa Baturiti Lakukan Eliminasi dan Vaksinasi

Disamping itu, sejak tanggal 24 September hingga 8 Oktober 2017, ada 37 orang pengungsi asal Karangasem yang menjalani perawatan di BRSU Tabanan, baik rawat jalan maupun rawat inap. Dan dari seluruh pasien tersebut, rincian biaya perawatan sudah dikirimkan ke Provinsi, padahal sesuai hasil koordinasi, Pemkab Tabanan berkomitmen untuk mengratiskan seluruh biaya perawatan bagi pasien yang merupakan pengungsi asal Karangasem. “Hanya saja jika dibayarkan oleh Provinsi maka akan masuk ke pendapata daerah, namun jika tidak maka itu bukan masalah karena masuk dalam misi sosial rumah sakit, dan Pemkab Tabanan juga berkomitmen mengratiskan biaya bagi para pengungsi,” pungkasnya. 


BALI EXPRESS, TABANAN – I Wayan Pandu Dharma Putra, bocah pengungsi asal Banjar Gula, Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, terpaksa dilarikan ke UGD BRSU Tabanan, Minggu malam (8/10) setelah mengalami demam tinggi sejak dua hari terakhir. Bocah berumur 2,5 tahun tersebut kini dirawat inap di ruang Anggrek BRSU Tabanan.

Ayah Pandu Dharma Putra, I Wayan Sebudi, 34, menjelaskan jika anak pertamanya tersebut sudah mengalami demam sejak dua hari terakhir hingga akhirnya pada Minggu malam (8/10) sekitar pukul 20.24 anaknya dilarikan ke UGD BRSU Tabanan oleh sejumlah relawan di Posko Pengungsian Kantor Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Tabanan.

Ia sendiri bersama keluarganya sudah dua minggu mengungsi di posko tersebut karena rumahnya berlokasi sekitar 7 hingga 8 kilometer dari Gunung Agung. “Panasnya tinggi jadi dibawa ke rumah sakit,” ujarnya Senin kemarin (9/10) didampingi istrinya, Ni Luh Antiniasih, 23.

Baca Juga :  Dua Pelaku Curanmor Sudah Beraksi Berkali-kali

Setelah mendapatkan perawatan, kini kondisi sang anak sudah membaik, namun masih harus dalam perawatan tenaga medis. Dokter Jaga, dr. I Putu Surya Abidharma mengatakan bahwa, pasien tiba di BRSU Tabanan memang dalam kondisi panas tinggi yakni 39 derajat celcius, serta dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya penurunan trombosit dengan suspect demam dengue namun tidak drastic sehingga tidak bisa diklasifikasikan DBD. “Jadi pasien masih harus diobservasi untuk kita cek lagi trombositnya,” ujarnya.

Demam tinggi yang dialami pasien selama dua hari juga menyebabkan asupan makanan dan minuman yang masuk ke tubuh pasien tidak baik sehingga harus dirawat inap di BRSU Tabanan.

Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh di BRSU Tabanan, selain Pandu Dharma Putra, saat ini ada tiga orang pengungsi lainnya yang menjalani rawat inap di BRSU Tabanan, dua orang dirawat di ruang Bougenville, dan satu lagi di dirawat di ruang Cempaka. “Dan ada dua orang yang dirawat di RS Nyitdah, yitu Ni Nengah Suwiti, 80, dan I Wayan Wage, 78, asal Banjr Gelundungan, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem,” ujar Direktur BRSU Tabanan, dr. I Nyoman Susila.

Baca Juga :  Tiga Kecamatan di Karangasem Masuk Zona Merah Peredaran Narkoba

Disamping itu, sejak tanggal 24 September hingga 8 Oktober 2017, ada 37 orang pengungsi asal Karangasem yang menjalani perawatan di BRSU Tabanan, baik rawat jalan maupun rawat inap. Dan dari seluruh pasien tersebut, rincian biaya perawatan sudah dikirimkan ke Provinsi, padahal sesuai hasil koordinasi, Pemkab Tabanan berkomitmen untuk mengratiskan seluruh biaya perawatan bagi pasien yang merupakan pengungsi asal Karangasem. “Hanya saja jika dibayarkan oleh Provinsi maka akan masuk ke pendapata daerah, namun jika tidak maka itu bukan masalah karena masuk dalam misi sosial rumah sakit, dan Pemkab Tabanan juga berkomitmen mengratiskan biaya bagi para pengungsi,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/