26.5 C
Denpasar
Saturday, February 4, 2023

Potensi Erupsi masih Tinggi, PVMBG Belum Berpikir Turunkan Status Awas

BALI EXPRESS, RENDANG – Tingginya aktivitas Gunung Agung membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum berpikir untuk menurunkan status Awas. Karena hingga kemarin, potensi erupsi masih sangat tinggi. Hal itu disampaikan Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Kasbani, Senin (9/10).

Setelah sempat menghembuskan uap solfatara hingga setinggi 1,5km pada Sabtu (7/10) malam, aktivitas kawah Gunung Agung hingga kemarin (9/10) sepertinya masih kembali seperti periode sebelumnya. Sebab dengan aktivitas di dalam gunung yang masih tinggi, uap solfatara yang dikeluarkan pun masih terus terjadi dengan ketinggian sekitar 200 meter. Hal ini dibarengi dengan aktivitas kegempaan yang masih tinggi.

“Jadi yang 1,5km (uap solfatara) itu hanya sesaat. Sebab dalam pemantauan beberapa hari terakhir uap yang keluar hanya memiliki tinggi sekitar 200 meter. Itu terpantau dari pos pemantauan yang ada di utara Gunung Agung,” ucap Kasbani, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM saat ditemui di Pos Pemantauan Gunung Api Agung di Rendang, , Senin kemarin (9/10).

Selain masih intensnya uap solfatara yang keluar dari kawah Gunung Agung, kegempaan yang terjadi pun masih tinggi. “Jadi aktivitas Gunung Agung masih tinggi dan fluktuatif, dengan kegempaan rata-rata masih di atas 700an tiap harinya. Dan pagi ini (pukul 00.00 hingga 12.00) sudah sekitar 180 kali. Jadi warga yang masih di dalam supaya keluar dari zona bahaya, dan yang masih ada di luar untuk tidak masuk ke zona bahaya,” ingatnya.

Disinggung mengenai masih lamanya aktivitas Gunung Agung ini, dikatakan Kasbani hal itu terkait dengan masih bergolaknya bagian dalam Gunung Agung. Inilah yang membuat gunung ini masih sangat aktif, dan tanda bakal terjadinya erupsi masih sangat tinggi.

“Dan ini salah satu manifestasi, bahwa potensi gunung ini sangat tinggi. Cuma saya tegaskan, tidak bisa diprediksi kapan (akan erupsi), tapi arahnya memang potensi besar letusan. Makanya tiap menit kami pantau perkembangannya,” terangnya.

“Selain itu, deformasi masih sama. Hasil pantauan dan data, indikasinya masih sama. Karena namanya Gunung Agung lagi aktif, pasti akan terjadi penggembungan dari semua sudut. Itu hal yang wajar lantaran adanya desakan dari dalam, dan itu biasa,” sambungnya.

Sekaligus menegaskan bahwa potensi letusan Gunung Agung masih ke arah atas, dan belum mengarah pada letusan ke samping.

Sedangkan terkait dengan masih adanya warga, hingga wisatawan asing yang naik ke puncak Gunung Agung dan videonya ramai di media sosial, dikatakan oleh Kasbani, pihaknya sampai kemarin tetap menghimbau warga dan siapa pun untuk tidak mendaki gunung tertinggi di Bali ini. Karena potensi letusan bisa terjadi kapan saja.

“Karena memang sangat berbahaya. Apalagi hembusan gas beracun juga sangat berbahaya. Lalu jika terjadi letusan, kecepatan awan panas itu bisa mencapai 100 km perjam, dan sangat sulit untuk lari,” terangnya.

Sementara itu disinggung mengenai kabar yang menyebutkan Posko Pemantauan Gunung Api Agung di Rendang telah dipindahkan, sambil tersenyum mengatakan, bahwa itu tidaklah benar. Karena seperti katanya, sampai kemarin petugasnya pun masih terus melakukan pemantauan atas aktivitas Gunung Agung melalui pos yang dibangun sekitar 1964 tersebut.

“Tidak, jangan diterjemahkan untuk pindah. Kami ada di sini sampai saat ini tentu karena kawasan ini masih aman. Dan sampai saat ini pun pemantauan masih berjalan (di Pos Pemantauan Gunung Api Agung di Rendang),” ucapnya.

Sedangkan ketika ditanya mengenai apakah ada kemungkinan material letusan bakal sampai di Posko Pemantauan Gunung Api Agung di Rendang yang berjarak 12 km dari puncak Gunung Agung, Kasbani enggan untuk berandai-andai. Karena dia memastikan, ketika memang ada informasi terkait radius bahaya Gunung Agung, pihaknya pastinya akan segera menyampaikan informasi tersebut kepada awak media yang “ngetem” di Pos Pantau Rendang tersebut.

“Ah itu jangan berandai-andai dululah. Buktinya sampai saat ini masih tetap di sini untuk pantau terus menerus. Nanti pasti kami akan sampaikan ke teman-teman media, jika ada perkembangan aktivitas Gunung Agung,” paparnya.

“Tapi jika melihat letusan pada 1963, kawasan ini masih aman. Karena yang sampai di sini hanya abu. Tidak sampai ada awan panas,” sambungnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, terkait dengan bahaya yang mengancam tatkala gunung api meletus, termasuk Gunung Agung, diterangkan olehnya bahwa bahaya itu ada yang namanya bahaya primer. Bahaya ini meliputi lontaran batu pijar, baik itu yang berupa material kerikil dengan jarak jangkau sekitar 9 km dari puncak Gunung Agung. Kemudian ada bahaya awan panas yang sampai 12 km, serta leleran lava. Termasuk hujan abu, yang cukup diantisipasi dengan menyiapkan masker.

“Lalu kalau bahaya sekunder itu, ya lahar dingin ketika terjadi hujan,” katanya.

Sementara itu berdasarkan data hasil pengamatan Gunung Agung dari pukul 12.00 hingga 18.00 kemarin, teramati jika gunung tertinggi di Bali itu masih setia dengan selimut kabut dan mendung yang menutupi tubuh hingga puncaknya. Sedangkan untuk asap kawah sendiri masih dalam tekanan lemah, yang teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis setinggi 200 meter dari puncak kawah. Sedangkan untuk kegempaan pada gunung dengan tinggi 3.142 mdpl itu pun masih cukup tinggi. Lantaran dalam enam jam tersebut, gempa vulkanik dangkal tercatat berjumlah 98 kali. Kemudian gempa vulkanik dalam tercatat 138 kali, dan gempa tektonik lokal tercatat enam kali. 


BALI EXPRESS, RENDANG – Tingginya aktivitas Gunung Agung membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum berpikir untuk menurunkan status Awas. Karena hingga kemarin, potensi erupsi masih sangat tinggi. Hal itu disampaikan Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Kasbani, Senin (9/10).

Setelah sempat menghembuskan uap solfatara hingga setinggi 1,5km pada Sabtu (7/10) malam, aktivitas kawah Gunung Agung hingga kemarin (9/10) sepertinya masih kembali seperti periode sebelumnya. Sebab dengan aktivitas di dalam gunung yang masih tinggi, uap solfatara yang dikeluarkan pun masih terus terjadi dengan ketinggian sekitar 200 meter. Hal ini dibarengi dengan aktivitas kegempaan yang masih tinggi.

“Jadi yang 1,5km (uap solfatara) itu hanya sesaat. Sebab dalam pemantauan beberapa hari terakhir uap yang keluar hanya memiliki tinggi sekitar 200 meter. Itu terpantau dari pos pemantauan yang ada di utara Gunung Agung,” ucap Kasbani, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM saat ditemui di Pos Pemantauan Gunung Api Agung di Rendang, , Senin kemarin (9/10).

Selain masih intensnya uap solfatara yang keluar dari kawah Gunung Agung, kegempaan yang terjadi pun masih tinggi. “Jadi aktivitas Gunung Agung masih tinggi dan fluktuatif, dengan kegempaan rata-rata masih di atas 700an tiap harinya. Dan pagi ini (pukul 00.00 hingga 12.00) sudah sekitar 180 kali. Jadi warga yang masih di dalam supaya keluar dari zona bahaya, dan yang masih ada di luar untuk tidak masuk ke zona bahaya,” ingatnya.

Disinggung mengenai masih lamanya aktivitas Gunung Agung ini, dikatakan Kasbani hal itu terkait dengan masih bergolaknya bagian dalam Gunung Agung. Inilah yang membuat gunung ini masih sangat aktif, dan tanda bakal terjadinya erupsi masih sangat tinggi.

“Dan ini salah satu manifestasi, bahwa potensi gunung ini sangat tinggi. Cuma saya tegaskan, tidak bisa diprediksi kapan (akan erupsi), tapi arahnya memang potensi besar letusan. Makanya tiap menit kami pantau perkembangannya,” terangnya.

“Selain itu, deformasi masih sama. Hasil pantauan dan data, indikasinya masih sama. Karena namanya Gunung Agung lagi aktif, pasti akan terjadi penggembungan dari semua sudut. Itu hal yang wajar lantaran adanya desakan dari dalam, dan itu biasa,” sambungnya.

Sekaligus menegaskan bahwa potensi letusan Gunung Agung masih ke arah atas, dan belum mengarah pada letusan ke samping.

Sedangkan terkait dengan masih adanya warga, hingga wisatawan asing yang naik ke puncak Gunung Agung dan videonya ramai di media sosial, dikatakan oleh Kasbani, pihaknya sampai kemarin tetap menghimbau warga dan siapa pun untuk tidak mendaki gunung tertinggi di Bali ini. Karena potensi letusan bisa terjadi kapan saja.

“Karena memang sangat berbahaya. Apalagi hembusan gas beracun juga sangat berbahaya. Lalu jika terjadi letusan, kecepatan awan panas itu bisa mencapai 100 km perjam, dan sangat sulit untuk lari,” terangnya.

Sementara itu disinggung mengenai kabar yang menyebutkan Posko Pemantauan Gunung Api Agung di Rendang telah dipindahkan, sambil tersenyum mengatakan, bahwa itu tidaklah benar. Karena seperti katanya, sampai kemarin petugasnya pun masih terus melakukan pemantauan atas aktivitas Gunung Agung melalui pos yang dibangun sekitar 1964 tersebut.

“Tidak, jangan diterjemahkan untuk pindah. Kami ada di sini sampai saat ini tentu karena kawasan ini masih aman. Dan sampai saat ini pun pemantauan masih berjalan (di Pos Pemantauan Gunung Api Agung di Rendang),” ucapnya.

Sedangkan ketika ditanya mengenai apakah ada kemungkinan material letusan bakal sampai di Posko Pemantauan Gunung Api Agung di Rendang yang berjarak 12 km dari puncak Gunung Agung, Kasbani enggan untuk berandai-andai. Karena dia memastikan, ketika memang ada informasi terkait radius bahaya Gunung Agung, pihaknya pastinya akan segera menyampaikan informasi tersebut kepada awak media yang “ngetem” di Pos Pantau Rendang tersebut.

“Ah itu jangan berandai-andai dululah. Buktinya sampai saat ini masih tetap di sini untuk pantau terus menerus. Nanti pasti kami akan sampaikan ke teman-teman media, jika ada perkembangan aktivitas Gunung Agung,” paparnya.

“Tapi jika melihat letusan pada 1963, kawasan ini masih aman. Karena yang sampai di sini hanya abu. Tidak sampai ada awan panas,” sambungnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, terkait dengan bahaya yang mengancam tatkala gunung api meletus, termasuk Gunung Agung, diterangkan olehnya bahwa bahaya itu ada yang namanya bahaya primer. Bahaya ini meliputi lontaran batu pijar, baik itu yang berupa material kerikil dengan jarak jangkau sekitar 9 km dari puncak Gunung Agung. Kemudian ada bahaya awan panas yang sampai 12 km, serta leleran lava. Termasuk hujan abu, yang cukup diantisipasi dengan menyiapkan masker.

“Lalu kalau bahaya sekunder itu, ya lahar dingin ketika terjadi hujan,” katanya.

Sementara itu berdasarkan data hasil pengamatan Gunung Agung dari pukul 12.00 hingga 18.00 kemarin, teramati jika gunung tertinggi di Bali itu masih setia dengan selimut kabut dan mendung yang menutupi tubuh hingga puncaknya. Sedangkan untuk asap kawah sendiri masih dalam tekanan lemah, yang teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis setinggi 200 meter dari puncak kawah. Sedangkan untuk kegempaan pada gunung dengan tinggi 3.142 mdpl itu pun masih cukup tinggi. Lantaran dalam enam jam tersebut, gempa vulkanik dangkal tercatat berjumlah 98 kali. Kemudian gempa vulkanik dalam tercatat 138 kali, dan gempa tektonik lokal tercatat enam kali. 


Most Read

Artikel Terbaru