alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Kasus DBD Menurun, Dinas Kesehatan Janji Aktifkan Kembali Jumantik

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Demam Berdarah Dengue (DBD) memang menjadi momok di masyarakat. Telah banyak kasus kematian akibat gigitan nyamuk Aedes Aegytpti. Segala upaya untuk memerangi nyamuk tersebut pun dilakukan agar terhindar dari demam berdarah. Bak gayung bersambut, upaya itu pun membuahkan hasil. Kasus demam berdarah di Buleleng berhasil ditekan. Meski belum maksimal, namun angka kasus menunjukkan penurunn disbanding dengan tahun 2020 lalu. Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng per September 2021, kasus DBD di Buleleng di angka 930 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Dokter Sucipto menjelaskan, perkembangan kasus DBD di Buleleng mengalami penurunan. Jumlah saat ini jauh lebih sedikit disbanding tahun lalu yang mencapai tiga ribu lebih kasus. “Tahun 2020 ada 3.246 kasus DBD. Tahun ini menurun signifikan sampai 930 kasus. Upaya penanganan untuk DBD ini tergolong berhasil karena mampu menekan kasus,” terangnya saat dikonfirmasi, Minggu (10/10) siang.

Menurunnya kasus DBD ini tidak saja upaya dari pemerintah semata. Namun peran aktif dari masyarakat yang sudah mulai sadar dengan lingkungan sekitar. Pemberantasan sarang nyamuk di rumah-rumah pun sudah disadari masyarakat. Upaya mandiri untuk membersihkan genangan air dan menjaga agar perkembangan jentik tak meluas juga sangat berpengaruh. “Mulai dari kesadaran menerapkan 3M (Menguras atau membersihkan tempat penampungan air, Menutup rapat penampungan air dan Mengubur barang bekas yang berpotensi jadi tempat perkembangbiakan nyamuk). Membersihkan lingkungan serta dibantu pelaksanaan foging dari aparat desa,” tambahnya.

Sosialisasi juga terus dilakukan Dinas Kesehatan Buleleng untuk menggugah kesadaran masyarakat akan bahaya demam berdarah. “Sosialisasi lewat internet, radio dan mengirim surat kepada pihak desa untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang pencegahan awal menangani kasus DBD,” lanjutnya.

Untuk memaksimalkan penanganan DBD agar lebih efisen, Dinas Kesehatan akan kembali mengaktifkan juru pemantau jentik (Jumantik). Sebab sebelumnya Jumantik tak dapat diaktifkan karena terkendala keuangan. “Jadi untuk sementara kami belum bisa mengaktifkan jumantik itu. Tapi, dalam waktu dekat akan kami upayakan agar jumantik bisa aktif kembali sehingga penanganan DBD untuk masyarakat bisa lebih optimal,” janjinya. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Demam Berdarah Dengue (DBD) memang menjadi momok di masyarakat. Telah banyak kasus kematian akibat gigitan nyamuk Aedes Aegytpti. Segala upaya untuk memerangi nyamuk tersebut pun dilakukan agar terhindar dari demam berdarah. Bak gayung bersambut, upaya itu pun membuahkan hasil. Kasus demam berdarah di Buleleng berhasil ditekan. Meski belum maksimal, namun angka kasus menunjukkan penurunn disbanding dengan tahun 2020 lalu. Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng per September 2021, kasus DBD di Buleleng di angka 930 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Dokter Sucipto menjelaskan, perkembangan kasus DBD di Buleleng mengalami penurunan. Jumlah saat ini jauh lebih sedikit disbanding tahun lalu yang mencapai tiga ribu lebih kasus. “Tahun 2020 ada 3.246 kasus DBD. Tahun ini menurun signifikan sampai 930 kasus. Upaya penanganan untuk DBD ini tergolong berhasil karena mampu menekan kasus,” terangnya saat dikonfirmasi, Minggu (10/10) siang.

Menurunnya kasus DBD ini tidak saja upaya dari pemerintah semata. Namun peran aktif dari masyarakat yang sudah mulai sadar dengan lingkungan sekitar. Pemberantasan sarang nyamuk di rumah-rumah pun sudah disadari masyarakat. Upaya mandiri untuk membersihkan genangan air dan menjaga agar perkembangan jentik tak meluas juga sangat berpengaruh. “Mulai dari kesadaran menerapkan 3M (Menguras atau membersihkan tempat penampungan air, Menutup rapat penampungan air dan Mengubur barang bekas yang berpotensi jadi tempat perkembangbiakan nyamuk). Membersihkan lingkungan serta dibantu pelaksanaan foging dari aparat desa,” tambahnya.

Sosialisasi juga terus dilakukan Dinas Kesehatan Buleleng untuk menggugah kesadaran masyarakat akan bahaya demam berdarah. “Sosialisasi lewat internet, radio dan mengirim surat kepada pihak desa untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang pencegahan awal menangani kasus DBD,” lanjutnya.

Untuk memaksimalkan penanganan DBD agar lebih efisen, Dinas Kesehatan akan kembali mengaktifkan juru pemantau jentik (Jumantik). Sebab sebelumnya Jumantik tak dapat diaktifkan karena terkendala keuangan. “Jadi untuk sementara kami belum bisa mengaktifkan jumantik itu. Tapi, dalam waktu dekat akan kami upayakan agar jumantik bisa aktif kembali sehingga penanganan DBD untuk masyarakat bisa lebih optimal,” janjinya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/