alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Areal Bakal Digunakam SMA Negeri, Budayawan Prihatin Nasib Kokar  

GIANYAR, BALI EXPRESS – Beredar wacana akan adanya pembangunan SMA Negeri yang baru di areal SMKN 3 Sukawati atau Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar). 

Rencana pembangunan itu dinilai akan menimbulkan kegaduhan sosial budaya. Sehingga kekhawatiran yang lain muncul bahwa Bali akan kehilangan salah satu lembaga yang mencetak seniman Karawitan.

Menanggapi wacana tersebut, Budayawan Prof Dr I Wayan Dibia menjelaskan, jika rencana itu dilakukan akan merugikan kedua belah pihak. “Jika sebagai sekolah kesenian SMKN 3 Sukawati tidak berjalan secara maksimal, saya khawatir Bali akan kehilangan salah satu lembaga yang menjadi penyangga utama dari kehidupan seni budaya Bali,” jelasnya, Kamis (10/12). 

Prof Dibia yang alumnus Kokar 1969 ini, khawatir Sekolah Kesenian kebanggaan masyarakat Bali sungguh-sungguh akan mengalami nasib yang malang. “Rumah lamanya sudah diambil lembaga lain (SMK5 Denpasar), dan kini ada wacana sebagian areal rumah barunya akan dibangun SMAN,” tandasnya.

Pria yang praktisi budaya ini, juga semakin terkejut mengetahui sekitar bulan September 2020 lalu ada tim dari Provinsi Bali untuk mengukur di sekolah tersebut. “Tidak main-main, bangunan sekolah baru ini  katanya akan mengambil sebagian besar ruang belajar SMKN 3 Sukawati termasuk auditorium. Jika semuanya ini benar, akan dibawa kemana SMKN 3 Sukawati,” ungkapnya.

Dikatakannya, kebijakan untuk membangun SMAN di areal kampus SMKN 3 menunjukkan sebuah kebijakan yang tidak didasarkan atas pemikiran yang holistik dan matang. Sebab, sebagai Sekolah Kesenian membuat keramaian seni, menari, menyanyi, menabuh gamelan, bermain musik, adalah sorga bagi siswa.

“Di sisi lain, SMA adalah sekolah membutuhkan ketenangan, sehingga keributan kesenian adalah neraka bagi mereka,” imbuh pria asal Desa Singapadu ini. 

Sementara Kokar Bali, lanjutnya, adalah sekolah kesenian yang telah memelopori banyak hal terkait dengan pembangunan kesenian Bali. Kepeloporan Kokar Bali terlihat pada beberapa hal, seperti modernisasi sistem pendidikan kesenian di Bali. 

Tari sistem pendidikan tradisional yang mengutamakan kemampuan praktik melalui metode imitasi menjadi sistem pendikan modern, yang menyeimbangkan teori dan praktik melalui metode instruksi (termasuk deskripsi dan analisis). Juga demokratisasi seni dengan membuka ruang belajar kesenian kepada para remaja putra dan putri.  

Ditemui terpisah, Kepala SMKN 3 Sukawati I Gusti Ngurah Serama Semadi mengetahui terkait rencana pembangunan SMAN tersebut. Hanya saja, ia dan pihaknya di sekolah enggan berkomentar. “Kami belum berani komentar terkait hal itu. Kalau bisa silakan langsung ke Dinas Pendidikan Provinsi Bali agar bisa dijelaskan lebih komplet,” tandasnya. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Beredar wacana akan adanya pembangunan SMA Negeri yang baru di areal SMKN 3 Sukawati atau Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar). 

Rencana pembangunan itu dinilai akan menimbulkan kegaduhan sosial budaya. Sehingga kekhawatiran yang lain muncul bahwa Bali akan kehilangan salah satu lembaga yang mencetak seniman Karawitan.

Menanggapi wacana tersebut, Budayawan Prof Dr I Wayan Dibia menjelaskan, jika rencana itu dilakukan akan merugikan kedua belah pihak. “Jika sebagai sekolah kesenian SMKN 3 Sukawati tidak berjalan secara maksimal, saya khawatir Bali akan kehilangan salah satu lembaga yang menjadi penyangga utama dari kehidupan seni budaya Bali,” jelasnya, Kamis (10/12). 

Prof Dibia yang alumnus Kokar 1969 ini, khawatir Sekolah Kesenian kebanggaan masyarakat Bali sungguh-sungguh akan mengalami nasib yang malang. “Rumah lamanya sudah diambil lembaga lain (SMK5 Denpasar), dan kini ada wacana sebagian areal rumah barunya akan dibangun SMAN,” tandasnya.

Pria yang praktisi budaya ini, juga semakin terkejut mengetahui sekitar bulan September 2020 lalu ada tim dari Provinsi Bali untuk mengukur di sekolah tersebut. “Tidak main-main, bangunan sekolah baru ini  katanya akan mengambil sebagian besar ruang belajar SMKN 3 Sukawati termasuk auditorium. Jika semuanya ini benar, akan dibawa kemana SMKN 3 Sukawati,” ungkapnya.

Dikatakannya, kebijakan untuk membangun SMAN di areal kampus SMKN 3 menunjukkan sebuah kebijakan yang tidak didasarkan atas pemikiran yang holistik dan matang. Sebab, sebagai Sekolah Kesenian membuat keramaian seni, menari, menyanyi, menabuh gamelan, bermain musik, adalah sorga bagi siswa.

“Di sisi lain, SMA adalah sekolah membutuhkan ketenangan, sehingga keributan kesenian adalah neraka bagi mereka,” imbuh pria asal Desa Singapadu ini. 

Sementara Kokar Bali, lanjutnya, adalah sekolah kesenian yang telah memelopori banyak hal terkait dengan pembangunan kesenian Bali. Kepeloporan Kokar Bali terlihat pada beberapa hal, seperti modernisasi sistem pendidikan kesenian di Bali. 

Tari sistem pendidikan tradisional yang mengutamakan kemampuan praktik melalui metode imitasi menjadi sistem pendikan modern, yang menyeimbangkan teori dan praktik melalui metode instruksi (termasuk deskripsi dan analisis). Juga demokratisasi seni dengan membuka ruang belajar kesenian kepada para remaja putra dan putri.  

Ditemui terpisah, Kepala SMKN 3 Sukawati I Gusti Ngurah Serama Semadi mengetahui terkait rencana pembangunan SMAN tersebut. Hanya saja, ia dan pihaknya di sekolah enggan berkomentar. “Kami belum berani komentar terkait hal itu. Kalau bisa silakan langsung ke Dinas Pendidikan Provinsi Bali agar bisa dijelaskan lebih komplet,” tandasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/