alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Kasus Anak Aniaya Ayah di Kampung Baru

Pelaku Pembunuhan Ayah Punya Dendam dan Suka Mengurung Diri di Kamar

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rumah duka dari keluarga Muhammad Selamat, korban penganiayaan yang dilakukan oleh anaknya sendiri nampak ramai. Ibu-ibu terlihat tengah mempersiapkan sarana upacara pemakaman untuk M. Selamat. Raut duka masih terlihat jelas di wajah keluarga korban. Kakak pelaku Ida Hayati bersama adik-adiknya pun nampak sibuk. Nampak pula ibu tirinya Lis menemani Ida.

 

Saat ditemui, dengan penuh sesak Ida menceritakan adiknya Iskak Jaelani yang tega menganiaya ayah mereka hingga tewas. Ida tak habis pikir peristiwa semacam itu akan menimpa keluarganya. Ketika peristiwa terjadi Ida tidak berada di rumah itu. Ia berada di rumahnya yang tak jauh dari lokasi kejadian. Namun ia tahu letak kandang kucing yang baru dibuat ayahnya itu. Dalam kandang terdapat dua ekor kucing yang baru saja dipelihara ayahnya. Kandangnya kemudian diletakkan di dekat pintu.

 

Merasa terusik dengan bau tak sedap, Jaelani meminta adiknya yang berusia 9 tahun untuk menyampaikan kepada ayahnya agar memindahkan kandang itu. Jika tak mau maka kandang itu akan dibongkar. Permintaan Jaelani sempat disanggah oleh ayahnya waktu itu. Dan hal tersebut membuat Jaelani tersinggung lalu mendobrak pintu lanjut memukul ayahnya hingga bersimbah darah. “Yang lihat adik saya yang paling kecil. Kandang kucing itu ada dekat pintu kamar. Kandang itu minta dipindahkan. Adik saya bilang pindahin pak. Bapak saya jawab biar dah disitu. Nah pelaku ini bilang kalau gak mau dipindah akan dibongkar. Bapak jawab lagi, jangan dibongkar baru buat kandang itu. Udah gitu tiba-tiba langsung didobrak pintunya. Bapak saya mungkin lagi istirahat di kursi. Adik saya lari ketakutan. Terus sepupu saya denger ada bunyi kayak benturan gitu. Terus sepupu saya keluar lihat adik saya bawa kayu dah penuh darah,” tuturnya dengan suara tertahan.

 

Dari penuturan Ida, Jaelani memang sudah tidak ada kecocokan dengan ayahnya. Di rumah pun mereka jarang mengobrol. Namun sesekali mereka hanya saling tegur singkat saja. Jaelani pun lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar dan tidak bekerja. “Sebenarnya bapak sama saudara yang laki-laki ini memang ada dendam. Gak ngerti saya, kadang saya lihat dia suka baca ilmu-ilmu gitu. Ilmu apa saya tidak tahu, di kamar aja. Gak pernah ngobrol sama kita-kita. Memang gak cocok mereka,” ungkapnya.

 

Ida berharap tim forensik segera dapat melakukan tindakan otopsi sehingga jenazah ayahnya bisa segera dimakamkan. “Saya maklumi dari kepolisian, tapi semoga bisa cepat. Kasian ayah saya dari kemarin dititip di rumah sakit,” tambahnya.

 

Sementara itu, Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Sumarjaya menjelaskan, polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi di sekitar lokasi kejadian. Olah TKP telah dilakukan dan polisi sudah menetapkan tersangka. “Yang memukul itu anak korban dan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Tersangka dikenakan pasal KDR 44 UU KDRT jo 351 ayat 3,” terangnya.

 

Meski demikian, pelaku masih belum bisa dimintai keterangan secara jelas. Pengakuannya pun berubah-ubah. Polisi pun akan melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku. “Awalnya pakai kayu, sekarang plinplan pengakuannya. Sementara yang menentukan gangguan jiwa itu ahlinya. Pemeriksaan kejiwaan akan dilakukan,” ungkapnya.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rumah duka dari keluarga Muhammad Selamat, korban penganiayaan yang dilakukan oleh anaknya sendiri nampak ramai. Ibu-ibu terlihat tengah mempersiapkan sarana upacara pemakaman untuk M. Selamat. Raut duka masih terlihat jelas di wajah keluarga korban. Kakak pelaku Ida Hayati bersama adik-adiknya pun nampak sibuk. Nampak pula ibu tirinya Lis menemani Ida.

 

Saat ditemui, dengan penuh sesak Ida menceritakan adiknya Iskak Jaelani yang tega menganiaya ayah mereka hingga tewas. Ida tak habis pikir peristiwa semacam itu akan menimpa keluarganya. Ketika peristiwa terjadi Ida tidak berada di rumah itu. Ia berada di rumahnya yang tak jauh dari lokasi kejadian. Namun ia tahu letak kandang kucing yang baru dibuat ayahnya itu. Dalam kandang terdapat dua ekor kucing yang baru saja dipelihara ayahnya. Kandangnya kemudian diletakkan di dekat pintu.

 

Merasa terusik dengan bau tak sedap, Jaelani meminta adiknya yang berusia 9 tahun untuk menyampaikan kepada ayahnya agar memindahkan kandang itu. Jika tak mau maka kandang itu akan dibongkar. Permintaan Jaelani sempat disanggah oleh ayahnya waktu itu. Dan hal tersebut membuat Jaelani tersinggung lalu mendobrak pintu lanjut memukul ayahnya hingga bersimbah darah. “Yang lihat adik saya yang paling kecil. Kandang kucing itu ada dekat pintu kamar. Kandang itu minta dipindahkan. Adik saya bilang pindahin pak. Bapak saya jawab biar dah disitu. Nah pelaku ini bilang kalau gak mau dipindah akan dibongkar. Bapak jawab lagi, jangan dibongkar baru buat kandang itu. Udah gitu tiba-tiba langsung didobrak pintunya. Bapak saya mungkin lagi istirahat di kursi. Adik saya lari ketakutan. Terus sepupu saya denger ada bunyi kayak benturan gitu. Terus sepupu saya keluar lihat adik saya bawa kayu dah penuh darah,” tuturnya dengan suara tertahan.

 

Dari penuturan Ida, Jaelani memang sudah tidak ada kecocokan dengan ayahnya. Di rumah pun mereka jarang mengobrol. Namun sesekali mereka hanya saling tegur singkat saja. Jaelani pun lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar dan tidak bekerja. “Sebenarnya bapak sama saudara yang laki-laki ini memang ada dendam. Gak ngerti saya, kadang saya lihat dia suka baca ilmu-ilmu gitu. Ilmu apa saya tidak tahu, di kamar aja. Gak pernah ngobrol sama kita-kita. Memang gak cocok mereka,” ungkapnya.

 

Ida berharap tim forensik segera dapat melakukan tindakan otopsi sehingga jenazah ayahnya bisa segera dimakamkan. “Saya maklumi dari kepolisian, tapi semoga bisa cepat. Kasian ayah saya dari kemarin dititip di rumah sakit,” tambahnya.

 

Sementara itu, Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Sumarjaya menjelaskan, polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi di sekitar lokasi kejadian. Olah TKP telah dilakukan dan polisi sudah menetapkan tersangka. “Yang memukul itu anak korban dan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Tersangka dikenakan pasal KDR 44 UU KDRT jo 351 ayat 3,” terangnya.

 

Meski demikian, pelaku masih belum bisa dimintai keterangan secara jelas. Pengakuannya pun berubah-ubah. Polisi pun akan melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku. “Awalnya pakai kayu, sekarang plinplan pengakuannya. Sementara yang menentukan gangguan jiwa itu ahlinya. Pemeriksaan kejiwaan akan dilakukan,” ungkapnya.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/