alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Penlok Tol Gilimanuk-Mengwi ditetapkan, Tim Amdal Segera Cek Lokasi

BADUNG, BALI EXPRESS – Pembangunan Tol Gilimanuk-Mengwi telah memasuki tahap penetapan lokasi. Secara keseluruhan luas lahan yang akan digunakan kurang lebih 1.133,33 hektar, yang akan melintasi 3 Kabupaten, yakni Jembrana, Tabanan, dan Badung. Khusus di Kabupaten Badung luas lahan pembangunan jalan tol tersebut kurang lebih 9,18 hektar, dengan pembagian 88.728,14 meter persegi di Desa Sembung dan 3.014,04 meter persegi untuk Desa Werdi Bhuwana.

 

Kendati sudah ada penetapan lokasi dari Provinsi Bali, hingga kini lahan yang akan digunakan untuk pembagunan Tol Jagat Kerthi Bali ini belum memiliki titik pasti. Hal ini dibenarkan oleh Prebekel Desa Sembung I Ketut Sukerta. Menurutnya lokasi yang akan dipakai belum ditentukan.

 

“Memang sudah ada berapa luas lahan yang akan digunakan, tetap informasi terkait lokasi pasti dimana pembangunan tol belum ada,” ujar Sukerta saat dikonfirmasi Jumat (11/3).

 

Mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ini mengungkapkan, saat ia baru menerima kabar terkait akan dilakukan penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Tim tersebut disebutkan akan melakukan pengecekan pada Rabu (15/3).

 

“Saat ini baru ada surat yang menyatakan akan ada tim pengecekan Amdal, kalau tidak salah hari Rabu depan,” ungkapnya.

 

Sebelumnya, Sukerta menjelaskan, secara sertifikat sekitar 80 lahan milik warga yang akan digunakan untuk jalan tol. Untuk lokasi sementara pembangunan tol tersebut akan mengambil lahan di pernatasan Desa Sembung dengan Werdi Bhuana. Tepatnya pada Subak Cani Selatan.

 

“Lahan yang akan digunakan untuk pembangunan tol tersebut adalah milik warga, beberapa sudah ada bangunan rumah dan warung. Tetapi kemungkinan ada beberapa lahan yang digunakan seluruhnya, ada setengah atau sebagian saja,” jelasnya.

 

Lebih lanjut pihaknya berharap, warga yang terkena dampak dari pembangunan tol ini mendapatkan kompensasi yang sesuai. Pasalnya ia mendapat informasi tentang perhitungan kompensasi berdasarkan harga tanah, bangunan, dan tanaman yang berada di lahan tersebut. ““Mudah-mudahan itu (kompensasi sesuai harga lahan) memang benar, jangan sampai nanti realiasinya dari ganti untung menjadi ganti rugi (harga yang diberikan tidak sesuai),” pungkasnya.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

BADUNG, BALI EXPRESS – Pembangunan Tol Gilimanuk-Mengwi telah memasuki tahap penetapan lokasi. Secara keseluruhan luas lahan yang akan digunakan kurang lebih 1.133,33 hektar, yang akan melintasi 3 Kabupaten, yakni Jembrana, Tabanan, dan Badung. Khusus di Kabupaten Badung luas lahan pembangunan jalan tol tersebut kurang lebih 9,18 hektar, dengan pembagian 88.728,14 meter persegi di Desa Sembung dan 3.014,04 meter persegi untuk Desa Werdi Bhuwana.

 

Kendati sudah ada penetapan lokasi dari Provinsi Bali, hingga kini lahan yang akan digunakan untuk pembagunan Tol Jagat Kerthi Bali ini belum memiliki titik pasti. Hal ini dibenarkan oleh Prebekel Desa Sembung I Ketut Sukerta. Menurutnya lokasi yang akan dipakai belum ditentukan.

 

“Memang sudah ada berapa luas lahan yang akan digunakan, tetap informasi terkait lokasi pasti dimana pembangunan tol belum ada,” ujar Sukerta saat dikonfirmasi Jumat (11/3).

 

Mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ini mengungkapkan, saat ia baru menerima kabar terkait akan dilakukan penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Tim tersebut disebutkan akan melakukan pengecekan pada Rabu (15/3).

 

“Saat ini baru ada surat yang menyatakan akan ada tim pengecekan Amdal, kalau tidak salah hari Rabu depan,” ungkapnya.

 

Sebelumnya, Sukerta menjelaskan, secara sertifikat sekitar 80 lahan milik warga yang akan digunakan untuk jalan tol. Untuk lokasi sementara pembangunan tol tersebut akan mengambil lahan di pernatasan Desa Sembung dengan Werdi Bhuana. Tepatnya pada Subak Cani Selatan.

 

“Lahan yang akan digunakan untuk pembangunan tol tersebut adalah milik warga, beberapa sudah ada bangunan rumah dan warung. Tetapi kemungkinan ada beberapa lahan yang digunakan seluruhnya, ada setengah atau sebagian saja,” jelasnya.

 

Lebih lanjut pihaknya berharap, warga yang terkena dampak dari pembangunan tol ini mendapatkan kompensasi yang sesuai. Pasalnya ia mendapat informasi tentang perhitungan kompensasi berdasarkan harga tanah, bangunan, dan tanaman yang berada di lahan tersebut. ““Mudah-mudahan itu (kompensasi sesuai harga lahan) memang benar, jangan sampai nanti realiasinya dari ganti untung menjadi ganti rugi (harga yang diberikan tidak sesuai),” pungkasnya.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/