alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Tegang, Eksekusi Lahan Diawali Adu Mulut dan Argumentasi

TABANAN, BALI EXPRESS – Proses eksekusi lahan seluas 2.200 meter persegi di Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, pada Kamis (10/3) berlangsung tegang.

Pasalnya, proses eksekusi lahan yang dilakukan Panitera Pengadilan Negeri (PN) Tabanan tersebut sempat diawali adu mulut dan argumentasi.

Setidaknya itu terjadi selama satu jam lamanya. Meski eksekusi lahan tersebut akhirnya tetap jalan.

Sebabnya proses eksekusi itu sendiri telah berkekuatan hukum tetap. Didasarkan pada putusan Ketua Pengadilan Nomor 5/PDT.X/2020/PNTabanan.

Bahkan putusan itu dikuatkan pula oleh Mahkamah Agung dalam putusan kasasi yang ditetapkan pada Agustus 2021 lalu.

“Kami dari PN Tabanan melaksanakan eksekusi sesuai dengan penetapan Ketua Pengadilan,” ujar Panitera Pengadilan Negeri Tabanan I Nyoman Windia di lokasi eksekusi.

 

Dia mengatakan, proses eksekusi ini sendiri sempat tertunda. Dikarenakan dari pihak termohon, Dewa Gede Mahayana, sempat melakukan upaya gugatan. Proses gugat menggugat ini sampai pada tingkat kasasi yang diajukan pemohon. Dalam hal ini pemenang lelang atas nama Sinardi.

 

Sesuai putusan kasasi, permohonan eksekusi dikuatkan oleh Mahkamah Agung. Sehingga pihak pemohon kembali melanjutkan permohonan eksekusi yang dia ajukan terdahulu.

 

“Dalam permohonan (eksekusi) ada perlawanan hukum atau gugatan dari termohon. Maka ditundalah eksekusi ini. Gugatan itu sampai ada putusan pada tingkat kasasi. Lama itu (prosesnya),” imbuhnya.

 

Dalam pelaksaan eksekusi, sambung dia, ada aanmaning atau peringatan dari pengadilan kepada pihak berperkara. Agar melakukan penyerahan secara suka rela. Namun menurutnya, peringatan itu tidak diindahkan.

 

“Akhirnya sampai sekarang ada penetapan dan harus dilaksanakan. Begitu dilaksanakan eksekusi, lagi ada bantahan. Dulu sudah ada gugatan untuk menunda tapi sudah kalah. Sekarang eksekusi, lagi ajukan bantahan,” imbuhnya.

 

Eksekusi ini sendiri telah beproses sejak lama. Pihak pemohon eksekusi sendiri mengajukannya sejak 2020 lalu. Itu setelah pemohon memenangkan lelang. Bahkan sebelum sampai di tingkat kasasi, prosesnya juga sempat banding di Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar yang ditetapkan pada 1 Oktober 2020.

 

Baik lelang sampai dengan eksekusi terjadi kemarin berawal dari termohon melakukan peminjaman uang di salah satu bank. Permohonan itu disetujui sehingga termohon berstatus sebagai debitur dan pihak bank sebagai kreditur.

 

Dalam peminjaman uang tersebut dilakukan perjanjian. Dalam perjanjian itu, bila termohon tidak bisa melakukan pembayaran utang, maka pihak bank selaku kreditur bisa menjual jaminan tanpa sepengetahuan termohon dalam kapasitasnya sebagai debitur.

 

Dalam proses pinjam meminjam uang tersebut, pihak termohon menjadikan lahan yang eksekusi kemarin sebagai jaminannya. Karena pembayaran yang macet, akhirnya terjadilah lelang tersebut. Dan proses lelang itu dimenangkan Sinardi selaku pemohon eksekusi.

 

Jalannya eksekusi lahan itu juga memperoleh pengamanan dari Polres Tabanan. Bahkan Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra turun langsung ke lokasi eksekusi. Diakuinya, di awal proses eksekusi sempat terjadi hambatan.

 

“Sempat ada hambatan atau argumen dari pemilik lahan yang menjadi akses masuk eksekusi ini,” jelasnya.

Sejatinya, sambung dia, sebelum proses eksekusi dilakukan, sosialisasi dan permohonan izin sempat disampaikan di Kantor Desa Samsam. Dihadiri oleh perbekel atau kepala desa, kelian banjar, dan pemilik lahan.

 

“Tadi sempat tidak diberikan izin. Kami tegaskan jika memang ada yang berkeberatan silahkan laporkan. Kami siap untuk menerima dan menangani proses hukum yang dilaporkan. Tetapi tidak menghalangi proses eksekusi yang ada,” tegasnya.

 

Nefli juga menambahkan, setelah proses eksekusi ini warga yang tinggal di lahan tersebut diberikan tempat oleh pihak desa di areal Kantor Perbekel Samsam. Karena keluarga dari pihak termohon yang tinggal di lahan itu sempat melontarkan sejumlah argumen dan pertanyaan.

 

“Mereka sudah menerima keputusan tersebut. Bahwa proses eksekusi ini harus tetap dilaksanakan. Nanti untuk keluarga dari termohon sudah disiapkan tempat oleh pihak desa,” pungkasnya.






Reporter: Chairul Amri Simabur

TABANAN, BALI EXPRESS – Proses eksekusi lahan seluas 2.200 meter persegi di Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, pada Kamis (10/3) berlangsung tegang.

Pasalnya, proses eksekusi lahan yang dilakukan Panitera Pengadilan Negeri (PN) Tabanan tersebut sempat diawali adu mulut dan argumentasi.

Setidaknya itu terjadi selama satu jam lamanya. Meski eksekusi lahan tersebut akhirnya tetap jalan.

Sebabnya proses eksekusi itu sendiri telah berkekuatan hukum tetap. Didasarkan pada putusan Ketua Pengadilan Nomor 5/PDT.X/2020/PNTabanan.

Bahkan putusan itu dikuatkan pula oleh Mahkamah Agung dalam putusan kasasi yang ditetapkan pada Agustus 2021 lalu.

“Kami dari PN Tabanan melaksanakan eksekusi sesuai dengan penetapan Ketua Pengadilan,” ujar Panitera Pengadilan Negeri Tabanan I Nyoman Windia di lokasi eksekusi.

 

Dia mengatakan, proses eksekusi ini sendiri sempat tertunda. Dikarenakan dari pihak termohon, Dewa Gede Mahayana, sempat melakukan upaya gugatan. Proses gugat menggugat ini sampai pada tingkat kasasi yang diajukan pemohon. Dalam hal ini pemenang lelang atas nama Sinardi.

 

Sesuai putusan kasasi, permohonan eksekusi dikuatkan oleh Mahkamah Agung. Sehingga pihak pemohon kembali melanjutkan permohonan eksekusi yang dia ajukan terdahulu.

 

“Dalam permohonan (eksekusi) ada perlawanan hukum atau gugatan dari termohon. Maka ditundalah eksekusi ini. Gugatan itu sampai ada putusan pada tingkat kasasi. Lama itu (prosesnya),” imbuhnya.

 

Dalam pelaksaan eksekusi, sambung dia, ada aanmaning atau peringatan dari pengadilan kepada pihak berperkara. Agar melakukan penyerahan secara suka rela. Namun menurutnya, peringatan itu tidak diindahkan.

 

“Akhirnya sampai sekarang ada penetapan dan harus dilaksanakan. Begitu dilaksanakan eksekusi, lagi ada bantahan. Dulu sudah ada gugatan untuk menunda tapi sudah kalah. Sekarang eksekusi, lagi ajukan bantahan,” imbuhnya.

 

Eksekusi ini sendiri telah beproses sejak lama. Pihak pemohon eksekusi sendiri mengajukannya sejak 2020 lalu. Itu setelah pemohon memenangkan lelang. Bahkan sebelum sampai di tingkat kasasi, prosesnya juga sempat banding di Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar yang ditetapkan pada 1 Oktober 2020.

 

Baik lelang sampai dengan eksekusi terjadi kemarin berawal dari termohon melakukan peminjaman uang di salah satu bank. Permohonan itu disetujui sehingga termohon berstatus sebagai debitur dan pihak bank sebagai kreditur.

 

Dalam peminjaman uang tersebut dilakukan perjanjian. Dalam perjanjian itu, bila termohon tidak bisa melakukan pembayaran utang, maka pihak bank selaku kreditur bisa menjual jaminan tanpa sepengetahuan termohon dalam kapasitasnya sebagai debitur.

 

Dalam proses pinjam meminjam uang tersebut, pihak termohon menjadikan lahan yang eksekusi kemarin sebagai jaminannya. Karena pembayaran yang macet, akhirnya terjadilah lelang tersebut. Dan proses lelang itu dimenangkan Sinardi selaku pemohon eksekusi.

 

Jalannya eksekusi lahan itu juga memperoleh pengamanan dari Polres Tabanan. Bahkan Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra turun langsung ke lokasi eksekusi. Diakuinya, di awal proses eksekusi sempat terjadi hambatan.

 

“Sempat ada hambatan atau argumen dari pemilik lahan yang menjadi akses masuk eksekusi ini,” jelasnya.

Sejatinya, sambung dia, sebelum proses eksekusi dilakukan, sosialisasi dan permohonan izin sempat disampaikan di Kantor Desa Samsam. Dihadiri oleh perbekel atau kepala desa, kelian banjar, dan pemilik lahan.

 

“Tadi sempat tidak diberikan izin. Kami tegaskan jika memang ada yang berkeberatan silahkan laporkan. Kami siap untuk menerima dan menangani proses hukum yang dilaporkan. Tetapi tidak menghalangi proses eksekusi yang ada,” tegasnya.

 

Nefli juga menambahkan, setelah proses eksekusi ini warga yang tinggal di lahan tersebut diberikan tempat oleh pihak desa di areal Kantor Perbekel Samsam. Karena keluarga dari pihak termohon yang tinggal di lahan itu sempat melontarkan sejumlah argumen dan pertanyaan.

 

“Mereka sudah menerima keputusan tersebut. Bahwa proses eksekusi ini harus tetap dilaksanakan. Nanti untuk keluarga dari termohon sudah disiapkan tempat oleh pihak desa,” pungkasnya.






Reporter: Chairul Amri Simabur

Most Read

Artikel Terbaru

/