alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

532 Pejabat Eselon IV di Tabanan Bakal Dihapus

TABANAN, BALI EXPRESS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan memastikan siap menghapus jabatan Eselon IV dan mengalihkan ke jabatan fungsional di lingkungan kerjanya sesuai target, yakni Juni 2021. Terlebih oleh Pemerintah Pusat, Provinsi Bali dijadikan pilot project untuk kebijakan ini.

Di lingkungan Pemkab Tabanan sendiri, jumlah pejabat Eselon IV yang kemungkinan kena pangkas dan dialihkan ke jabatan fungsional akibat kebijakan ini sebanyak lima ratus orang lebih orang. Seperti kepala seksi atau kasi atau kepala sub bidang (kasubid).

Persiapan untuk melakukan pengalihan tersebut bahkan sudah dilakukan Jumat (9/4) lalu di tingkat provinsi. Dan, rencananya, pembahasan lanjutan di tingkat kabupaten akan dilaksanakan Senin (12/4).

“Waktu itu ditegaskan, untuk Eselon IV dieliminasi dan ditransformasikan dari (jabatan) struktural ke fungsional,” jelas Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Tabanan, Wayan Sugatra, saat dikonfirmasi  Minggu (11/4).

Dia menyebutkan, di lingkungan Pemkab Tabanan terdapat 532 orang pejabat Eselon IV yang tersebar di seluruh organisasi perangkat daerah atau OPD. Tidak terkecuali di lingkungan sekretariat daerah (setda).

“Yang ini di sekretariat (setda) masih dipertimbangkan. Masih dicek, apakah betul dia (pejabat Eselon IV di setda) memiliki kebijakan atributif,” jelas Sugatra.

Dijelaskan Sugatra, kebijakan ini maksudnya apakah pejabat Eselon IV di setda bertugas pada bidang yang berkaitan dengan keuangan. Atau, menjadi PPTK atau pejabat pelaksana teknis kegiatan.

“Kami bahas dengan Bagian Ortal (Organisasi dan Tata Laksana). Karena ini domainnya Ortal. Kami di BKPSDM sifatnya memfasilitasi,” jelas mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan ini.

Apa konsekwensi kebijakan ini? Menurut Sugatra tidak ada konsekwensi. Justru birokrasi yang ada lebih ramping. Efisien serta efektif.

“Cuma masalahnya ya kan yang namanya perubahan. Dahulunya menjabat, sekarang dialihkan, tentunya ada sesuatu yang tidak mengenakkan,” tukasnya.

Selain itu, dia menjelaskan bahwa kebijakan ini juga mengubah sistem penilaian performa kinerja. Kenaikan pangkatnya mengacu pada angka kredit yang dicapai.

Kemudian, sambung dia, bila angka kreditnya terpenuhi, maka setiap dua tahun sekali bisa naik pangkat. Berbeda dengan di jabatan struktural yang kenaikan pangkatnya setiap empat tahun sekali.

“Dari sisi kenaikan pangkat, di fungsional ada kemudahan waktu. Kalau dia bisa memenuhi kreditnya, dia bisa menek (naik) pangkat setiap dua tahun sekali. Terus, tunjangan jabatannya bisa lebih tinggi. Tergantung jabatan fungsional apa yang dia pegang. Kan ada rumpun-rumpun jabatan fungsional,” tukasnya.

Sebagaimana kebijakan pusat, pihaknya di Tabanan menargetkan kebijakan ini bisa terpenuhi pada Juni 2021 mendatang. Disesuaikan dengan penerapan kebijakan di tingkat provinsi yang oleh Pemerintah Pusat ditetapkan sebagai pilot project. “Kami di Tabanan ya menyesuaikan diri dengan di provinsi,” pungkasnya. 

Soal penyederhanaan birokrasi seperti digariskan Pemerintah Pusat ini, juga sudah ditegaskan Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menjelang akhir pekan lalu. Dia menyebutkan bahwa Pemkab Tabanan siap menjalankan kebijakan tersebut.

“Kami siap menjalankan instruksi dari kementerian itu. Bahwa Eselon IV, tingkat kasi-kasi, itu ada perampingan. Dijadikan (pejabat) fungsional,” tukas Sanjaya kala itu. 

MIE KELOR : Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Mokoh dengan Mie Kelor Gud bikinannya.

Gunakan Saripati Kelor, Seniman Karawitan Produksi Mie Kelor Gud

TABANAN, BALI EXPRESS-Pandemi Covid-19 membuat kreativitas seniman I Wayan Sumerta Dana Arta liar. Menerobos ke mana saja. Tidak sekadar dunia permainan tradisional anak-anak di Bali yang selama ini menjadi fokus perhatiannya. Seniman karawitan yang tinggal di Banjar Buahan Tengah, Desa Buahan, Kecamatan Tabanan ini, juga mengolah kreativitasnya di dunia kuliner dengan membuat Mie Kelor Gud. Bagaimana ceritanya?

Baca Juga :  Monumen Peringatan Banjir Bandang Jadi Tempat Selfie Baru

Mungkin apa yang dilakukan I Wayan Sumerta Dana Arta belakangan ini melompat jauh dari kreativitasnya sebagai seorang seniman. Jauh dari dunia permainan tradisional anak-anak di Bali yang selama ini menjadi konsentrasi perhatiannya di bidang seni karawitan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Wayan Mokoh–begitu dia akrab disapa–, getol memproduksi dan memasarkan olahan pangan berupa mie. Bedanya, mie yang dia produksi mengandung saripati Daun Kelor. Itu sebabnya, produknya diberi nama Mie Kelor Gud.

“Saya pakai nama Gud. Karena kalau ngobrol di grup-grup perpesanan atau media sosial, saya sering bilang gud,” kata Sumerta Dana Arta waktu dijumpai di rumahnya belum lama ini.

Dari ceritanya kala itu, Mie Kelor Gud bikinannya itu terinspirasi dari banyak hal. Dari kehidupannya selagi merantau di Provinsi Lampung, perhatiannya terhadap seni permainan tradisional anak-anak, hingga keprihatinannya soal penggunaan ponsel yang tinggi di kalangan anak-anak.

“Ada beberapa inspirasi yang mendorong saya membuat Mie Kelor ini. Pertama, di permainan tradisional supaya anak-anak mengurangi main ponsel. Karena dunia mereka seharusnya dunia bermain sebelum masuk ke dunia pendidikan. Kedua, masih terkait penggunaan ponsel, kesehatan mata pasti (terganggu),” tuturnya.

Berangkat dari itulah, dia melirik Daun Kelor. Tumbuhannya bahkan mudah ditanam dan dijumpai di Bali. Kerap dipakai sayur. Bahkan menurutnya, kandungan vitamin A pada Daun Kelor justru sepuluh kali lebih banyak dari Wortel.

“Selanjutnya, anak saya kebetulan suka dengan mie. Selama pandemi, anak saya yang kuliah di Surabaya makannya mie instan terus. Kan kasihan? Akhirnya, saya coba buat mie sendiri. Pakai mesin manual. Skala rumahan. Yang penting anak saya dulu yang sehat,” imbuh alumni Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Selain itu, dia mengolah Daun Kelor menjadi bahan campuran mie bukannya tanpa perhitungan. Sederhana saja, dia melihat selama ini anak-anak akan sangat sulit diajak terbiasa makan sayur.

“Jadi saya buat mie yang ada unsur kelornya. Karbohidrat terpenuhi. Dan mie saya ini sudah pakai telor, jadi unsur proteinnya juga terpenuhi,” imbuhnya.

Lambat laun, pangan olahannya itu dibuat dengan tujuan bisnis pula akhirnya. Meski dia sendiri mengaku belum pasang target. Baik itu jumlah produksi sampai dengan penjualannya.

Puncaknya, memasuki bulan ketiga saat dirinya memproduksi Mie Kelor Gud, dia dapat pesanan lumayan banyak. Salah seorang kawannya yang kebetulan lagi menikahkan anaknya memesan 600 sachet. “Kawan saya itu menyarankan untuk dibuat sebagai pewales atau sovenir nikahan di acara anaknya,” tuturnya.

Pesanan dalam jumlah yang besar itu juga yang memberikannya pelajaran berharga. Di momen itulah dia tidak sepenuhnya bisa memproduksi Mie Kelor dengan sempurna.

“Saya pernah gagal waktu itu. Karena proses pembuatannya kurang kering, dari 600 pesanan, yang 200 pesanannya gagal. Kalau nggak salah itu kejadian pada bulan ketiga. Sekitar Desember 2020 lalu,” kenang pria yang 20 tahun di Lampung sebagai pengajar karawitan bagi para transmigran ini.

Kok bisa mahir buat mie? Disela dengan pertanyaan itu, Wayan Sumerta mengaku keterampilannya itu tidak lepas dari relasi yang telah dia bangun selama puluhan tahun dengan kawan-kawannya di Lampung. Salah seorang temannya di sana yang sama-sama dari Bali, I Gusti Made, berhasil mengembangkan bisnis Mie Tektek.

Baca Juga :  Sidak Stan Kuliner PKB, BPOM Temukan Minuman Mengandung Rodamin B

“Meskipun yang saya dengar informasinya, mie ini aslinya dari Semarang, Jogja, atau Solo. Dan kebetulan setiap saya ke Lampung pasti mencicipi mie bikinan kawan saya itu. Dia bisnis ini sampai bisa beli dua rumah. Sudah sejak sepuluh tahun lalu sebelum pandemi,” bebernya.

Sekembalinya ke Bali ditambah lagi dengan persoalan yang terjadi di depan matanya, plus kondisi pandemi Covid-19, dorongan untuk membuat mie langsung muncul. Semula dia memproduksi mie basah. Tapi sejak Desember 2020 dia lebih giat memproduksi Mie Kelor. “Selain kepada teman-teman, saya juga belajar lewat internet,” sambungnya lagi.

Seiring berjalannya waktu, dia juga mulai paham cara mengadon mie yang tepat. Hasilnya pulen dan tidak gampang putus. Katanya, pada prinsipnya mie dibuat dari tepung terigu. Atau tepung yang mengandung protein tinggi. Sementara Daun Kelor yang dia manfaatkan diperoleh dalam bentuk saripati. “Kami pakai saripatinya. Daun Kelor itu dijus dengan kental,” tuturnya.

Kalau untuk memperoleh Daun Kelor, dia mengaku tidak kesulitan. Selain di sekitar rumahnya banyak, terkadang dia juga bisa membeli dari tetangganya. Bahkan dia tidak jarang diberi gratis.

“Biar ada nilai tukarnya, kadang saya ganti dengan uang rokok atau kalau tetap tidak mau saya kasih dua bungkus mie buat anak atau cucu mereka,” jelasnya.

Sampai sejauh ini, produksi Mie Kelor Gud masih dilakukan sendiri. Tanpa mengikutsertakan karyawan. Katanya, produksi yang masih berskala rumahan menjadi salah satu pertimbangannya. 

Dengan skala seperti itu, jumlah produksi masih sangat terbatas dan tentunya keuntungan yang diperoleh dari produksinya itu masih kecil. Mulai dari masih mentah sampai jadi. Belum termasuk mengemas ke dalam bungkusnya.

“Saya bawa enteng saja. Biar bisa siangnya istirahat. Paginya saya bisa bekerja,” kata Sumerta yang juga bertugas sebagai PNS di Bidang Olahraga dan Seni di Dinas Pendidikan Tabanan.

Karena itu, kemampuan produksi yang dimilikinya masih sangat terbatas. Jumlah produksi terbesar pernah mencapai 25 bungkus dalam sehari. Itupun terbatas pada Mie Kelor Gud goreng. “Sementara begitu dulu (tanpa target). Ke depannya siapa tahu?” ujarnya.

Soal harga, dia menyebutnya berani saing dengan produk serupa. Dengan berat bersih 75 gram, satu bungkus Mie Kelor Gud dihargai Rp 6.000. “Saya jual seputaran Tabanan. Bahkan sudah melompat ke Jakarta atau Lampung. Karena saya jualnya secara online,” sambungnya.

Nah, untuk bumbu, baginya itu rahasia. “Dalam masakan, bumbu itu nyawa,” katanya. Meski begitu, dia menuturkan kalau bumbu yang dipakai untuk menyertai mie produksinya merupakan perpaduan rempah Bali dan Lampung. 

Baginya, Lampung merupakan separo dari perjalanan hidupnya. Di sana pula, selepas tamat dari STSI pada 1995, dia bertugas di Lampung. Hingga akhirnya diangkat menjadi PNS dan bertugas selama 20 tahun.

“Dari awal saya tugas di bidang kebudayaan. Dinasnya berubah-ubah. Kadang Dinas Pendidikan. Kadang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kadang Dinas Pariwisata. Di mana ada bidang kebudayaan, saya di situ tugas. Kalau di sini saya baru tugas lima tahun. Sekarang di Bidang Olahraga dan Seni di Dinas Pendidikan Tabanan,” pungkasnya. 


TABANAN, BALI EXPRESS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan memastikan siap menghapus jabatan Eselon IV dan mengalihkan ke jabatan fungsional di lingkungan kerjanya sesuai target, yakni Juni 2021. Terlebih oleh Pemerintah Pusat, Provinsi Bali dijadikan pilot project untuk kebijakan ini.

Di lingkungan Pemkab Tabanan sendiri, jumlah pejabat Eselon IV yang kemungkinan kena pangkas dan dialihkan ke jabatan fungsional akibat kebijakan ini sebanyak lima ratus orang lebih orang. Seperti kepala seksi atau kasi atau kepala sub bidang (kasubid).

Persiapan untuk melakukan pengalihan tersebut bahkan sudah dilakukan Jumat (9/4) lalu di tingkat provinsi. Dan, rencananya, pembahasan lanjutan di tingkat kabupaten akan dilaksanakan Senin (12/4).

“Waktu itu ditegaskan, untuk Eselon IV dieliminasi dan ditransformasikan dari (jabatan) struktural ke fungsional,” jelas Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Tabanan, Wayan Sugatra, saat dikonfirmasi  Minggu (11/4).

Dia menyebutkan, di lingkungan Pemkab Tabanan terdapat 532 orang pejabat Eselon IV yang tersebar di seluruh organisasi perangkat daerah atau OPD. Tidak terkecuali di lingkungan sekretariat daerah (setda).

“Yang ini di sekretariat (setda) masih dipertimbangkan. Masih dicek, apakah betul dia (pejabat Eselon IV di setda) memiliki kebijakan atributif,” jelas Sugatra.

Dijelaskan Sugatra, kebijakan ini maksudnya apakah pejabat Eselon IV di setda bertugas pada bidang yang berkaitan dengan keuangan. Atau, menjadi PPTK atau pejabat pelaksana teknis kegiatan.

“Kami bahas dengan Bagian Ortal (Organisasi dan Tata Laksana). Karena ini domainnya Ortal. Kami di BKPSDM sifatnya memfasilitasi,” jelas mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan ini.

Apa konsekwensi kebijakan ini? Menurut Sugatra tidak ada konsekwensi. Justru birokrasi yang ada lebih ramping. Efisien serta efektif.

“Cuma masalahnya ya kan yang namanya perubahan. Dahulunya menjabat, sekarang dialihkan, tentunya ada sesuatu yang tidak mengenakkan,” tukasnya.

Selain itu, dia menjelaskan bahwa kebijakan ini juga mengubah sistem penilaian performa kinerja. Kenaikan pangkatnya mengacu pada angka kredit yang dicapai.

Kemudian, sambung dia, bila angka kreditnya terpenuhi, maka setiap dua tahun sekali bisa naik pangkat. Berbeda dengan di jabatan struktural yang kenaikan pangkatnya setiap empat tahun sekali.

“Dari sisi kenaikan pangkat, di fungsional ada kemudahan waktu. Kalau dia bisa memenuhi kreditnya, dia bisa menek (naik) pangkat setiap dua tahun sekali. Terus, tunjangan jabatannya bisa lebih tinggi. Tergantung jabatan fungsional apa yang dia pegang. Kan ada rumpun-rumpun jabatan fungsional,” tukasnya.

Sebagaimana kebijakan pusat, pihaknya di Tabanan menargetkan kebijakan ini bisa terpenuhi pada Juni 2021 mendatang. Disesuaikan dengan penerapan kebijakan di tingkat provinsi yang oleh Pemerintah Pusat ditetapkan sebagai pilot project. “Kami di Tabanan ya menyesuaikan diri dengan di provinsi,” pungkasnya. 

Soal penyederhanaan birokrasi seperti digariskan Pemerintah Pusat ini, juga sudah ditegaskan Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menjelang akhir pekan lalu. Dia menyebutkan bahwa Pemkab Tabanan siap menjalankan kebijakan tersebut.

“Kami siap menjalankan instruksi dari kementerian itu. Bahwa Eselon IV, tingkat kasi-kasi, itu ada perampingan. Dijadikan (pejabat) fungsional,” tukas Sanjaya kala itu. 

MIE KELOR : Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Mokoh dengan Mie Kelor Gud bikinannya.

Gunakan Saripati Kelor, Seniman Karawitan Produksi Mie Kelor Gud

TABANAN, BALI EXPRESS-Pandemi Covid-19 membuat kreativitas seniman I Wayan Sumerta Dana Arta liar. Menerobos ke mana saja. Tidak sekadar dunia permainan tradisional anak-anak di Bali yang selama ini menjadi fokus perhatiannya. Seniman karawitan yang tinggal di Banjar Buahan Tengah, Desa Buahan, Kecamatan Tabanan ini, juga mengolah kreativitasnya di dunia kuliner dengan membuat Mie Kelor Gud. Bagaimana ceritanya?

Baca Juga :  Pentaskan Sang Hyang Penyalin, Untuk Tangkal Grubug dan Bencana

Mungkin apa yang dilakukan I Wayan Sumerta Dana Arta belakangan ini melompat jauh dari kreativitasnya sebagai seorang seniman. Jauh dari dunia permainan tradisional anak-anak di Bali yang selama ini menjadi konsentrasi perhatiannya di bidang seni karawitan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Wayan Mokoh–begitu dia akrab disapa–, getol memproduksi dan memasarkan olahan pangan berupa mie. Bedanya, mie yang dia produksi mengandung saripati Daun Kelor. Itu sebabnya, produknya diberi nama Mie Kelor Gud.

“Saya pakai nama Gud. Karena kalau ngobrol di grup-grup perpesanan atau media sosial, saya sering bilang gud,” kata Sumerta Dana Arta waktu dijumpai di rumahnya belum lama ini.

Dari ceritanya kala itu, Mie Kelor Gud bikinannya itu terinspirasi dari banyak hal. Dari kehidupannya selagi merantau di Provinsi Lampung, perhatiannya terhadap seni permainan tradisional anak-anak, hingga keprihatinannya soal penggunaan ponsel yang tinggi di kalangan anak-anak.

“Ada beberapa inspirasi yang mendorong saya membuat Mie Kelor ini. Pertama, di permainan tradisional supaya anak-anak mengurangi main ponsel. Karena dunia mereka seharusnya dunia bermain sebelum masuk ke dunia pendidikan. Kedua, masih terkait penggunaan ponsel, kesehatan mata pasti (terganggu),” tuturnya.

Berangkat dari itulah, dia melirik Daun Kelor. Tumbuhannya bahkan mudah ditanam dan dijumpai di Bali. Kerap dipakai sayur. Bahkan menurutnya, kandungan vitamin A pada Daun Kelor justru sepuluh kali lebih banyak dari Wortel.

“Selanjutnya, anak saya kebetulan suka dengan mie. Selama pandemi, anak saya yang kuliah di Surabaya makannya mie instan terus. Kan kasihan? Akhirnya, saya coba buat mie sendiri. Pakai mesin manual. Skala rumahan. Yang penting anak saya dulu yang sehat,” imbuh alumni Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Selain itu, dia mengolah Daun Kelor menjadi bahan campuran mie bukannya tanpa perhitungan. Sederhana saja, dia melihat selama ini anak-anak akan sangat sulit diajak terbiasa makan sayur.

“Jadi saya buat mie yang ada unsur kelornya. Karbohidrat terpenuhi. Dan mie saya ini sudah pakai telor, jadi unsur proteinnya juga terpenuhi,” imbuhnya.

Lambat laun, pangan olahannya itu dibuat dengan tujuan bisnis pula akhirnya. Meski dia sendiri mengaku belum pasang target. Baik itu jumlah produksi sampai dengan penjualannya.

Puncaknya, memasuki bulan ketiga saat dirinya memproduksi Mie Kelor Gud, dia dapat pesanan lumayan banyak. Salah seorang kawannya yang kebetulan lagi menikahkan anaknya memesan 600 sachet. “Kawan saya itu menyarankan untuk dibuat sebagai pewales atau sovenir nikahan di acara anaknya,” tuturnya.

Pesanan dalam jumlah yang besar itu juga yang memberikannya pelajaran berharga. Di momen itulah dia tidak sepenuhnya bisa memproduksi Mie Kelor dengan sempurna.

“Saya pernah gagal waktu itu. Karena proses pembuatannya kurang kering, dari 600 pesanan, yang 200 pesanannya gagal. Kalau nggak salah itu kejadian pada bulan ketiga. Sekitar Desember 2020 lalu,” kenang pria yang 20 tahun di Lampung sebagai pengajar karawitan bagi para transmigran ini.

Kok bisa mahir buat mie? Disela dengan pertanyaan itu, Wayan Sumerta mengaku keterampilannya itu tidak lepas dari relasi yang telah dia bangun selama puluhan tahun dengan kawan-kawannya di Lampung. Salah seorang temannya di sana yang sama-sama dari Bali, I Gusti Made, berhasil mengembangkan bisnis Mie Tektek.

Baca Juga :  Pohon Raksasa di Desa Tua, Berusia 500 Tahun, Kadang Terdengar Gender

“Meskipun yang saya dengar informasinya, mie ini aslinya dari Semarang, Jogja, atau Solo. Dan kebetulan setiap saya ke Lampung pasti mencicipi mie bikinan kawan saya itu. Dia bisnis ini sampai bisa beli dua rumah. Sudah sejak sepuluh tahun lalu sebelum pandemi,” bebernya.

Sekembalinya ke Bali ditambah lagi dengan persoalan yang terjadi di depan matanya, plus kondisi pandemi Covid-19, dorongan untuk membuat mie langsung muncul. Semula dia memproduksi mie basah. Tapi sejak Desember 2020 dia lebih giat memproduksi Mie Kelor. “Selain kepada teman-teman, saya juga belajar lewat internet,” sambungnya lagi.

Seiring berjalannya waktu, dia juga mulai paham cara mengadon mie yang tepat. Hasilnya pulen dan tidak gampang putus. Katanya, pada prinsipnya mie dibuat dari tepung terigu. Atau tepung yang mengandung protein tinggi. Sementara Daun Kelor yang dia manfaatkan diperoleh dalam bentuk saripati. “Kami pakai saripatinya. Daun Kelor itu dijus dengan kental,” tuturnya.

Kalau untuk memperoleh Daun Kelor, dia mengaku tidak kesulitan. Selain di sekitar rumahnya banyak, terkadang dia juga bisa membeli dari tetangganya. Bahkan dia tidak jarang diberi gratis.

“Biar ada nilai tukarnya, kadang saya ganti dengan uang rokok atau kalau tetap tidak mau saya kasih dua bungkus mie buat anak atau cucu mereka,” jelasnya.

Sampai sejauh ini, produksi Mie Kelor Gud masih dilakukan sendiri. Tanpa mengikutsertakan karyawan. Katanya, produksi yang masih berskala rumahan menjadi salah satu pertimbangannya. 

Dengan skala seperti itu, jumlah produksi masih sangat terbatas dan tentunya keuntungan yang diperoleh dari produksinya itu masih kecil. Mulai dari masih mentah sampai jadi. Belum termasuk mengemas ke dalam bungkusnya.

“Saya bawa enteng saja. Biar bisa siangnya istirahat. Paginya saya bisa bekerja,” kata Sumerta yang juga bertugas sebagai PNS di Bidang Olahraga dan Seni di Dinas Pendidikan Tabanan.

Karena itu, kemampuan produksi yang dimilikinya masih sangat terbatas. Jumlah produksi terbesar pernah mencapai 25 bungkus dalam sehari. Itupun terbatas pada Mie Kelor Gud goreng. “Sementara begitu dulu (tanpa target). Ke depannya siapa tahu?” ujarnya.

Soal harga, dia menyebutnya berani saing dengan produk serupa. Dengan berat bersih 75 gram, satu bungkus Mie Kelor Gud dihargai Rp 6.000. “Saya jual seputaran Tabanan. Bahkan sudah melompat ke Jakarta atau Lampung. Karena saya jualnya secara online,” sambungnya.

Nah, untuk bumbu, baginya itu rahasia. “Dalam masakan, bumbu itu nyawa,” katanya. Meski begitu, dia menuturkan kalau bumbu yang dipakai untuk menyertai mie produksinya merupakan perpaduan rempah Bali dan Lampung. 

Baginya, Lampung merupakan separo dari perjalanan hidupnya. Di sana pula, selepas tamat dari STSI pada 1995, dia bertugas di Lampung. Hingga akhirnya diangkat menjadi PNS dan bertugas selama 20 tahun.

“Dari awal saya tugas di bidang kebudayaan. Dinasnya berubah-ubah. Kadang Dinas Pendidikan. Kadang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kadang Dinas Pariwisata. Di mana ada bidang kebudayaan, saya di situ tugas. Kalau di sini saya baru tugas lima tahun. Sekarang di Bidang Olahraga dan Seni di Dinas Pendidikan Tabanan,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/