alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Pembangunan Gedung MDA Sempat Molor Karena Gangguan Makhluk Halus

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Buleleng, kini telah memiliki gedung baru. Gedung itu berlokasi di Jalan Ratna, Keluraha Banyuasri, Kecamatan Buleleng. gedung megah berlantai II ini dibangun dengan anggaran Rp 3 miliar yang bersumber dari dana CSR BUMN. Gedung ini nantinya dimanfaatkan oleh MDA untuk melakukan pengawasan, pembinaan dan pemberdayaan desa adat di Kabupaten Buleleng. Gedung baru yang difungsikan sebagai kantor MDA ini diresmikan, Minggu (11/4) pagi. Peresmian gedung MDA ini dihadiri langsung Gubernur Bali, Wayan Koster.

Ditemui usai peresmian, Ketua MDA Bupepeng, Dewa Putu Budarsa menyampaikan, gedung ini nantinya sebagai tempat untuk desa adat melakukan berbagai kegiatan. “Gedung ini bukan milik MDA, tapi milik desa adat secara keseluruhan dari 169 desa adat. Jadi kami disini adalah tempatnya untuk bersilahturami, mesimakrama. Kemudian juga dengan para yowana, di gedung ini ada lembaga adatnya. Pecalang, sekeha truna truni, dan yowana ada lembaga-lembaganya disini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Jaya Negara Apresiasi Pembangunan Gedung MDA Kota Denpasar

Di lantai 2 sebut Budarsa ada ruang pertemuan dengan ukuran luas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tatkala ingin melakukan kegiatan. “Di lantai 2 ada tempat rapat atau tempat pertemuan. Bisa digunakan oleh masyarakat. Tentunya ada pemberitahuan sebelum menggunakan,” jelasnya.

Terkait gedung MDA yang sebelumnya berlokasi di Jalan Abimanyu, Budarsa mengaku akan segera mengembalikannya kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng. Sebab, gedung yang dimanfaatkan sebagai kantor MDA itu berstatus Hak Guna Pakai. “Kalau sekerang ini sudah ada gedung ini, segera kami akan pindah. Gedung lama milik pemda, kami akan kembalikan fasilitasnya itu. Ini ada surat hak guna pakai untuk MMDP dulu,” kata Budarsa.

Meski kini telah diresmika, pengerjaan gedung MDA ini sempat molor dari target waktu yang ditetapkan. Pada awal dikerjakan tanggal 10 September 2020, gedung ini ditarget selesai pada akhir Desember 2020. Namun sayang, target tersebut tak dapat dipenuhi.

Baca Juga :  Perda RTRW Bali Ditetapkan, Koster : Saya Akan Awasi Langsung

Budarsa pun membeberkan penyebab mundurnya pengerjaan gedung MDA itu. Ia mengklaim adanya gangguan makhluk halus yang kerap mengganggu para pekerja, sehingga membuat pekerja tidak nyaman dan berimbas pada pengerjaan proyek. Menyikapi halite, MDDA Buleleng pun dengan sigap melakukan upacara yadnya dan melakukan persembahyangan ke beberapa pura untuk menetralisir gangguan niskalatersebut. “Pembangunannya terlambat karena situasi hujan juga. Sebenarnya pada awal ngeruwak kami sudah mulai bekerja. Tapi ada gangguan niskala. Tidak berani jadinya bekerja. Kami pun melakukan piuning kemana-mana. Pekerjanya diganggu. Jadi mereka tidak bisa bekerja maksimal. Gangguannya itu seperti tiba-tiba kehilangan alat saat bekerja. Anaknya yang kerja itu nangis terus. Nah situasi mulai kondusif setelah kami adakan upacara-upacara dan matur piuning ke pura-pura untuk pembangunan gednung ini. Selesainya pasnya sekali tanggal 9 April kemarin. Harusnya akhir Desember 2020. Bukan saja pekerja yang di ganggu, kami juga sering diganggu sebenarnya,” bebernya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Buleleng, kini telah memiliki gedung baru. Gedung itu berlokasi di Jalan Ratna, Keluraha Banyuasri, Kecamatan Buleleng. gedung megah berlantai II ini dibangun dengan anggaran Rp 3 miliar yang bersumber dari dana CSR BUMN. Gedung ini nantinya dimanfaatkan oleh MDA untuk melakukan pengawasan, pembinaan dan pemberdayaan desa adat di Kabupaten Buleleng. Gedung baru yang difungsikan sebagai kantor MDA ini diresmikan, Minggu (11/4) pagi. Peresmian gedung MDA ini dihadiri langsung Gubernur Bali, Wayan Koster.

Ditemui usai peresmian, Ketua MDA Bupepeng, Dewa Putu Budarsa menyampaikan, gedung ini nantinya sebagai tempat untuk desa adat melakukan berbagai kegiatan. “Gedung ini bukan milik MDA, tapi milik desa adat secara keseluruhan dari 169 desa adat. Jadi kami disini adalah tempatnya untuk bersilahturami, mesimakrama. Kemudian juga dengan para yowana, di gedung ini ada lembaga adatnya. Pecalang, sekeha truna truni, dan yowana ada lembaga-lembaganya disini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Cok Ace Minta Konjen Korsel Infokan Bali Aman Dikunjungi

Di lantai 2 sebut Budarsa ada ruang pertemuan dengan ukuran luas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tatkala ingin melakukan kegiatan. “Di lantai 2 ada tempat rapat atau tempat pertemuan. Bisa digunakan oleh masyarakat. Tentunya ada pemberitahuan sebelum menggunakan,” jelasnya.

Terkait gedung MDA yang sebelumnya berlokasi di Jalan Abimanyu, Budarsa mengaku akan segera mengembalikannya kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng. Sebab, gedung yang dimanfaatkan sebagai kantor MDA itu berstatus Hak Guna Pakai. “Kalau sekerang ini sudah ada gedung ini, segera kami akan pindah. Gedung lama milik pemda, kami akan kembalikan fasilitasnya itu. Ini ada surat hak guna pakai untuk MMDP dulu,” kata Budarsa.

Meski kini telah diresmika, pengerjaan gedung MDA ini sempat molor dari target waktu yang ditetapkan. Pada awal dikerjakan tanggal 10 September 2020, gedung ini ditarget selesai pada akhir Desember 2020. Namun sayang, target tersebut tak dapat dipenuhi.

Baca Juga :  Jaya Negara Apresiasi Pembangunan Gedung MDA Kota Denpasar

Budarsa pun membeberkan penyebab mundurnya pengerjaan gedung MDA itu. Ia mengklaim adanya gangguan makhluk halus yang kerap mengganggu para pekerja, sehingga membuat pekerja tidak nyaman dan berimbas pada pengerjaan proyek. Menyikapi halite, MDDA Buleleng pun dengan sigap melakukan upacara yadnya dan melakukan persembahyangan ke beberapa pura untuk menetralisir gangguan niskalatersebut. “Pembangunannya terlambat karena situasi hujan juga. Sebenarnya pada awal ngeruwak kami sudah mulai bekerja. Tapi ada gangguan niskala. Tidak berani jadinya bekerja. Kami pun melakukan piuning kemana-mana. Pekerjanya diganggu. Jadi mereka tidak bisa bekerja maksimal. Gangguannya itu seperti tiba-tiba kehilangan alat saat bekerja. Anaknya yang kerja itu nangis terus. Nah situasi mulai kondusif setelah kami adakan upacara-upacara dan matur piuning ke pura-pura untuk pembangunan gednung ini. Selesainya pasnya sekali tanggal 9 April kemarin. Harusnya akhir Desember 2020. Bukan saja pekerja yang di ganggu, kami juga sering diganggu sebenarnya,” bebernya.


Most Read

Artikel Terbaru

/