alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Penjualan Hiasan Penjor Tahun Ini Tergolong Sepi

DENPASAR, BALI EXPRESS – Masih pandemi, penjual hiasan penjor tetap ramai di setiap sudut kota Denpasar. H-3 jelang Galungan, pembeli mulai ramai mendatangi penjual hiasan penjor. Kendati demikian, salah satu penjual hiasan penjor, Anton Wijaya, mengaku penjualannya saat ini tergolong lebih sepi dibandingkan tahun lalu.

“Karena kondisi pandemi Covid-19, lebih sepi Galungan sekarang. Seminggu sebelum Galungan, biasanya sudah ramai saja yang beli. Sedangkan tahun ini seminggu sebelum Galungan masih belum ramai. Dulu sehari bisa jual 20 janur dalam sehari, apalagi saat puncak bisa ramai sekali,” ujar Anton saat ditemui di tempatnya berjualan yang berlokasi di Jalan Padma, Penatih, Denpasar, Minggu (11/4).

Di tempatnya, dia menyediakan hiasan penjor mulai dari janur, padi, kolong-kolong, dan jenis sampian lainnya. Mulai dari ukuran kecil, sedang, hingga besar. Harga untuk janur berukuran kecil dipatok mulai dari Rp 20 ribu, sedang Rp 30 ribu, dan paling besar Rp 125 ribu. “Ada juga dilihat dari kerumitannya, yang besar bentuk nanas Rp 115 ribu. Intinya yang besar Rp 100 ribu sampai 125 ribu. Tapi kebanyakan yang laku janur kecil-kecil. Seharinya yang beli tidak pasti, kadang ada dua, atau tiga orang,” jelasnya.

Baca Juga :  Tersisa 9 Kasus Aktif Covid-19 di Bangli, Warga Diminta Tetap Waspada

Selain itu, pepadian dijual dengan harga Rp 20 seplastik. Sanggah crukcuk seharga Rp 20 ribu. “Di sini yang tidak saya jual hanya bambu untuk penjor saja. Kalau sanggah crukcuk tidak terlalu ramai yang beli, karena mereka biasanya menggunakan yang masih ada di rumah. Untuk semua yang saya jual di sini sekeluarga yang mengerjakan. Ada juga pekerja lainnya, jadi kami beri bahan,” kata pedagang asal Peninjoan tersebut.

Anton mengakui, pihaknya menyetok ratusan hiasan penjor, terutama janur. Namun untuk saat ini, stok mulai dikurangi karena melihat penjualan tahun lalu. “Sekarang memang dikurangi stoknya dari Galungan sebelumnya. Pertama pandemi saya kurangi stoknya karena berpikir akan sepi, ternyata normal penjualannya. Kemudian Galungan enam bulan lalu saya tambah sedikit, ternyata mulai sepi sampai,” terangnya. “Dulu masyarakat masih punya tabungan, masih bisa beli hiasan penjor yang lengkap, janur yang besar. Ternyata dampak Covid-19 semakin parah, keuangan menipis, jadi sekarang masyarakat asal mereka punya saja sudah cukup walaupun sederhana,” sambungnya.

Baca Juga :  Diduga Ditinggal Ngobrol saat Masak, Rumah di Monang Maning Terbakar

Kendati demikian, pihaknya mengaku tidak mendistribusikan hiasan penjornya ke warung-warung lain dan fokus berjualan di satu lokasi. Saya jualan di sini setiap enam bulan sekali. Biasanya saya buka seminggu atau dua minggu sebelum Galungan. Biar lama perkenalannya, masyarakat tahu ada jualan hiasan penjor di sini,” kata dia.

Disinggung terkait modal, pihaknya terang-terangan mengaku mengeluarkan modal sebesar Rp 65 juta untuk Galungan saat ini. Angka tersebut, menurutnya, cukup menurun dari modal Galungan sebelumnya yang bisa mencapai Rp 95 juta sampai Rp 100 juta. “Tahun lalu untungnya bisa Rp 25 juta dari modal Rp 100 juta. Saya tidak berani ambil untung banyak karena posisi saya berjualan di tengah-tengah. Di tempat saya harus bisa jualan lebih murah. Misalnya kolong-kolong yang lain jual Rp 30 ribu, saya jual Rp 25 ribu,” bebernya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Masih pandemi, penjual hiasan penjor tetap ramai di setiap sudut kota Denpasar. H-3 jelang Galungan, pembeli mulai ramai mendatangi penjual hiasan penjor. Kendati demikian, salah satu penjual hiasan penjor, Anton Wijaya, mengaku penjualannya saat ini tergolong lebih sepi dibandingkan tahun lalu.

“Karena kondisi pandemi Covid-19, lebih sepi Galungan sekarang. Seminggu sebelum Galungan, biasanya sudah ramai saja yang beli. Sedangkan tahun ini seminggu sebelum Galungan masih belum ramai. Dulu sehari bisa jual 20 janur dalam sehari, apalagi saat puncak bisa ramai sekali,” ujar Anton saat ditemui di tempatnya berjualan yang berlokasi di Jalan Padma, Penatih, Denpasar, Minggu (11/4).

Di tempatnya, dia menyediakan hiasan penjor mulai dari janur, padi, kolong-kolong, dan jenis sampian lainnya. Mulai dari ukuran kecil, sedang, hingga besar. Harga untuk janur berukuran kecil dipatok mulai dari Rp 20 ribu, sedang Rp 30 ribu, dan paling besar Rp 125 ribu. “Ada juga dilihat dari kerumitannya, yang besar bentuk nanas Rp 115 ribu. Intinya yang besar Rp 100 ribu sampai 125 ribu. Tapi kebanyakan yang laku janur kecil-kecil. Seharinya yang beli tidak pasti, kadang ada dua, atau tiga orang,” jelasnya.

Baca Juga :  Sekda Badung Pastikan Oksigen Medis di RSD Mangusada Aman

Selain itu, pepadian dijual dengan harga Rp 20 seplastik. Sanggah crukcuk seharga Rp 20 ribu. “Di sini yang tidak saya jual hanya bambu untuk penjor saja. Kalau sanggah crukcuk tidak terlalu ramai yang beli, karena mereka biasanya menggunakan yang masih ada di rumah. Untuk semua yang saya jual di sini sekeluarga yang mengerjakan. Ada juga pekerja lainnya, jadi kami beri bahan,” kata pedagang asal Peninjoan tersebut.

Anton mengakui, pihaknya menyetok ratusan hiasan penjor, terutama janur. Namun untuk saat ini, stok mulai dikurangi karena melihat penjualan tahun lalu. “Sekarang memang dikurangi stoknya dari Galungan sebelumnya. Pertama pandemi saya kurangi stoknya karena berpikir akan sepi, ternyata normal penjualannya. Kemudian Galungan enam bulan lalu saya tambah sedikit, ternyata mulai sepi sampai,” terangnya. “Dulu masyarakat masih punya tabungan, masih bisa beli hiasan penjor yang lengkap, janur yang besar. Ternyata dampak Covid-19 semakin parah, keuangan menipis, jadi sekarang masyarakat asal mereka punya saja sudah cukup walaupun sederhana,” sambungnya.

Baca Juga :  Zona Kuning Dua Pekan, Kelurahan Kawan Kembali Orange

Kendati demikian, pihaknya mengaku tidak mendistribusikan hiasan penjornya ke warung-warung lain dan fokus berjualan di satu lokasi. Saya jualan di sini setiap enam bulan sekali. Biasanya saya buka seminggu atau dua minggu sebelum Galungan. Biar lama perkenalannya, masyarakat tahu ada jualan hiasan penjor di sini,” kata dia.

Disinggung terkait modal, pihaknya terang-terangan mengaku mengeluarkan modal sebesar Rp 65 juta untuk Galungan saat ini. Angka tersebut, menurutnya, cukup menurun dari modal Galungan sebelumnya yang bisa mencapai Rp 95 juta sampai Rp 100 juta. “Tahun lalu untungnya bisa Rp 25 juta dari modal Rp 100 juta. Saya tidak berani ambil untung banyak karena posisi saya berjualan di tengah-tengah. Di tempat saya harus bisa jualan lebih murah. Misalnya kolong-kolong yang lain jual Rp 30 ribu, saya jual Rp 25 ribu,” bebernya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/