alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Persentase Kesembuhan Meningkat, Koster: Salut kepada Tenaga Medis

DENPASAR, BALI EXPRESS – Tingkat kesembuhan pasien positif Covid-19 di Bali terus mengalami peningkatan. Sampai dengan pekan kemarin, persentasenya menempati 65 persen. Tertinggi di tingkat nasional maupun internasional. Sementara tingkat kematian pada posisi rendah. Yakni 1,31 persen.

 

Tingginya tingkat kesembuhan tersebut tidak terlepas dari strategi dan kebijakan penanggulangan Covid-19 yang diterapkan Gubernur Bali, Wayan Koster. Ditunjang kerja sama berbagai pihak dalam penerapannya. Dan yang paling utama dalah para tenaga medis yang menjadi ujung tombak utama penanggulang Covid-19 di Bali.

 

Karena itu, dalam telekonferensi yang digelar di Jaya Sabha pada Sabtu (9/5), Koster menyampaikan apresiasi dan salutnya kepada para tenaga medis di seluruh Bali. Ini dia sampaikan saat melakukan telekonferensi dengan para tenaga medis bersama Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 sekaligus Sekda Bali, Dewa Made Indra.

 

Selain mendapatkan laporan perkembangan penanganan Covid-19 dari para peserta yang terdiri dari Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Laboratorium, Puskesmas dan Tempat Karantina, Gubernur Koster juga menerima masukan dan saran dari para peserta yang tersebar di sekitar 40 titik mulai dari Jembrana sampai Karangasem agar penanganan Covid-19 di Bali semakin baik.

 

Koster pun menyebutkan bahwa sampai saat ini Bali menjadi provinsi terbaik dalam penanganan Covid-19. Ini ditunjukan dari sisi tingkat kesembuhan dan rendahnya persentase kematian.

 

“Sampai saat ini, tingkat kesembuhan 65 persen atau 195 orang. Sedangkan yang meninggal ada empat atau 1,31 persen dari total pasien positif tiga ratus orang,” ujarnya.

 

Angka-angka ini jauh lebih baik dari angka nasional dan secara internasional. Rata-rata untuk nasional tingkat kesembuhan 19,2 persen dan kematian 7,19 persen. Sedangkan secara internasional tingkat rata-rata angka kesembuhan 33,41 persen dan kematian 6,99 persen.

 

Gubernur asal Buleleng ini menambahkan lama perawatan pasien Covid-19 di Bali juga relatif singkat. “Rata-rata tiga belas hari. Paling cepat tiga hari dan paling lama 39 hari. Ada satu yang lama belum sembuh kita akan terus cari cara untuk penyembuhannya,” katanya.

 

Menurut Gubernur, angka-angka ini menunjukkan kinerja Provinsi Bali dalam mengatasi pandemi Covid-19 sangat baik. Bahkan yang terbaik di Indonesia.

 

“Ini adalah penilaian pemerintah pusat dan juga Gugus Tugas nasional yang disampaikan langsung kepada saya selaku Ketua Gugus Tugas Provinsi Bali,” ujar Ketua DPD PDIP Provinsi Bali ini.

 

Dia menambahkan, tenaga medis sangat berperan dalam keberhasilan ini. Selain telah bekerja keras, tenaga medis menurutnya sangat berisiko tertular penyakit. Di Bali, lima orang tenaga medis sudah sempat tertular dan tiga orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh.  “Angka ini termasuk kecil dan kita berharap tidak ada lagi penambahan,” kata Gubernur.

 

Menurutnya Gugus Tugas Provinsi Bali sangat memperhatikan kebutuhan tenaga medis dalam penanganan Covid-19. “Pemerintah Provinsi Bali dan bantuan pemerintah pusat telah menyediakan peralatan untuk melindungi tenaga medis baik itu alat pelindung diri juga menyediakan hotel dan transportasi,” ujarnya.

 

Para tenaga medis memberi apresiasi langkah-langkah yang sudah dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali. dr. Arya Putra dari Puskesmas Selemadeg Barat mengatakan langkah-langkah Gugus Tugas Provinsi Bali selama ini sudah sangat baik.

 

Ngurah Kusuma, tenaga medis di RSUD Klungkung mengatakan langkah karantina terpusat terhadap PMI sangat tepat dalam menurunkan penularan Covid-19 di Bali. “Karantina terpusat sangat berhasil menurunkan angka kesakitan akibat Covid,” katanya.

 

Dia juga merespon positif adanya penambahan laboratorium pemeriksaan PCR di Bali. Apresiasi serupa disampaikan beberapa tenaga medis di Bali.

 

Tenaga medis Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Udayana (RS PTN Unud), dr. Cok Wahyu, SpPD menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemprov Bali terhadap tenaga kesehatan.

 

“Sebagai salah satu pusat rujukan Covid di Bali merasa sangat apresiasi dengan bantuan dari Pemda Bali, baik itu relawan, APD, alat dan fasilitas-fasilitas yang diberikan kepada nakes kami seperti penginapan dan sebagainya,” ujarnya.

 

Menurutnya, sejak 7 April 2020, RS PTN Unud sudah menerima 123 pasien Covid-19 dengan total positif sebanyak 85 pasien. Ditambahkan pula, sejak Mei ini, tren pasien positif di rumah sakit tersebut mengalami penurunan dengan penambahan hanya sepuluh orang pasien.

 

Beberapa tenaga medis menyampaikan harapan pemberian insentif terhadap tenaga nonmedis yang juga terlibat langsung dalam penanganan Covid-19 seperti sopir dan tenaga kebersihan.

 

Terhadap hal ini, Gubernur Koster memastikan bahwa insentif akan diberikan terhadap tenaga medis maupun non medis yang terlibat langsung dalam penanganan Covid-19.

 

Insentif untuk tenaga medis sudah diatur oleh Permenkes dan tinggal memenuhi persyaratan administrasinya. Sementara untuk tenaga non medis, Gubernur mengatakan sudah berkomitmen memberikan insentif dan tata caranya segera akan dirapatkan dengan Bupati/Walikota se-Bali.

 

“Saya akan rapat dengan Bupati/Walikota hari Senin. Bagi Kabupaten/kota yang anggarannya tidak memungkinkan akan ditangani oleh Provinsi,” ujarnya.

 

Mengakhiri rapat, Gubernur Koster kembali menegaskan apresiasinya terhadap kerja keras dan dedikasi tenaga medis dalam percepatan penanganan Covid 19 di Bali. “Tetapi perjuangan kita belum selesai. Karena sampai hari ini masih ada penambahan pasien positif Covid-19 walaupun lajunya sudah menurun,” ujarnya. 

 

Oleh karena itu, ia mengajak para tenaga medis untuk menjalankan tugas kemanusiaan ini dengan sebaik-baiknya sembari berharap pandemi ini segera berakhir.

 

“Ini sungguh-sungguh merupakan perbuatan mulia sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal dan agama yang kami yakini, bahwa perbuatan baik yang dilandasi dengan ketulusan akan memberi manfaat dan kebahagiaan buat diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara,” ujarnya.

 

Selain menyapa para tenaga medis melalui media telekonferensi, Koster juga menghadiri penyerahan bantuan sembako kepada para pemuka agama dan panglingsir Desa Adat Kedonganan, Badung, di Gedung Serbaguna Desa Adat setempat.

 

Penyerahan bantuan yang menjadi bagian dari kegiatan percepatan penanganan Covid-19 di Bali. Dan penyerahan tersebut merupakan tahap kedua. Proses Koster, terlihat hadir Putri Suastini Koster, Wakil Bupati Badung Wayan Suiasa, Camat Kuta, prajuru serta tokoh masyarakat Desa Kedonganan.

 

Di kesempatan ini juga, Koster menyampaikan soal tingginya tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Bali. Dengan tingkatan 65 persen, Bali menjadi provinsi dengan tingkat kesembuhan tertinggi di nasional maupun internasional. Karena sejauh ini, secara nasional tingkat kesembuhan baru ada di posisi 16 persen. Sementara tingkat kesembuhan internasional baru 33 persen.

 

“Penanganan Covid-19 di Bali bahkan sampai dibawa ke rapat kabinet oleh Bapak Presiden dan disebutkan bahwa penanganan Covid-19 di Bali terbaik di Indonesia. Sudah dilakukan evaluasi dan sudah pula dihitung di pusat, Bali diharapkan menjadi provinsi pertama yang bebas Covid-19,” jelasnya.

 

Dia berharap, tidak ada penambahan lagi pasien yang meninggal. Namun, dia tetap mengingatkan, perkembangan baik ini harus tetap dibarengi dengan kedisiplinan masyarakat dalam mencegah penularan Covid-19.

 

“Saya ingin mempercepat penanganan Covid-19 ini, karena itu semua lini kita perketat. Para pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan masuk ke Bali juga sekarang langsung diuji swab,” sebutnya.

 

Koster mengungkapkan, perkembangan Covid-19 di Bali terus dia pantau setiap saat. Untuk dianalisa sebagai bahan mengambil strategi dan kebijakan dalam penanganan Covid-19.

 

“Hitungan kami, mudah-mudahan awal Juni mendatang pandemik Covid-19 ini di Bali bisa berakhir,” sebutnya.

 

Bila meninjau ulang ke belakang, sejak Covid-19 ini muncul di Bali, pertama ada satu orang positif pada 10 Maret 2020. Sejak saat itu, sambungnya, dia bersama Wakil Gubernur dan Sekda memutuskan untuk memberikan status siaga darurat untuk Bali.

 

Saat itu juga dibentuk Satuan Tugas (Satgas) percepatan penanganan Covid-19 Bali. Sementara pada waktu itu, Pemerintah Pusat belum menentukan dan menyatakan Indonesia dalam status siaga darurat. “Bali yang pertama kali menyatakan diri dalam status siaga meskipun baru satu orang yang positif saat itu,” tegasnya. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Tingkat kesembuhan pasien positif Covid-19 di Bali terus mengalami peningkatan. Sampai dengan pekan kemarin, persentasenya menempati 65 persen. Tertinggi di tingkat nasional maupun internasional. Sementara tingkat kematian pada posisi rendah. Yakni 1,31 persen.

 

Tingginya tingkat kesembuhan tersebut tidak terlepas dari strategi dan kebijakan penanggulangan Covid-19 yang diterapkan Gubernur Bali, Wayan Koster. Ditunjang kerja sama berbagai pihak dalam penerapannya. Dan yang paling utama dalah para tenaga medis yang menjadi ujung tombak utama penanggulang Covid-19 di Bali.

 

Karena itu, dalam telekonferensi yang digelar di Jaya Sabha pada Sabtu (9/5), Koster menyampaikan apresiasi dan salutnya kepada para tenaga medis di seluruh Bali. Ini dia sampaikan saat melakukan telekonferensi dengan para tenaga medis bersama Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 sekaligus Sekda Bali, Dewa Made Indra.

 

Selain mendapatkan laporan perkembangan penanganan Covid-19 dari para peserta yang terdiri dari Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Laboratorium, Puskesmas dan Tempat Karantina, Gubernur Koster juga menerima masukan dan saran dari para peserta yang tersebar di sekitar 40 titik mulai dari Jembrana sampai Karangasem agar penanganan Covid-19 di Bali semakin baik.

 

Koster pun menyebutkan bahwa sampai saat ini Bali menjadi provinsi terbaik dalam penanganan Covid-19. Ini ditunjukan dari sisi tingkat kesembuhan dan rendahnya persentase kematian.

 

“Sampai saat ini, tingkat kesembuhan 65 persen atau 195 orang. Sedangkan yang meninggal ada empat atau 1,31 persen dari total pasien positif tiga ratus orang,” ujarnya.

 

Angka-angka ini jauh lebih baik dari angka nasional dan secara internasional. Rata-rata untuk nasional tingkat kesembuhan 19,2 persen dan kematian 7,19 persen. Sedangkan secara internasional tingkat rata-rata angka kesembuhan 33,41 persen dan kematian 6,99 persen.

 

Gubernur asal Buleleng ini menambahkan lama perawatan pasien Covid-19 di Bali juga relatif singkat. “Rata-rata tiga belas hari. Paling cepat tiga hari dan paling lama 39 hari. Ada satu yang lama belum sembuh kita akan terus cari cara untuk penyembuhannya,” katanya.

 

Menurut Gubernur, angka-angka ini menunjukkan kinerja Provinsi Bali dalam mengatasi pandemi Covid-19 sangat baik. Bahkan yang terbaik di Indonesia.

 

“Ini adalah penilaian pemerintah pusat dan juga Gugus Tugas nasional yang disampaikan langsung kepada saya selaku Ketua Gugus Tugas Provinsi Bali,” ujar Ketua DPD PDIP Provinsi Bali ini.

 

Dia menambahkan, tenaga medis sangat berperan dalam keberhasilan ini. Selain telah bekerja keras, tenaga medis menurutnya sangat berisiko tertular penyakit. Di Bali, lima orang tenaga medis sudah sempat tertular dan tiga orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh.  “Angka ini termasuk kecil dan kita berharap tidak ada lagi penambahan,” kata Gubernur.

 

Menurutnya Gugus Tugas Provinsi Bali sangat memperhatikan kebutuhan tenaga medis dalam penanganan Covid-19. “Pemerintah Provinsi Bali dan bantuan pemerintah pusat telah menyediakan peralatan untuk melindungi tenaga medis baik itu alat pelindung diri juga menyediakan hotel dan transportasi,” ujarnya.

 

Para tenaga medis memberi apresiasi langkah-langkah yang sudah dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali. dr. Arya Putra dari Puskesmas Selemadeg Barat mengatakan langkah-langkah Gugus Tugas Provinsi Bali selama ini sudah sangat baik.

 

Ngurah Kusuma, tenaga medis di RSUD Klungkung mengatakan langkah karantina terpusat terhadap PMI sangat tepat dalam menurunkan penularan Covid-19 di Bali. “Karantina terpusat sangat berhasil menurunkan angka kesakitan akibat Covid,” katanya.

 

Dia juga merespon positif adanya penambahan laboratorium pemeriksaan PCR di Bali. Apresiasi serupa disampaikan beberapa tenaga medis di Bali.

 

Tenaga medis Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Udayana (RS PTN Unud), dr. Cok Wahyu, SpPD menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemprov Bali terhadap tenaga kesehatan.

 

“Sebagai salah satu pusat rujukan Covid di Bali merasa sangat apresiasi dengan bantuan dari Pemda Bali, baik itu relawan, APD, alat dan fasilitas-fasilitas yang diberikan kepada nakes kami seperti penginapan dan sebagainya,” ujarnya.

 

Menurutnya, sejak 7 April 2020, RS PTN Unud sudah menerima 123 pasien Covid-19 dengan total positif sebanyak 85 pasien. Ditambahkan pula, sejak Mei ini, tren pasien positif di rumah sakit tersebut mengalami penurunan dengan penambahan hanya sepuluh orang pasien.

 

Beberapa tenaga medis menyampaikan harapan pemberian insentif terhadap tenaga nonmedis yang juga terlibat langsung dalam penanganan Covid-19 seperti sopir dan tenaga kebersihan.

 

Terhadap hal ini, Gubernur Koster memastikan bahwa insentif akan diberikan terhadap tenaga medis maupun non medis yang terlibat langsung dalam penanganan Covid-19.

 

Insentif untuk tenaga medis sudah diatur oleh Permenkes dan tinggal memenuhi persyaratan administrasinya. Sementara untuk tenaga non medis, Gubernur mengatakan sudah berkomitmen memberikan insentif dan tata caranya segera akan dirapatkan dengan Bupati/Walikota se-Bali.

 

“Saya akan rapat dengan Bupati/Walikota hari Senin. Bagi Kabupaten/kota yang anggarannya tidak memungkinkan akan ditangani oleh Provinsi,” ujarnya.

 

Mengakhiri rapat, Gubernur Koster kembali menegaskan apresiasinya terhadap kerja keras dan dedikasi tenaga medis dalam percepatan penanganan Covid 19 di Bali. “Tetapi perjuangan kita belum selesai. Karena sampai hari ini masih ada penambahan pasien positif Covid-19 walaupun lajunya sudah menurun,” ujarnya. 

 

Oleh karena itu, ia mengajak para tenaga medis untuk menjalankan tugas kemanusiaan ini dengan sebaik-baiknya sembari berharap pandemi ini segera berakhir.

 

“Ini sungguh-sungguh merupakan perbuatan mulia sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal dan agama yang kami yakini, bahwa perbuatan baik yang dilandasi dengan ketulusan akan memberi manfaat dan kebahagiaan buat diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara,” ujarnya.

 

Selain menyapa para tenaga medis melalui media telekonferensi, Koster juga menghadiri penyerahan bantuan sembako kepada para pemuka agama dan panglingsir Desa Adat Kedonganan, Badung, di Gedung Serbaguna Desa Adat setempat.

 

Penyerahan bantuan yang menjadi bagian dari kegiatan percepatan penanganan Covid-19 di Bali. Dan penyerahan tersebut merupakan tahap kedua. Proses Koster, terlihat hadir Putri Suastini Koster, Wakil Bupati Badung Wayan Suiasa, Camat Kuta, prajuru serta tokoh masyarakat Desa Kedonganan.

 

Di kesempatan ini juga, Koster menyampaikan soal tingginya tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Bali. Dengan tingkatan 65 persen, Bali menjadi provinsi dengan tingkat kesembuhan tertinggi di nasional maupun internasional. Karena sejauh ini, secara nasional tingkat kesembuhan baru ada di posisi 16 persen. Sementara tingkat kesembuhan internasional baru 33 persen.

 

“Penanganan Covid-19 di Bali bahkan sampai dibawa ke rapat kabinet oleh Bapak Presiden dan disebutkan bahwa penanganan Covid-19 di Bali terbaik di Indonesia. Sudah dilakukan evaluasi dan sudah pula dihitung di pusat, Bali diharapkan menjadi provinsi pertama yang bebas Covid-19,” jelasnya.

 

Dia berharap, tidak ada penambahan lagi pasien yang meninggal. Namun, dia tetap mengingatkan, perkembangan baik ini harus tetap dibarengi dengan kedisiplinan masyarakat dalam mencegah penularan Covid-19.

 

“Saya ingin mempercepat penanganan Covid-19 ini, karena itu semua lini kita perketat. Para pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan masuk ke Bali juga sekarang langsung diuji swab,” sebutnya.

 

Koster mengungkapkan, perkembangan Covid-19 di Bali terus dia pantau setiap saat. Untuk dianalisa sebagai bahan mengambil strategi dan kebijakan dalam penanganan Covid-19.

 

“Hitungan kami, mudah-mudahan awal Juni mendatang pandemik Covid-19 ini di Bali bisa berakhir,” sebutnya.

 

Bila meninjau ulang ke belakang, sejak Covid-19 ini muncul di Bali, pertama ada satu orang positif pada 10 Maret 2020. Sejak saat itu, sambungnya, dia bersama Wakil Gubernur dan Sekda memutuskan untuk memberikan status siaga darurat untuk Bali.

 

Saat itu juga dibentuk Satuan Tugas (Satgas) percepatan penanganan Covid-19 Bali. Sementara pada waktu itu, Pemerintah Pusat belum menentukan dan menyatakan Indonesia dalam status siaga darurat. “Bali yang pertama kali menyatakan diri dalam status siaga meskipun baru satu orang yang positif saat itu,” tegasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/