alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Tidak Terima Dipanggil “Cai” Gusti Hajar Putu di Depan Toko Baju

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Aksi perkelahian dua remaja yang beredar di dunia maya menghebohkan warganet. Aksi pemukulan yang dilakukan itu berlokasi di desa Patemon di sebuah toko baju. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (7/5) sekitar pukul 11.00 wita. Perkelahian keduanya itu ditengarai karena adanya ketersinggungan pelaku karena dipanggil dengan panggilan kasar (cai = kamu).

Kejadian bermula saat korban Putu bertemu di jalan raya tepatnya di depan Polsek Seririt dengan pelaku Gusti. Keduanya sama-sama membonceng seorang teman. Dan sama-sama hendak membeli baju ke toko yang sama. Karena disapa dari belakang, Putu merasa dipepet oleh pelaku, hingga keduanya saling pandang.

Sampai di toko baju, Putu masuk untuk berbelanja, sementara Gusti masih berada di parkiran. Setelah Putu keluar dari toko langsung ditanya maksudnya memandang Gusti di jalan saat bertemu. Terjadilah cekcok hingga kemudian terjadi baku hantam.

Perbekel desa Patemon, Ketut Winaya saat dikonfirmasi Rabu (11/5) malam membenarkan terjadi perkelahian antar dua remaja. Ia juga mengakui perkelahian itu lantaran salah paham. Bukan karena berebut wanita seperti yang beredar di media sosial.

“Memang benar mereka berkelahi. Karena Gusti orang berkasta maka dia tidak terima dibilang cai. Tersinggung dia. Langsung kerah bajunya korban ditarik. Ditangkis sama korban. Korban sempat mukul tapi lepas dan jatuh. Akhirnya dipukul berulang-ulang,” ujarnya.

Pembinaan pun dilakukan oleh pihak desa. Kedua remaja yang masih dibawah umur itu telah dimediasi dan keduanya mengakui perbuatan mereka.

“Saya selaku mekel keras juga kepada pelaku supaya tidak melakukan kekerasan serupa. Dan korban juga supaya tidak kasar dalam berbicara,” tambahnya.

Lantaran aksi pemukulan itu telah beredar di sosial media, maka pihak kepolisian pun mengambil tindakan untuk mengusut aksi pemukulan tersebut. Terlebih korban telah menjalani visum dan ditemukan luka akibat kekerasan fisik.

“Kami sudah pertemukan mereka. Awalnya saya tidak tahu ada video itu. Setelah ini viral baru saya tahu. Kami bina di sini. Dan dari segi hukum pelaku ini juga salah karena pukulannya keras sekali. Polisi juga sedang mengusut masalah itu. Sudah disidik dan divisum kelihatan ada kekerasan. Dari desa kami menginginkan masalah ini diselesaikan dengan damai,” terangnya.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Aksi perkelahian dua remaja yang beredar di dunia maya menghebohkan warganet. Aksi pemukulan yang dilakukan itu berlokasi di desa Patemon di sebuah toko baju. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (7/5) sekitar pukul 11.00 wita. Perkelahian keduanya itu ditengarai karena adanya ketersinggungan pelaku karena dipanggil dengan panggilan kasar (cai = kamu).

Kejadian bermula saat korban Putu bertemu di jalan raya tepatnya di depan Polsek Seririt dengan pelaku Gusti. Keduanya sama-sama membonceng seorang teman. Dan sama-sama hendak membeli baju ke toko yang sama. Karena disapa dari belakang, Putu merasa dipepet oleh pelaku, hingga keduanya saling pandang.

Sampai di toko baju, Putu masuk untuk berbelanja, sementara Gusti masih berada di parkiran. Setelah Putu keluar dari toko langsung ditanya maksudnya memandang Gusti di jalan saat bertemu. Terjadilah cekcok hingga kemudian terjadi baku hantam.

Perbekel desa Patemon, Ketut Winaya saat dikonfirmasi Rabu (11/5) malam membenarkan terjadi perkelahian antar dua remaja. Ia juga mengakui perkelahian itu lantaran salah paham. Bukan karena berebut wanita seperti yang beredar di media sosial.

“Memang benar mereka berkelahi. Karena Gusti orang berkasta maka dia tidak terima dibilang cai. Tersinggung dia. Langsung kerah bajunya korban ditarik. Ditangkis sama korban. Korban sempat mukul tapi lepas dan jatuh. Akhirnya dipukul berulang-ulang,” ujarnya.

Pembinaan pun dilakukan oleh pihak desa. Kedua remaja yang masih dibawah umur itu telah dimediasi dan keduanya mengakui perbuatan mereka.

“Saya selaku mekel keras juga kepada pelaku supaya tidak melakukan kekerasan serupa. Dan korban juga supaya tidak kasar dalam berbicara,” tambahnya.

Lantaran aksi pemukulan itu telah beredar di sosial media, maka pihak kepolisian pun mengambil tindakan untuk mengusut aksi pemukulan tersebut. Terlebih korban telah menjalani visum dan ditemukan luka akibat kekerasan fisik.

“Kami sudah pertemukan mereka. Awalnya saya tidak tahu ada video itu. Setelah ini viral baru saya tahu. Kami bina di sini. Dan dari segi hukum pelaku ini juga salah karena pukulannya keras sekali. Polisi juga sedang mengusut masalah itu. Sudah disidik dan divisum kelihatan ada kekerasan. Dari desa kami menginginkan masalah ini diselesaikan dengan damai,” terangnya.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/