alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Marak Beredar Kembang Rampe Dicampur Pewarna, Konsumen : Tangan Jadi Hijau

GIANYAR, BALI EXPRESS – Belakangan ini marak beredar di pasaran kembang rampe atau amburan atau samsam yang dicampur dengan pewarn ini marak beredar di pasaran kembang rampe atau amburan atau samsam yang dicampur dengan pewarna. Kendatipun hingga saat ini belum ada laporan terkait dampak kesehatan terhadap pewarna yang digunakan dalam kembang rampe tersebut, namun tak sedikit konsumen yang resah akan hal tersebut.

Salah seorang konsumen, Kadek Trisna mengaku sudah beberapa kali membeli kembang rampe yang dicampur dengan pewarna. Ia sendiri baru menyadari ketika sampai dirumah saat metanding. “Saat sampai rumah saya metanding baru sadar kalau kembang rampenya agak beda dengan biasanya saya beli. Warnanya lebih mencolok, dan habis metanding tangan jadi hijau,” ujarnya Senin (11/7).

Baca Juga :  Pembelajaran Tatap Mukai mulai Awal April, SE Segera Diterbitkan

Selain itu, beberapa kali ia membeli canang, kembang rampenya juga ternyata telah dicampur dengan pewarna hijau. Sehingga ketika canang sudah layu, kembang rampe masih tetap berwarna hijau. “Dan memang ternyata modus ini dilakukan biar kembang rampe tetap terlihat hijau segar meskipun dipotongnya sudah lama,” imbuhnya.

Namun sejauh ini kata dia, penggunaan kembang rampe tidak ada dampaknya pada kesehatannya. Begitu juga dengan keluarganya yang lain yang juga sering metanding canang dengan menggunakan kembang rampe yang telah dicampur dengan pewarna. “Cuma ya itu, tangan jadi hijau. Dan was-was juga karena tidak tahu itu pakai pewarna apa, aman apa tidak,” tandasnya.

Sementara itu, dalam peraturan Kepala BPOM RI nomor 37 tahun 2013, telah mengeluarkan jenis pewarna makanan yang boleh digunakan, baik alami (natural colour) dan sintetis (synthetic colour). Adapun pewarna alami, meliputi korkumin, Riboflavin,Karmin, klorofil, karamel, karbon tanaman, Beta Koreten (sayuran), Ektrak Anato, Karotenoid, Merah Bit, Antosianin, Titanium Dioksida. Pewarna sisntetis; Tartazin, Kuning Kuinolin, Kuning FCF, Karmoisin, Ponceau, Eritrosin, Merah Alura, Indigotoin, Biru Berlian, Hijua FCF, Coklat HT.  Sementara Pewarna makanan yang berbahaya yakni Rhodim B yang biasa digunakan untuk pewarna tekstil. Metanil yellow, berbentuk serbuk kuning kecoklatan.

Baca Juga :  Tak Mampu Selesaikan Kontrak, Pemkab Buleleng Putus Kontrak Hingga Blacklist Rekanan

GIANYAR, BALI EXPRESS – Belakangan ini marak beredar di pasaran kembang rampe atau amburan atau samsam yang dicampur dengan pewarn ini marak beredar di pasaran kembang rampe atau amburan atau samsam yang dicampur dengan pewarna. Kendatipun hingga saat ini belum ada laporan terkait dampak kesehatan terhadap pewarna yang digunakan dalam kembang rampe tersebut, namun tak sedikit konsumen yang resah akan hal tersebut.

Salah seorang konsumen, Kadek Trisna mengaku sudah beberapa kali membeli kembang rampe yang dicampur dengan pewarna. Ia sendiri baru menyadari ketika sampai dirumah saat metanding. “Saat sampai rumah saya metanding baru sadar kalau kembang rampenya agak beda dengan biasanya saya beli. Warnanya lebih mencolok, dan habis metanding tangan jadi hijau,” ujarnya Senin (11/7).

Baca Juga :  Polda Bali Bakar Narkoba Rp 56 M, Pemasok Asal Australia Masih Buron

Selain itu, beberapa kali ia membeli canang, kembang rampenya juga ternyata telah dicampur dengan pewarna hijau. Sehingga ketika canang sudah layu, kembang rampe masih tetap berwarna hijau. “Dan memang ternyata modus ini dilakukan biar kembang rampe tetap terlihat hijau segar meskipun dipotongnya sudah lama,” imbuhnya.

Namun sejauh ini kata dia, penggunaan kembang rampe tidak ada dampaknya pada kesehatannya. Begitu juga dengan keluarganya yang lain yang juga sering metanding canang dengan menggunakan kembang rampe yang telah dicampur dengan pewarna. “Cuma ya itu, tangan jadi hijau. Dan was-was juga karena tidak tahu itu pakai pewarna apa, aman apa tidak,” tandasnya.

Sementara itu, dalam peraturan Kepala BPOM RI nomor 37 tahun 2013, telah mengeluarkan jenis pewarna makanan yang boleh digunakan, baik alami (natural colour) dan sintetis (synthetic colour). Adapun pewarna alami, meliputi korkumin, Riboflavin,Karmin, klorofil, karamel, karbon tanaman, Beta Koreten (sayuran), Ektrak Anato, Karotenoid, Merah Bit, Antosianin, Titanium Dioksida. Pewarna sisntetis; Tartazin, Kuning Kuinolin, Kuning FCF, Karmoisin, Ponceau, Eritrosin, Merah Alura, Indigotoin, Biru Berlian, Hijua FCF, Coklat HT.  Sementara Pewarna makanan yang berbahaya yakni Rhodim B yang biasa digunakan untuk pewarna tekstil. Metanil yellow, berbentuk serbuk kuning kecoklatan.

Baca Juga :  Polres Badung Semprot Disinfektan, Kapolres: Bandel akan Ditindak

Most Read

Artikel Terbaru

/