27.6 C
Denpasar
Thursday, September 29, 2022

Gianyar Tangani ODHA Anak dengan Padukan Upaya Perawatan dan Pengobatan

GIANYAR, BALI EXPRESS – Dari Januari hingga Juli 2022 terdapat 25 orang anak Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) yang ditangani di Kabupaten Gianyar. Anak ODHA ini pun ditangani dengan pelayanan tertentu.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Gianyar, dr. Ida Komang Upeksa menjelaskan bahwa perkembangan epidemi HIV-AIDS saat ini menyebabkan HIV-AIDS menjadi masalah global dan merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dengan meningkatnya kasus HIV-AIDS yang memerlukan pelayanan kesehatan termasuk pengobatan ARV (Antiretroviral), maka strategi penanggulangan HIV-AIDS dilaksanakan dengan memadukan upaya perawatan, dukungan serta pengobatan termasuk pada ODHA anak.

“Indikasi dalam penemuan kasus anak terinfeksi HIV pada sarana pelayanan kesehatan dan memerlukan tes HIV bila anak sakit dimana sakit yang dialami berhubungan dengan HIV seperti TB berat, malnutrisi, diare kronis, pnemonia kronis atau berulang,” ujarnya Kamis (11/8).

Kemudian apabila ada bayi yang terlahir dari ibu terinfeksi HIV, untuk mengetahui status HIV anak tersebut perlu ijin orang tua atau walinya. Apalagi setelah salah satu saudara kandung didiagnosa HIV,  atau salah satu atau kedua orang tuanya meninggal oleh sebab yang tidak diketahui.

Baca Juga :  Pandemi Covid-19, PAD Gianyar Anjlok

Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa, dalam penanggulangan HIV-AIDS, saat ini seluruh UPTD Puskesmas telah melayani test HIV dan skrening pada ibu hamil, termasuk RSUD Sanjiwani Gianyar, RSU Payangan, RSU Ari Santi, RSU Ganesha, RSU Famili Usada dan Klinik Bumi Sehat dengan rata-rata 8.250 orang tes HIV per tahun. “Dari tes HIV tersebut, Tahun 2018 diketahui terinfeksi HIV 193 orang, 2019 sejumlah 150 orang, 2020 sejumlah 140 orang, 2021 sejumlah 172 orang dan Januari sd Juli 2022 diketahui terinfeksi HIV sejumlah 91 orang,” sebutnya.

Untuk pelayanan pengobatan ARV di Kabupaten Gianyar terdapat di RSUD Sanjiwani Gianyar, UPTD Puskesmas Ubud II dan UPTD Puskesmas Sukawati I, dimana per Juli 2022 sejumlah 994 orang ODHA memperoleh layanan pengobatan ARV. Adapun jumlah ODHA anak di Kabupaten Gianyar dari Januari hingga Juli 2022 adalah sebanyak 25 orang. Ditangani di RSUD Sanjiwani sebanyak 20 orang, dan Puskesmas Ubud II sebanyak 5 orang. “Totalnya sampai saat ini 25 orang, karena 1 orang sudah dirujuk ke RSUP Sanglah,” paparnya.

Baca Juga :  Revitalisasi Pasar Beng, Pemkab Gianyar Gelontorkan Anggaran 3,8 M

Anak ODHA yang  dirujuk ke RSUP Sanglah, kata dia karena adanya indikasi gagal pengobatan dengan tanda-tanda akan sering sakit, berat badan tidak kunjung meningkat dan hasil pemeriksaan Viral Load masih tinggi.  Untuk anak yang positif HIV,  di sarana pelayanan kesehatan diberikan tatalaksana seperti mengkaji status nutrisi dan pertumbuhan, pemberian vitamin A berkala, dan tanda infeksi oportunistik dan pajanan TB. Diberikan pengobatan bila mengalami Infeksi Oportunistik sebelum pemberian ART (Antiretroviral Terapi) sebagai pengobatan HIV.

“Keberhasilan pengobatan ART pada anak memerlukan kerjasama pengasuh atau orang tua, karena mereka harus memahami tujuan pengobatan, mematuhi program pengobatan dan pentingnya kontrol,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Dari Januari hingga Juli 2022 terdapat 25 orang anak Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) yang ditangani di Kabupaten Gianyar. Anak ODHA ini pun ditangani dengan pelayanan tertentu.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Gianyar, dr. Ida Komang Upeksa menjelaskan bahwa perkembangan epidemi HIV-AIDS saat ini menyebabkan HIV-AIDS menjadi masalah global dan merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dengan meningkatnya kasus HIV-AIDS yang memerlukan pelayanan kesehatan termasuk pengobatan ARV (Antiretroviral), maka strategi penanggulangan HIV-AIDS dilaksanakan dengan memadukan upaya perawatan, dukungan serta pengobatan termasuk pada ODHA anak.

“Indikasi dalam penemuan kasus anak terinfeksi HIV pada sarana pelayanan kesehatan dan memerlukan tes HIV bila anak sakit dimana sakit yang dialami berhubungan dengan HIV seperti TB berat, malnutrisi, diare kronis, pnemonia kronis atau berulang,” ujarnya Kamis (11/8).

Kemudian apabila ada bayi yang terlahir dari ibu terinfeksi HIV, untuk mengetahui status HIV anak tersebut perlu ijin orang tua atau walinya. Apalagi setelah salah satu saudara kandung didiagnosa HIV,  atau salah satu atau kedua orang tuanya meninggal oleh sebab yang tidak diketahui.

Baca Juga :  Bupati Mahayastra Sampaikan RAPBD-P Tahun 2022, Rencana PAD Alami Peningkatan

Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa, dalam penanggulangan HIV-AIDS, saat ini seluruh UPTD Puskesmas telah melayani test HIV dan skrening pada ibu hamil, termasuk RSUD Sanjiwani Gianyar, RSU Payangan, RSU Ari Santi, RSU Ganesha, RSU Famili Usada dan Klinik Bumi Sehat dengan rata-rata 8.250 orang tes HIV per tahun. “Dari tes HIV tersebut, Tahun 2018 diketahui terinfeksi HIV 193 orang, 2019 sejumlah 150 orang, 2020 sejumlah 140 orang, 2021 sejumlah 172 orang dan Januari sd Juli 2022 diketahui terinfeksi HIV sejumlah 91 orang,” sebutnya.

Untuk pelayanan pengobatan ARV di Kabupaten Gianyar terdapat di RSUD Sanjiwani Gianyar, UPTD Puskesmas Ubud II dan UPTD Puskesmas Sukawati I, dimana per Juli 2022 sejumlah 994 orang ODHA memperoleh layanan pengobatan ARV. Adapun jumlah ODHA anak di Kabupaten Gianyar dari Januari hingga Juli 2022 adalah sebanyak 25 orang. Ditangani di RSUD Sanjiwani sebanyak 20 orang, dan Puskesmas Ubud II sebanyak 5 orang. “Totalnya sampai saat ini 25 orang, karena 1 orang sudah dirujuk ke RSUP Sanglah,” paparnya.

Baca Juga :  Motor Dicegat di Kuta, Dikeroyok Debt Collector Hingga Berujung Maut

Anak ODHA yang  dirujuk ke RSUP Sanglah, kata dia karena adanya indikasi gagal pengobatan dengan tanda-tanda akan sering sakit, berat badan tidak kunjung meningkat dan hasil pemeriksaan Viral Load masih tinggi.  Untuk anak yang positif HIV,  di sarana pelayanan kesehatan diberikan tatalaksana seperti mengkaji status nutrisi dan pertumbuhan, pemberian vitamin A berkala, dan tanda infeksi oportunistik dan pajanan TB. Diberikan pengobatan bila mengalami Infeksi Oportunistik sebelum pemberian ART (Antiretroviral Terapi) sebagai pengobatan HIV.

“Keberhasilan pengobatan ART pada anak memerlukan kerjasama pengasuh atau orang tua, karena mereka harus memahami tujuan pengobatan, mematuhi program pengobatan dan pentingnya kontrol,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/