Minggu, 24 Oct 2021
Bali Express
Home / Bali
icon featured
Bali

Jelang Pariwisata Mancanegara Dibuka, PHRI Sebut Belum Ada Booking

11 Oktober 2021, 21: 18: 56 WIB | editor : Nyoman Suarna

Jelang Pariwisata Mancanegara Dibuka, PHRI Sebut Belum Ada Booking

Wakil Ketua Bidang Budaya, Lingkungan dan Humas Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya (Dok.Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Jelang pembukaan pariwisata internasional 14 Oktober, Wakil Ketua Bidang Budaya, Lingkungan dan Humas Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya menyebutkan belum ada bookingan masuk dari lima negara yang menjadi sasaran. Hal ini menurutnya, dikarenakan kebijakan mesti karantina selama delapan hari setibanya turis mancanegara itu di Bali.

“Belum, belum ada (yang booking). Yang jadi kendala adalah masalah karantina, karena ada negara seperti Thailand, Maldives, Dubai, Sri Lanka, without quarantine,” katanya saat dikonfirmasi Senin (11/10). “Jadi tourism destination not only Bali, jadi tujuan pariwisata dunia itu tidak hanya Bali saja. Kita bersaing dengan negara-negara lain. Kalau sekarang misalnya, ke Bali karantina delapan hari atau lima hari, kalau ke Thailand tanpa karantina, mendingan ke Thailand toh?” sambungnya.

Meski santer diberitakan bahwa masa karantina diturunkan menjadi lima hari, pihaknya mengaku belum menerima surat edaran terkait putusan tersebut. Namun, jika memang diturunkan menjadi lima hari, ia menilai itu akan masih menjadi kendala bagi wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Bali. “Masih menjadi kendala menurut saya, karena lima hari masih terlalu panjang. Mungkin tiga hari masih would be consident. Kalau tiga hari mungkin bisa, sehingga hari keempat mereka bisa jalan-jalan ke tempat destinasi,” kata pria yang sekaligus Ketua PHRI Badung ini.

Baca juga: PMI Buleleng Harapkan Adanya Mesin Apheresis

Sebab, saat ini pangsa pasar pariwisata internasional Bali dibuka untuk Asian market. Yang mana, yang masuk ke dalam Asian market seperti Jepang, Korea, China, termasuk Dubai dan New Zealand memiliki karakteristik liburan rata-rata hanya seminggu. “Kalau lima hari dia karantina, efektifnya kan cuma dua hari (untuk liburan). Apakah mereka mau? Itu persoalannya. Kalau tiga hari masih bagus, tapi tetap kita aman, meyakinkan, jadi mereka juga tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk karantina,” jelasnya.

Pasalnya, untuk delapan hari karantina, para wisman digadang-gadang harus merogoh kocek sedalam Rp 25 juta. Dan harga itu dinilai cukup tinggi. Padahal, kata dia, wisman yang bisa berkunjung ke Bali sudah pasti hasil PCR-nya negatif, sehingga karantina selama delapan hari terlalu memberatkan. “Karena mereka negatif kok, mau datang ke Bali sebelum berangkat (dites, hasilnya) negatif, sampai sini negatif, kenapa orang negatif dikarantina? Kan sesuai prokes dia, sekarang kenapa wisatawan domestik tidak ada karantina?” tuturnya.

Sementara itu, disinggung terkait adanya penambahan hotel untuk karantina wisman, pihaknya mengaku belum mendapat informasi tersebut. Bahkan, untuk 62 hotel yang mengajukan verifikasi pada tahap kedua belum diverifikasi. “Nah ini, belum kami lakukan verifikasi, belum. Lagi yang 62 belum kami verifikasi, yang 35 saja belum tentu pakai semua. Jika memang ada penambahan, harus ada koordinasi dengan PHRI, Dinas Pariwisata, Satgas, dan KKP. Sekarang kan kita tidak tahu, ada tamu nggak yang datang kalau karantinanya delapan hari?” katanya.(ika)

(bx/ras/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia