alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Jerinx Serahkan Memori Banding Setebal 72 Halaman

DENPASAR, BALI EXPRERSS – I Gede Ari Astina alias Jerinx melalui kuasa hukumnya, Wayan Gendo Suardana dkk, Jumat (11/12) menyerahkan memori banding paska putusan 14 bulan  dalam kasus “IDI Kacung WHO”. Memori banding yang diserahkan melalui panitera PN Denpasar itu jumlahnya 72 halaman. Berbeda dengan memori banding tim jaksa penuntut umum (JPU) yang cuma tujuh halaman. “Kami lengkapi dengan catatan notulensi persidangan,” kata Wayan Gendo Suardana.

Kata mantan aktivis 98 itu, pihaknya sengaja menyertakan catatan notulensi persidangan lantaran penasehat hukum melihat ada banyak keterangan saksi maupun ahli diabaikan hakim dalam menjatuhkan putusan. “Hanya yang memberatkan terdakwa dimasukkan, sedangkan yang meringankan dibuang, makanya kami lengkapi dengan ini,”katanya.

Gendo memaparkan, salah satu poin penting dalam memori bandingnya adalah soal hubungan konseptual antara IDI dan WHO yang kemudian dimaknai  IDI kacung WHO, dalam konteks anggota IDI menjalankan rekomendasi WHO dalam prosedur rapid test. “Yang dalam praktiknya bertentangan dengan kode etik dokter Indonesia yang harusnya mengutamakan keselamatan pasien,” ujarnya.

Terlebih lagi, kata Gendo, dalam putusan majelis hakim yang diketuai Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi itu, tidak mempertimbangkan alat bukti seperti SOP wajib rapid test berasal dari WHO hilang, serta surat yang menunjukkan adanya hubungan konseptual IDI dan WHO. “Sehingga pertimbangan hakim Jerinx mengatakan IDI kacung WHO bukan fakta atau fitnah,” katanya.

Pun, keterangan meringankan bagi Jerinx tidak menjadi pertimbangan. “Seperti latar belakang sosok Jerinx yang anti rasis humanis. Tidak pernah melakukan advokasi kebencian kepada dokter. Itu tidak masuk, padahal penting. Artinya, terlepas ujaran kebencian, kami melihat hakim belum memahami makna ujaran kebencian,” ungkapnya.

Ujaran biasa dan ujaran kebencian, imbuh Gendo, kembali ke niatnya. “Ujaran kebencian bentuknya bisa fitnah penghinaan, iya. Tapi, tidak setiap penghinaan, setiap ujaran berkobar yang didalamnya mengandung kata kasar adalah ujaran kebencian, itu tidak begitu,” katanya.


DENPASAR, BALI EXPRERSS – I Gede Ari Astina alias Jerinx melalui kuasa hukumnya, Wayan Gendo Suardana dkk, Jumat (11/12) menyerahkan memori banding paska putusan 14 bulan  dalam kasus “IDI Kacung WHO”. Memori banding yang diserahkan melalui panitera PN Denpasar itu jumlahnya 72 halaman. Berbeda dengan memori banding tim jaksa penuntut umum (JPU) yang cuma tujuh halaman. “Kami lengkapi dengan catatan notulensi persidangan,” kata Wayan Gendo Suardana.

Kata mantan aktivis 98 itu, pihaknya sengaja menyertakan catatan notulensi persidangan lantaran penasehat hukum melihat ada banyak keterangan saksi maupun ahli diabaikan hakim dalam menjatuhkan putusan. “Hanya yang memberatkan terdakwa dimasukkan, sedangkan yang meringankan dibuang, makanya kami lengkapi dengan ini,”katanya.

Gendo memaparkan, salah satu poin penting dalam memori bandingnya adalah soal hubungan konseptual antara IDI dan WHO yang kemudian dimaknai  IDI kacung WHO, dalam konteks anggota IDI menjalankan rekomendasi WHO dalam prosedur rapid test. “Yang dalam praktiknya bertentangan dengan kode etik dokter Indonesia yang harusnya mengutamakan keselamatan pasien,” ujarnya.

Terlebih lagi, kata Gendo, dalam putusan majelis hakim yang diketuai Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi itu, tidak mempertimbangkan alat bukti seperti SOP wajib rapid test berasal dari WHO hilang, serta surat yang menunjukkan adanya hubungan konseptual IDI dan WHO. “Sehingga pertimbangan hakim Jerinx mengatakan IDI kacung WHO bukan fakta atau fitnah,” katanya.

Pun, keterangan meringankan bagi Jerinx tidak menjadi pertimbangan. “Seperti latar belakang sosok Jerinx yang anti rasis humanis. Tidak pernah melakukan advokasi kebencian kepada dokter. Itu tidak masuk, padahal penting. Artinya, terlepas ujaran kebencian, kami melihat hakim belum memahami makna ujaran kebencian,” ungkapnya.

Ujaran biasa dan ujaran kebencian, imbuh Gendo, kembali ke niatnya. “Ujaran kebencian bentuknya bisa fitnah penghinaan, iya. Tapi, tidak setiap penghinaan, setiap ujaran berkobar yang didalamnya mengandung kata kasar adalah ujaran kebencian, itu tidak begitu,” katanya.


Most Read

Artikel Terbaru

/