alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Harga Daging Babi Melonjak, PHMI Sebut Bukan Ulah Peternak

DENPASAR, BALI EXPRESS – Melonjaknya harga daging babi jelang perayaan hari suci Galungan, bukanlah kapasitas dari peternak babi sendiri. Pasalnya, harga daging babi naik setelah dilakukan pemotongan,  sedangkan harga babi hidup tidak ada kenaikan signifikan. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Sektretaris Perkumpulan Peternak Hewan Monogastrik Indonesia  (PHMI) Putu Ria Wijayanti, Senin (12/4). 

Dalam kesempatan itu, Ria Wijayanti menjelaskan, memang sangat lumrah setiap Galungan dan Kuningan harga daging babi naik. Sedangkan harga babi yang masih hidup tidak ada kenaikan yang melonjak. 

“Harga babi hidup tidak ada kenaikan tajam, masih sekitaran Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram, tidak ada naik. Mungkin pas momennya dimanfaatkan oleh penjual dagingnya atau pasar,” jelasnya. 

Baca Juga :  Empat Pintu Masuk Banjar Munduk Dijaga Ketat

Peternak babi berparas ayu ini, juga menyampaikan harga daging babi diibaratkan seperti lonjakan yang lainnya, seperti janur dan bunga. Saat hari raya tengkulak atau dagang memanfaatkan momen menaikkan harga. “Jadi tidak ada lonjakan harga di babi hidup. Perlu masyarakat tahu agar tidak jadi polemik peternak dan masyarakat. Harga naik setelah olahan babi dipotong, tidak ada kapasitas peternak di sana,” sambungnya. 

Disinggung apakah lonjakan daging babi dampak dari populasi babi yang sedikit? Ria Wijayanti pun mengaku populasi selama ini masih mencukupi. Sepengetahuannya setelah  keliling tidak ada istilah jagal sampai tidak dapat barang atau babi. Babi hingga saat ini masih ada dan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :  Kunjungi Penyandang Disabilitas, Suiasa Bantu Kursi Roda

“Populasi menurut saya saat ini memang tidak ada kekurangan,  masyarakat juga bisa lebih hemat dengan mapatung. Karena tidak ada peternak memanfaatkan momen, yang ada lonjakan harga daging babi di luar kapasitas si peternak,” tandas Ria Wijayanti. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Melonjaknya harga daging babi jelang perayaan hari suci Galungan, bukanlah kapasitas dari peternak babi sendiri. Pasalnya, harga daging babi naik setelah dilakukan pemotongan,  sedangkan harga babi hidup tidak ada kenaikan signifikan. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Sektretaris Perkumpulan Peternak Hewan Monogastrik Indonesia  (PHMI) Putu Ria Wijayanti, Senin (12/4). 

Dalam kesempatan itu, Ria Wijayanti menjelaskan, memang sangat lumrah setiap Galungan dan Kuningan harga daging babi naik. Sedangkan harga babi yang masih hidup tidak ada kenaikan yang melonjak. 

“Harga babi hidup tidak ada kenaikan tajam, masih sekitaran Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram, tidak ada naik. Mungkin pas momennya dimanfaatkan oleh penjual dagingnya atau pasar,” jelasnya. 

Baca Juga :  Tukar Sampah Plastik Dapat Beras Makin Gencar di Gianyar

Peternak babi berparas ayu ini, juga menyampaikan harga daging babi diibaratkan seperti lonjakan yang lainnya, seperti janur dan bunga. Saat hari raya tengkulak atau dagang memanfaatkan momen menaikkan harga. “Jadi tidak ada lonjakan harga di babi hidup. Perlu masyarakat tahu agar tidak jadi polemik peternak dan masyarakat. Harga naik setelah olahan babi dipotong, tidak ada kapasitas peternak di sana,” sambungnya. 

Disinggung apakah lonjakan daging babi dampak dari populasi babi yang sedikit? Ria Wijayanti pun mengaku populasi selama ini masih mencukupi. Sepengetahuannya setelah  keliling tidak ada istilah jagal sampai tidak dapat barang atau babi. Babi hingga saat ini masih ada dan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :  Pelaku Penggandaan Uang asal Jember Ditangkap di Bresela

“Populasi menurut saya saat ini memang tidak ada kekurangan,  masyarakat juga bisa lebih hemat dengan mapatung. Karena tidak ada peternak memanfaatkan momen, yang ada lonjakan harga daging babi di luar kapasitas si peternak,” tandas Ria Wijayanti. 


Most Read

Artikel Terbaru

/