alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Jelang Galungan, Warga Asahduren ‘Nampah’ Kebo

NEGARA, BALI EXPRESS – Warga Desa Asahduren, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana melaksanakan tradisi mapatung nampah (potong) kebo jelang hari Raya Galungan, Senin (12/4). Meski saat ini kondisi dalam situasi pandemi Covid-19, namun tradisi turun-temurun itu tetap dijalankan.

Bendesa Adat Asahduren I Kadek Suentra mengatakan, mapatung dengan nampah kebo itu merupakan tradisi turun-temurun dari pendahulu zaman dahulu. Awalnya saat itu mereka mapatung kebo karena beberapa Pura di Asahduren tidak menggunakan sarana persembahan berupa daging babi saat hari Raya Galungan. 

Sehingga saat itu, para pendahulu mengganti daging babi menggunakan daging kebo atau ayam. “Dari sana tradisi itu turun-temurun hingga saat ini masih kami lestarikan,” ujarnya.

Baca Juga :  Pelaku Pencabulan Anak di Bawah Umur Diganjar 15 Tahun

Untuk meringankan beban warga, Suentra menambahkan dalam pembelian satu ekor kebo, warga Desa Asahduren membentuk kelompok-kelompok dengan jumlah anggota 25 sampai 30 orang. “Anggota kelompok itu tiap bulannya menabung, dan ketika Galungan tiba, dana tabungan mereka dipotong untuk patungan membeli kebo,” imbuhnya.

Berbeda dengan perayaan Galungan tahun sebelumnya.  Dikarenakan situasi pandemi Covid-19, jumlah kebo yang dipotong jelang Galungan hanya  lima ekor saja. Jumlah itu jauh berkurang dibandingkan saat sebelum pandemi Covid-19. “Sekarang hanya 5 ekor, kalau  sebelum pendemi bisa sampai puluhan,” terangnya.

Selain dipergunakan untuk sarana upacara yang dipersembahkan saat persembahyangan Galungan, warga juga mengolah sebagian daging kebo untuk dikonsumsi. Seperti digoreng kering, dibuat sate lilit, tum (pepes) hingga rawon kebo. “Tidak semua dipakai sarana upacara, sebagian dimasak untuk dikonsumsi keluarga masing-masing,” pungkasnya. 

Baca Juga :  Pertama Kali, RSD Mangusada Gelar Operasi Cochlear Implant


NEGARA, BALI EXPRESS – Warga Desa Asahduren, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana melaksanakan tradisi mapatung nampah (potong) kebo jelang hari Raya Galungan, Senin (12/4). Meski saat ini kondisi dalam situasi pandemi Covid-19, namun tradisi turun-temurun itu tetap dijalankan.

Bendesa Adat Asahduren I Kadek Suentra mengatakan, mapatung dengan nampah kebo itu merupakan tradisi turun-temurun dari pendahulu zaman dahulu. Awalnya saat itu mereka mapatung kebo karena beberapa Pura di Asahduren tidak menggunakan sarana persembahan berupa daging babi saat hari Raya Galungan. 

Sehingga saat itu, para pendahulu mengganti daging babi menggunakan daging kebo atau ayam. “Dari sana tradisi itu turun-temurun hingga saat ini masih kami lestarikan,” ujarnya.

Baca Juga :  Kuatkan SDM Pariwisata, Dispar Badung Gelar Pelatihan

Untuk meringankan beban warga, Suentra menambahkan dalam pembelian satu ekor kebo, warga Desa Asahduren membentuk kelompok-kelompok dengan jumlah anggota 25 sampai 30 orang. “Anggota kelompok itu tiap bulannya menabung, dan ketika Galungan tiba, dana tabungan mereka dipotong untuk patungan membeli kebo,” imbuhnya.

Berbeda dengan perayaan Galungan tahun sebelumnya.  Dikarenakan situasi pandemi Covid-19, jumlah kebo yang dipotong jelang Galungan hanya  lima ekor saja. Jumlah itu jauh berkurang dibandingkan saat sebelum pandemi Covid-19. “Sekarang hanya 5 ekor, kalau  sebelum pendemi bisa sampai puluhan,” terangnya.

Selain dipergunakan untuk sarana upacara yang dipersembahkan saat persembahyangan Galungan, warga juga mengolah sebagian daging kebo untuk dikonsumsi. Seperti digoreng kering, dibuat sate lilit, tum (pepes) hingga rawon kebo. “Tidak semua dipakai sarana upacara, sebagian dimasak untuk dikonsumsi keluarga masing-masing,” pungkasnya. 

Baca Juga :  Pertama Kali, RSD Mangusada Gelar Operasi Cochlear Implant


Most Read

Artikel Terbaru

/