25.4 C
Denpasar
Thursday, June 8, 2023

Dari 40 Petani Porang di Gianyar, Baru Tiga yang Lahannya Bersertifikat GAP

GIANYAR, BALI EXPRESS – Sejak mulai dikembangkan oleh sejumlah masyarakat di Kabupaten Gianyar pada masa pandemic Covid-19 tahun lalu, hingga saat ini tanaman porang yang ditanam masih belum ada yang memasuki masa panen.

 

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Wayan Suarta, menjelaskan bahwa hingga saat ini ada 36 hektar lahan yang dikembangkan untuk tanaman Porang di Gianyar. Menurutnya luasan tersebut masih terbilang sedikit apabila dibandingkan dengan Kabupaten Buleleng dan Karangasem. “Kalau Buleleng dan Karangasem hampir menyentuh luasan pengembangan seribuan hektar,” ungkapnya Kamis (12/5).

 

Sementara untuk di Kabupaten Gianyar daerah yang mengembangkan tanaman porang ini ada di Kecamatan Payangan, Tegallalang, Gianyar dan Blahbatuh. Dimana total 36 hektar lahan yang mengembangkan porang itu digarap oleh 40 orang petani.

Baca Juga :  Dagang Nasi Campur Langganan Pasien Meninggal Positif Covid-19

 

Disamping itu, dari puluhan petani itu baru ada tiga orang petani saja yang lahannya mendapatkan sertifikat atau lisensi tanaman porang.  Lebih lanjut, Suarta menerangkan jika sertifikat tersebut penting, karena selain terdaftar sebagai petani porang, penjualannya pun tidak dihambat dan mendapat harga yang memadai. “Tapi baru tiga petani yang punya sertifikat ini,” imbuhnya.

 

Pada awal pengembangan tanaman Porang meledak, ia menyebutkan jika  harga umbi perkilo sempat menyentuh harga Rp 14.000/kg. Namun saat ini pasaran rata-rata sekitar Rp 3.000/kg. “Fluktuasi harga ekstrim ini juga menyebabkan beberapa petani masih enggan menanam karena faktor harga,” sebutnya.

 

Kendatipun demikian, Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar tetap memberikan jalan kepada petani pemula dengan mendaftarkan lahan agar mendapat good agriculture practice (GAP). Sebab dengan mendapat sertifikat GAP ini selain lahan mendapat jaminan mutu, juga akan menjamin keamanan saat pasca panen dengan kepastian harga.

Baca Juga :  Jelang Karya, Lingga Yoni Muncul Secara Misterius di Kedisan

 

“Persyaratan untuk mendapatkan sertifikat GAP adalah telah memiliki nomor ijin usaha (NIB), memahami pengolahan lahan sesuai GAP, melakukan pencatatan dalam pengembangan Porang. Dan kami di Dinas pertanian siap memfasilitasi petani yang mengajukan GAP,” pungkasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Sejak mulai dikembangkan oleh sejumlah masyarakat di Kabupaten Gianyar pada masa pandemic Covid-19 tahun lalu, hingga saat ini tanaman porang yang ditanam masih belum ada yang memasuki masa panen.

 

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Wayan Suarta, menjelaskan bahwa hingga saat ini ada 36 hektar lahan yang dikembangkan untuk tanaman Porang di Gianyar. Menurutnya luasan tersebut masih terbilang sedikit apabila dibandingkan dengan Kabupaten Buleleng dan Karangasem. “Kalau Buleleng dan Karangasem hampir menyentuh luasan pengembangan seribuan hektar,” ungkapnya Kamis (12/5).

 

Sementara untuk di Kabupaten Gianyar daerah yang mengembangkan tanaman porang ini ada di Kecamatan Payangan, Tegallalang, Gianyar dan Blahbatuh. Dimana total 36 hektar lahan yang mengembangkan porang itu digarap oleh 40 orang petani.

Baca Juga :  PPKM, Proyek Pasar Gianyar Jalan Terus, Pekerja Rutin Diberi Vitamin

 

Disamping itu, dari puluhan petani itu baru ada tiga orang petani saja yang lahannya mendapatkan sertifikat atau lisensi tanaman porang.  Lebih lanjut, Suarta menerangkan jika sertifikat tersebut penting, karena selain terdaftar sebagai petani porang, penjualannya pun tidak dihambat dan mendapat harga yang memadai. “Tapi baru tiga petani yang punya sertifikat ini,” imbuhnya.

 

Pada awal pengembangan tanaman Porang meledak, ia menyebutkan jika  harga umbi perkilo sempat menyentuh harga Rp 14.000/kg. Namun saat ini pasaran rata-rata sekitar Rp 3.000/kg. “Fluktuasi harga ekstrim ini juga menyebabkan beberapa petani masih enggan menanam karena faktor harga,” sebutnya.

 

Kendatipun demikian, Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar tetap memberikan jalan kepada petani pemula dengan mendaftarkan lahan agar mendapat good agriculture practice (GAP). Sebab dengan mendapat sertifikat GAP ini selain lahan mendapat jaminan mutu, juga akan menjamin keamanan saat pasca panen dengan kepastian harga.

Baca Juga :  Hendak Menyalip Truk, Mobil Pikap Terjun ke Sawah

 

“Persyaratan untuk mendapatkan sertifikat GAP adalah telah memiliki nomor ijin usaha (NIB), memahami pengolahan lahan sesuai GAP, melakukan pencatatan dalam pengembangan Porang. Dan kami di Dinas pertanian siap memfasilitasi petani yang mengajukan GAP,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru