alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Di Rumah Saja, ST Satya Dharma Yowana Gelar Lomba Layangan “Ngibur”

DENPASAR, BALI EXPRESS –  ST Satya Dharma Yowana, Banjar Pagan Kelod, Denpasar, Minggu (12/7), menggelar lomba layangan tardisional bertajuk “Ngibur” (menghibur diri, Red). Lomba layangan jenis bebean dan celepuk ini dalam rangka mengikuti imbauan pemerintah memasuki masa New Normal agar tetap “Di rumah saja”.

Empat bulan masa pandemic yang tidak kunjung tuntas, membuat warga masyarakat dilanda kejenuhan, tak terkecuali warga Banjar Pagan Kelod, Desa Sumerta Kauh, Denpasar. Menghilangkan rasa jenuh untuk tetap di rumah saja meski memasuki New Normal, ST Satya Dharma Yowana, Banjar Pagan Kelod, Denpasar menggelar lomba layangan untuk warga di lingkungan banjar setempat.

Tidak seperti lomba layangan pada umumnya yang digelar di sebuah tempat lapang dan mengundang kerumunan atau keramian. Lomba layangan ini dilakukan dari masing-masing rumah peserta. Maksudnya, layangan tersebut dinaikkan dari rumah masing-masing peserta, kemudian para juri berkeliling untuk memberi penilaian layangan yang terbaik.

Ketua ST Satya Dharma Yowana Putu Aditya Rama Wijaya mengatakan, lomba pada masa New Normal tetap mengikuti anjuran pemerintah untuk mencegah kerumunan dalam upaya memutus mata rantai virus. “Kami menghindari warga agar tidak berkumpul, sehingga layangan dinaikkan dari masing-masing rumah peserta. Kemudian kami beserta para juri berkeliling di seputaran jalan untuk memantau layangan peserta,” jelasnya.

Lomba layangan ini diikuti 126 peserta, di antaranya 84 jenis layangan celepuk (burung hantu) dan 42 jenis bebean. Dari masing-masing jenis, dipilih enam pemenang dari juara satu hingga harapan tiga dengan total hadiah jutaan rupiah.

Ada beberapa kriteria yang menjadi penilaian para juri, di antaranya bentuk layangan, kombinasi warna, elog dan kondisi layangan saat dinaikkan.

Dalam lomba yang berlangsung dari pukul 12.00 hingga pukul 17.00 Wita tersebut, banyak layangan yang gugur akibat mebandung (menyatu satu sama lain ), putus, terjatuh hingga patah. Meski demikian, lomba berjalan lancar dan mendapat sambutan antusias warga. “Lomba ini hanya untuk hiburan di tengah kejenuhan mereka mengikuti anjuran pemerintah agar tetap di rumah saja, meski memasuki masa New Normal. Selain itu, juga untuk pelestarian budaya bermain layangan sekaligus imbauan agar memperhatikan aturan-aturan bermain layangan yang belakangan dituding menimbulkan masalah kecelakaan lalu lintas dan mengganggu penerbangan,” tandasnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS –  ST Satya Dharma Yowana, Banjar Pagan Kelod, Denpasar, Minggu (12/7), menggelar lomba layangan tardisional bertajuk “Ngibur” (menghibur diri, Red). Lomba layangan jenis bebean dan celepuk ini dalam rangka mengikuti imbauan pemerintah memasuki masa New Normal agar tetap “Di rumah saja”.

Empat bulan masa pandemic yang tidak kunjung tuntas, membuat warga masyarakat dilanda kejenuhan, tak terkecuali warga Banjar Pagan Kelod, Desa Sumerta Kauh, Denpasar. Menghilangkan rasa jenuh untuk tetap di rumah saja meski memasuki New Normal, ST Satya Dharma Yowana, Banjar Pagan Kelod, Denpasar menggelar lomba layangan untuk warga di lingkungan banjar setempat.

Tidak seperti lomba layangan pada umumnya yang digelar di sebuah tempat lapang dan mengundang kerumunan atau keramian. Lomba layangan ini dilakukan dari masing-masing rumah peserta. Maksudnya, layangan tersebut dinaikkan dari rumah masing-masing peserta, kemudian para juri berkeliling untuk memberi penilaian layangan yang terbaik.

Ketua ST Satya Dharma Yowana Putu Aditya Rama Wijaya mengatakan, lomba pada masa New Normal tetap mengikuti anjuran pemerintah untuk mencegah kerumunan dalam upaya memutus mata rantai virus. “Kami menghindari warga agar tidak berkumpul, sehingga layangan dinaikkan dari masing-masing rumah peserta. Kemudian kami beserta para juri berkeliling di seputaran jalan untuk memantau layangan peserta,” jelasnya.

Lomba layangan ini diikuti 126 peserta, di antaranya 84 jenis layangan celepuk (burung hantu) dan 42 jenis bebean. Dari masing-masing jenis, dipilih enam pemenang dari juara satu hingga harapan tiga dengan total hadiah jutaan rupiah.

Ada beberapa kriteria yang menjadi penilaian para juri, di antaranya bentuk layangan, kombinasi warna, elog dan kondisi layangan saat dinaikkan.

Dalam lomba yang berlangsung dari pukul 12.00 hingga pukul 17.00 Wita tersebut, banyak layangan yang gugur akibat mebandung (menyatu satu sama lain ), putus, terjatuh hingga patah. Meski demikian, lomba berjalan lancar dan mendapat sambutan antusias warga. “Lomba ini hanya untuk hiburan di tengah kejenuhan mereka mengikuti anjuran pemerintah agar tetap di rumah saja, meski memasuki masa New Normal. Selain itu, juga untuk pelestarian budaya bermain layangan sekaligus imbauan agar memperhatikan aturan-aturan bermain layangan yang belakangan dituding menimbulkan masalah kecelakaan lalu lintas dan mengganggu penerbangan,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/