alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Bisa Tingkatkan Imun, Madu Kele-kele Jadi Incaran di Tengah Pandemi

GIANYAR, BALI EXPRESS – Selain suplemen makanan dan vitamin, madu menjadi salah satu hal yang diburu masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh di tengah pandemo Covid-19. Termasuk madu kele-kele asli produksi Agrowisata Royal Honey Sakah, di Banjar Sakah, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Gianyar.

Pemilik Royal Honey Sakah, I Wayan Wahyudi, asal Banjar Batuaji, Desa Batubulan Kangin, Kecamatan Sukawati, Gianyar, ini menjelaskan bahwa madu kele-kele tersebut ia olah di agrowisata miliknya. Dimana agrowisata tersebut terbuka untuk edukasi terkait proses beternak lebah hingga menghasilkan madu. “Kalau ada pelanggan yang datang, biasanya kita ajak berkeliling, biar mereka paham apa yang dikonsumsi, apalagi kalau mereka menjual kembali ke konsumen,” ungkapnya Senin (12/7).

Pria yang juga Dosen Taksonomi Hewan Jurusan Biologi UNHI Denpasar ini menambahkan jika setelah hampir 1,5 tahun masa pandemi, permintaan madu semakin tinggi. Bahkan ia kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar. “Kami cukup kewalahan untuk menyediakan stok, terutama madu levis lokal. Maka dari itu kami kerjasama dengan petani lebah di Bali dan luar Bali,” bebernya sembari mengatakan jika ia kini memiliki cukup banyak reseller di seluruh Bali.

Menurutnya terbatasnya stok madu disebabkan oleh madu yang bisa dipanen secara musiman. Yakni dalam sebulan rata-rata memproduksi sekitar 500 kilogram madu dan dari jumlah tersebut, madu yang dihasilkan bervariasi tergantung kadar air dan masa jenis madu. “Misalkan madu lebah seberat 1 kilogram itu bisa jadi mendapatkan 800 liter sampai 850 liter levis,” sambungnya.

Terbatasnya stok madu, kata dia karena madu bisa dipanen secara musiman. Dalam sebulan rata-rata memproduksi sekitar 500 Kilogram madu. Dari jumlah tersebut, madu yang dihasilkan bervariasi. “Tergantung kadar air dan masa jenis madu. Misalnya madu lebah seberat 1 Kilogram bisa jadi mendapatkan 800 liter sampai 850 liter levis,” jelas lulusan S3 Ilmu Peternakan Unud ini.

Sehingga untuk menyiasati hal tersebut ia menyediakan pakan lebah berupa tanaman berbunga yang mencukupi. Selain itu, dirinya juga terus melakukan penambahan koloni-koloni baru dari kotak pembudidayaan ke kotak siap panen. Ada dua kemasan madu yang dijual ke pasaran. Ukuran 500 ml seharga Rp 400.000 dan ukuran 250 ml seharga Rp 200.000.

Dengan tingginya permintaan, Wahyudi pun memperkirakan omzet per bulan Agrowisata ini pada kisaran angka puluhan juta rupiah. Ia pun memastikan jika produk madunya sudah mengantongi perizinan lengkap termasuk sudah lolos uji lab.

Wahyudi sendiri membudidayakan beberapa jenis lebah antara lain Heterotrigona itama, Lebah Apis cerana (nyawan Bali), Lebah Trigona (Kele-kele), Tetragonula biroi dan Genio trigona thoracica. Selain madu, sengatan lebah miliknya juga sering dicari untuk menyembuhkan penyakit rematik. “Namanya apis puntur,” lanjutnya.

Kata dia tidak ada kendala berarti dalam budidaya lebah ini. Namun serangan hama tetap harus diwaspadai. “Karena serangan semut jenis “semaluh” dan cicak tidak bisa dianggap sepele. Koloni yang lemah akan cepat diserang semaluh. Begitu juga cicak, karena kele-kele itu memang makanan dari cicak. Dia stanbya di pintu masuk, hinggap mangsa. Koloni jadinya tidak bisa berkembang,” tandasnya. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Selain suplemen makanan dan vitamin, madu menjadi salah satu hal yang diburu masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh di tengah pandemo Covid-19. Termasuk madu kele-kele asli produksi Agrowisata Royal Honey Sakah, di Banjar Sakah, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Gianyar.

Pemilik Royal Honey Sakah, I Wayan Wahyudi, asal Banjar Batuaji, Desa Batubulan Kangin, Kecamatan Sukawati, Gianyar, ini menjelaskan bahwa madu kele-kele tersebut ia olah di agrowisata miliknya. Dimana agrowisata tersebut terbuka untuk edukasi terkait proses beternak lebah hingga menghasilkan madu. “Kalau ada pelanggan yang datang, biasanya kita ajak berkeliling, biar mereka paham apa yang dikonsumsi, apalagi kalau mereka menjual kembali ke konsumen,” ungkapnya Senin (12/7).

Pria yang juga Dosen Taksonomi Hewan Jurusan Biologi UNHI Denpasar ini menambahkan jika setelah hampir 1,5 tahun masa pandemi, permintaan madu semakin tinggi. Bahkan ia kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar. “Kami cukup kewalahan untuk menyediakan stok, terutama madu levis lokal. Maka dari itu kami kerjasama dengan petani lebah di Bali dan luar Bali,” bebernya sembari mengatakan jika ia kini memiliki cukup banyak reseller di seluruh Bali.

Menurutnya terbatasnya stok madu disebabkan oleh madu yang bisa dipanen secara musiman. Yakni dalam sebulan rata-rata memproduksi sekitar 500 kilogram madu dan dari jumlah tersebut, madu yang dihasilkan bervariasi tergantung kadar air dan masa jenis madu. “Misalkan madu lebah seberat 1 kilogram itu bisa jadi mendapatkan 800 liter sampai 850 liter levis,” sambungnya.

Terbatasnya stok madu, kata dia karena madu bisa dipanen secara musiman. Dalam sebulan rata-rata memproduksi sekitar 500 Kilogram madu. Dari jumlah tersebut, madu yang dihasilkan bervariasi. “Tergantung kadar air dan masa jenis madu. Misalnya madu lebah seberat 1 Kilogram bisa jadi mendapatkan 800 liter sampai 850 liter levis,” jelas lulusan S3 Ilmu Peternakan Unud ini.

Sehingga untuk menyiasati hal tersebut ia menyediakan pakan lebah berupa tanaman berbunga yang mencukupi. Selain itu, dirinya juga terus melakukan penambahan koloni-koloni baru dari kotak pembudidayaan ke kotak siap panen. Ada dua kemasan madu yang dijual ke pasaran. Ukuran 500 ml seharga Rp 400.000 dan ukuran 250 ml seharga Rp 200.000.

Dengan tingginya permintaan, Wahyudi pun memperkirakan omzet per bulan Agrowisata ini pada kisaran angka puluhan juta rupiah. Ia pun memastikan jika produk madunya sudah mengantongi perizinan lengkap termasuk sudah lolos uji lab.

Wahyudi sendiri membudidayakan beberapa jenis lebah antara lain Heterotrigona itama, Lebah Apis cerana (nyawan Bali), Lebah Trigona (Kele-kele), Tetragonula biroi dan Genio trigona thoracica. Selain madu, sengatan lebah miliknya juga sering dicari untuk menyembuhkan penyakit rematik. “Namanya apis puntur,” lanjutnya.

Kata dia tidak ada kendala berarti dalam budidaya lebah ini. Namun serangan hama tetap harus diwaspadai. “Karena serangan semut jenis “semaluh” dan cicak tidak bisa dianggap sepele. Koloni yang lemah akan cepat diserang semaluh. Begitu juga cicak, karena kele-kele itu memang makanan dari cicak. Dia stanbya di pintu masuk, hinggap mangsa. Koloni jadinya tidak bisa berkembang,” tandasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/